PARADAPOS.COM - Iran secara resmi membentuk badan regulasi baru bernama Persian Gulf Strait Authority (PGSA) untuk mengawasi lalu lintas maritim di Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran paling vital di dunia. Langkah ini diumumkan pada Senin, 18 Mei 2026, melalui platform X di tengah meningkatnya ketegangan dengan Amerika Serikat dan sekutunya. Badan tersebut menyebut dirinya sebagai "entitas hukum dan otoritas perwakilan Republik Islam Iran untuk mengelola pelayaran dan transit melalui Selat Hormuz." PGSA memperingatkan bahwa seluruh kapal yang melintasi selat harus melakukan "koordinasi penuh" dengan otoritas militer dan pemerintah Iran, dan menegaskan bahwa lintasan tanpa izin akan dianggap ilegal.
Latar Belakang Pembentukan PGSA
Pembentukan PGSA bukanlah keputusan yang mendadak. Iran sebelumnya telah memasukkan tuntutan pengendalian maritim dan akses pelayaran melalui badan ini dalam proposal perdamaian 14 poin yang diajukan kepada Amerika Serikat. Namun, Presiden AS Donald Trump menolak proposal tersebut dan menyebutnya tidak dapat diterima. Iran kemudian mengirimkan proposal baru melalui mediator Pakistan, tetapi hingga saat ini belum mendapat tanggapan dari Washington. Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran turut memperkuat pengumuman ini dengan membagikan ulang pernyataan PGSA di media sosial.
Aturan Baru untuk Kapal yang Melintas
Media Iran seperti Tasnim dan Fars melaporkan bahwa PGSA akan mengawasi koordinasi pelayaran, jalur transit maritim, serta layanan terkait kapal yang melintasi Selat Hormuz. Kapal komersial kemungkinan diwajibkan mengikuti koridor pelayaran tertentu, memperoleh izin sebelum memasuki selat, serta menyerahkan data muatan dan awak kapal kepada otoritas Iran. Pejabat Iran juga memberi sinyal kemungkinan penerapan biaya layanan bagi kapal yang menggunakan jalur tersebut.
Ketua Komite Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri parlemen Iran, Ebrahim Azizi, mengatakan mekanisme itu dibentuk berdasarkan "kedaulatan nasional" Iran.
"Jalur ini akan tetap tertutup bagi operator proyek yang disebut sebagai 'freedom project'," tulis Azizi di X. Ia juga mengindikasikan hanya negara dan kapal yang bekerja sama dengan Iran yang akan mendapat manfaat dari pengaturan baru tersebut.
Dampak terhadap Pasar Energi Global
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur maritim paling sensitif di dunia yang menghubungkan Teluk Persia dengan jalur pelayaran internasional melalui Teluk Oman. Gangguan di selat sempit itu berdampak langsung terhadap pasar energi global karena sebagian besar pengiriman minyak dan gas dunia melintasi kawasan tersebut setiap hari. Ketegangan di sekitar Selat Hormuz meningkat tajam sejak pecahnya konflik Iran dan Amerika Serikat. Baik Teheran maupun Washington kini disebut sama-sama menerapkan blokade laut di kawasan tersebut.
Zona Operasional dan Kewenangan Hukum
Reuters sebelumnya melaporkan Iran memperluas zona operasional terkait Selat Hormuz dari Jask di timur hingga Pulau Siri di barat. Namun hingga kini Iran belum menjelaskan secara rinci struktur maupun kewenangan hukum dari PGSA. Ketidakjelasan ini menimbulkan tanda tanya di kalangan pengamat maritim internasional, terutama terkait bagaimana aturan baru ini akan ditegakkan dan apa implikasinya bagi kapal-kapal asing yang melintas.
Editor: Yoga Santoso
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Menteri ESDM Pastikan Tarif Listrik Tak Naik pada Triwulan II 2026
Tim Penyelam Spesialis Temukan Empat Jenazah Penyelam Italia yang Hilang di Gua Bawah Laut Maladewa
Pertamina dan ASRI Energi Edukasi Tanamkan Kesadaran Transisi Energi Lewat Program STEM di SMAN 40 Jakarta
Pimpinan Ponpes di Klaten Tersangka Pelecehan Seksual terhadap Dua Anak Kandung, Catatan Harian Korban Jadi Bukti Kunci