PARADAPOS.COM - Analis kebijakan publik, Muhammad Said Didu, menilai bahwa Presiden ke-7 RI Joko Widodo atau Jokowi memiliki keengganan besar untuk melepaskan kekuasaan yang telah dipegangnya selama periode 2014-2024. Pandangan ini disampaikan Said Didu dalam sebuah wawancara yang dikutip dari kanal YouTube Forum Keadilan TV, pada Jumat, 3 Juli 2026. Menurutnya, ambisi untuk tetap berkuasa telah mendorong sejumlah manuver politik yang kontroversial, mulai dari wacana perpanjangan masa jabatan hingga upaya mendorong sang putra, Gibran Rakabuming Raka, maju dalam kontestasi Pilpres 2024.
Wacana Tiga Periode dan Dukungan Parpol
Said Didu mengungkapkan bahwa keinginan Jokowi untuk tetap berkuasa sudah terlihat sejak awal masa pemerintahannya. "Bahkan saat masih berkuasa, Jokowi mencetuskan tiga periode," ujarnya.
Untuk merealisasikan ambisi tersebut, Jokowi disebut mengutus sejumlah ketua partai politik untuk menjadi sponsor. Beberapa nama yang disebut antara lain Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto, Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar, Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan, dan Ketua DPD RI AA Lanyalla Mahmud Mattalitti.
Namun, rencana tersebut kandas. Selain karena dibatasi oleh Pasal 7 Undang-Undang Dasar 1945 yang secara tegas membatasi masa jabatan presiden maksimal dua periode, wacana ini juga tidak mendapat restu dari Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri. "Selain itu tak direstui Megawati," kata Said Didu.
Strategi Politik dan Putusan MK
Setelah gagal dengan wacana tiga periode, Jokowi disebut memutar otak untuk mempertahankan pengaruh kekuasaannya. Strategi selanjutnya adalah dengan mendorong putra sulungnya, Gibran Rakabuming Raka, yang saat itu dinilai belum memenuhi syarat usia untuk maju sebagai calon wakil presiden di Pilpres 2024.
"Jokowi lalu paksakan anaknya lewat keputusan MK (Mahkamah Konstitusi). Apalagi Ketua MK Anwar Usman merupakan ipar Jokowi," ungkap Said Didu.
Pernyataan ini menyorot kontroversi yang mengiringi putusan Mahkamah Konstitusi yang mengubah syarat batas usia minimal calon presiden dan wakil presiden, yang pada akhirnya membuka jalan bagi Gibran untuk berpasangan dengan Prabowo Subianto. Langkah ini dinilai sebagai upaya untuk menjaga dinasti politik dan memastikan keberlanjutan pengaruh keluarga Jokowi di panggung kekuasaan nasional.
Editor: Bagus Kurnia
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Wacana Tiga Partai Parlemen untuk Usung Capres Dinilai Berpotensi Tersingkirkan Tokoh Potensial
Megawati Pimpin Rapat PDIP Bahas Mitigasi Krisis Akibat El Nino Sepanjang Tahun
Prabowo Peringatkan Polri: Jangan Arogan, Teruslah Perbaiki Diri
Prabowo Beri Hormat ke Jokowi di HUT ke-80 Bhayangkara, Momen Kehangatan Dua Presiden