Sampoerna Catat Laba Rp6,6 Triliun di Tengah Penurunan Volume Penjualan dan Tekanan Industri Tembakau

- Senin, 18 Mei 2026 | 13:50 WIB
Sampoerna Catat Laba Rp6,6 Triliun di Tengah Penurunan Volume Penjualan dan Tekanan Industri Tembakau
PARADAPOS.COM - PT HM Sampoerna Tbk menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) 2025 di Jakarta, Senin (18/5/2026). Dalam forum tahunan itu, perusahaan tembakau dengan kode emiten HMSP tersebut mengumumkan sejumlah capaian bisnis sepanjang tahun buku 2025. Volume penjualan tercatat sebanyak 79,4 miliar batang, dengan pangsa pasar yang masih bertengger di posisi puncak industri hasil tembakau Indonesia, yakni 30,7%. Laba bersih perusahaan disebut relatif stabil di angka Rp 6,6 triliun.

Kinerja Keuangan dan Strategi di Tengah Tekanan Pasar

Di tengah kondisi industri yang tidak mudah, Sampoerna mencatatkan peningkatan laba bruto sebesar 11,2% menjadi Rp 20,6 triliun. Presiden Direktur Sampoerna, Ivan Cahyadi, menjelaskan bahwa pencapaian ini tidak lepas dari strategi penetapan harga yang diterapkan perusahaan. "Strategi kami berfokus pada inovasi dan penguatan portofolio produk yang berorientasi pada konsumen dewasa untuk mempertahankan kepemimpinan di seluruh segmen di tengah dinamika industri yang terus berkembang. Kami juga terus menyeimbangkan pertumbuhan bisnis dengan memperkuat hilirisasi di industri tembakau serta berkontribusi pada penciptaan nilai di seluruh rantai pasok," ujar Ivan dalam keterangan tertulis. Ia menambahkan, laba bersih yang stabil mencerminkan fundamental bisnis yang kuat serta konsistensi dalam menjalankan fokus strategi perusahaan.

Industri Tembakau Nasional: Antara Daya Beli dan Rokok Ilegal

Perekonomian Indonesia pada tahun 2025 memang masih menunjukkan ketahanan. Namun, industri hasil tembakau (IHT) nasional tetap bergulat dengan sejumlah persoalan. Tekanan daya beli masyarakat yang berkelanjutan, tren perpindahan konsumen ke produk dengan harga lebih murah (down trading), serta maraknya peredaran rokok ilegal menjadi tantangan utama. "Kondisi ini tercermin dari kinerja IHT Nasional yang mengalami penurunan penjualan sekitar 3% dibandingkan tahun sebelumnya," tutur Ivan. Dampak paling signifikan, menurutnya, dirasakan oleh Rokok Golongan I. Segmen ini merupakan penyerap tenaga kerja terbesar sekaligus kontributor utama penerimaan cukai negara. Dalam enam tahun terakhir, pangsa pasarnya tergerus hingga sekitar 22 poin. Pada 2019, pangsa pasar Rokok Golongan I masih di angka 80%, namun pada Kuartal I 2026 angkanya sudah mendekati 50%. Penurunan ini juga tercermin pada volume penjualan Sampoerna pada Kuartal I 2026 yang turun 8,7%. Penurunan terbesar terjadi pada kategori Sigaret Kretek Tangan (SKT), segmen yang dikenal padat karya.

Kebijakan Cukai dan Nasib Segmen Padat Karya

Pemerintah memutuskan untuk tidak menaikkan tarif cukai pada 2026. Keputusan ini diapresiasi oleh Sampoerna. "Kami mengapresiasi keputusan Pemerintah untuk tidak menaikkan tarif cukai pada 2026 sebagai langkah strategis dalam menjaga stabilitas industri tembakau. Kebijakan ini, yang didukung oleh upaya pemerintah dalam pemberantasan rokok ilegal, memberi ruang pelaku industri legal untuk dapat terus berkontribusi terhadap penerimaan negara dan penciptaan lapangan kerja," ungkap Ivan. Meski demikian, ia menekankan bahwa penurunan pangsa pasar di segmen Rokok Golongan 1 yang terus berlanjut dan perlindungan terhadap segmen SKT yang padat karya perlu menjadi perhatian serius para pemangku kepentingan. "Namun, penurunan pangsa pasar di segmen Rokok Golongan 1 yang terus berlanjut dan perlindungan segmen SKT yang padat karya, perlu mendapatkan perhatian dari pemangku kepentingan. Dengan iklim usaha yang lebih kondusif, kami optimis dapat terus memperkuat ekosistem ekonomi nasional secara berkelanjutan," sambungnya.

Dukungan untuk Sigaret Kretek Tangan (SKT) dan Dampak Ekonominya

Sampoerna secara konsisten memperkuat portofolio SKT. Langkah ini diambil untuk menjaga mata pencaharian sekitar 70 ribu tenaga pelinting, yang sebagian besar adalah perempuan. Mereka bekerja di enam fasilitas produksi milik perusahaan serta 43 fasilitas produksi yang dimiliki dan dioperasikan oleh koperasi serta pengusaha daerah. Fasilitas-fasilitas itu tersebar di 35 kabupaten dan kota di Pulau Jawa. "Urgensi untuk menjaga keberlangsungan segmen ini semakin nyata mengingat hasil studi Universitas Airlangga yang mencatat efek ekonomi berganda hingga 3,8 kali lipat. Artinya, setiap Rp 1.000 aktivitas ekonomi yang dihasilkan fasilitas produksi SKT berpotensi menciptakan perputaran ekonomi sebesar Rp3.800 di masyarakat sekitar," ungkap Ivan. "Oleh karena itu, keterlibatan dan sinergi seluruh pemangku kepentingan menjadi penting dalam merumuskan kebijakan yang mendukung keberlanjutan industri tembakau nasional, khususnya di segmen SKT, guna menjaga ekosistem ekonomi daerah serta melindungi puluhan ribu lapangan kerja yang bergantung pada sektor ini," tambahnya.

Kontribusi Ekonomi dan Pengembangan SDM

Dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional, Sampoerna berupaya menciptakan nilai di seluruh rantai pasok. Perusahaan bermitra dengan lebih dari 22.500 petani tembakau dan cengkeh, bekerja sama dengan lebih dari 1,5 juta toko ritel, serta menciptakan sekitar 90.000 lapangan kerja di Indonesia. Berdasarkan studi Litbang Kompas pada 2025, dampak berganda dari aktivitas usaha Sampoerna mencapai sekitar Rp 204,1 triliun per tahun. Angka ini setara dengan sekitar 1% Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia, dengan rasio multiplier sebesar 1,7 kali. "Sejalan dengan kontribusi tersebut, Perseroan juga terus memperkuat pengembangan sumber daya manusia sebagai kunci pertumbuhan berkelanjutan melalui berbagai inisiatif pelatihan, pengembangan talenta, serta program pembinaan dengan pengusaha UMKM lokal di seluruh Indonesia," jelas Ivan. Beberapa program yang telah berjalan antara lain Sampoerna Retail Community (SRC) yang diluncurkan pada 2008. Program ini telah membina 250.000 toko kelontong di seluruh Indonesia dan menghasilkan total omzet Rp 251 triliun per tahun, setara dengan 9,46% PDB Retail Nasional 2025. Ada pula Sampoerna Entrepreneurship Training Center (SETC) yang dimulai sejak 2007 dan telah menjangkau lebih dari 108.000 pelaku UMKM. "Sampoerna Karya Bangsa yang memiliki berbagai program pengembangan kapasitas, termasuk program HOPE yang telah melibatkan lebih dari 9.000 peserta dan pelatihan vokasional dengan lebih dari 1.500 peserta," ungkap Ivan. Dengan pengalaman lebih dari 112 tahun di Indonesia, Sampoerna terus memperkuat perannya sebagai bagian integral dari perekonomian nasional melalui inovasi, keberlanjutan, serta penciptaan nilai jangka panjang.

Dividen dan Perubahan Susunan Direksi

Dalam RUPST, Sampoerna juga mengumumkan pembagian dividen dari laba tahun buku 2025. Total dividen yang dibagikan sekitar Rp 6,55 triliun dari saldo laba perusahaan, dengan rasio pembayaran dividen sebesar 99,95% atau Rp 56,3 per saham. "Dalam RUPST, Sampoerna juga mengumumkan pembagian dividen dari laba tahun buku 2025 dengan total sekitar Rp 6,55 triliun dari saldo laba Perseroan dengan rasio pembayaran dividen sebesar 99,95% atau Rp 56,3 per saham, mencerminkan komitmen perusahaan terhadap pemegang saham," jelas Ivan. Selain itu, para pemegang saham menyetujui perubahan susunan direksi. RUPST menyetujui pengunduran diri Elvira Lianita dari jabatannya sebagai Direktur Perseroan, sehubungan dengan penunjukannya pada peran baru sebagai Vice President Corporate Affairs East & Southeast Asia, Pacific and PMI Global Travel Retail, Philip Morris Asia Limited. Perusahaan menyampaikan apresiasi atas kontribusi Elvira Lianita selama masa jabatannya. Sejalan dengan itu, RUPST juga menyetujui pengangkatan Joy Kartika Widjaja dan Virawaty sebagai anggota Direksi Perseroan, serta Umer Jawaid sebagai Direktur Perseroan yang menggantikan Johan Bink. Perubahan ini efektif sejak ditutupnya RUPST 2026. "Perubahan dalam jajaran Direksi ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan Perseroan untuk memastikan kepemimpinan yang solid dan relevan dengan dinamika bisnis. Kami menyampaikan terima kasih atas dedikasi Ibu Elvira Lianita dan Bapak Johan Bink serta mengucapkan selamat menjalankan tugas kepada Ibu Joy Kartika Widjaja, Ibu Virawaty, dan Bapak Umer Jawaid," tutup Ivan.

Editor: Rico Ananda

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar