Massa Rusak Pusat Perawatan Ebola di Kongo Imbas Penolakan Keluarga terhadap Diagnosis Medis

- Jumat, 22 Mei 2026 | 18:25 WIB
Massa Rusak Pusat Perawatan Ebola di Kongo Imbas Penolakan Keluarga terhadap Diagnosis Medis
PARADAPOS.COM - Sebuah serangan terjadi di Kota Bunia, Provinsi Ituri, Republik Demokratik Kongo bagian timur, pada Kamis, 21 Mei 2026, ketika sekelompok demonstran menyerbu dan membakar tenda di pusat perawatan Ebola. Kerusuhan ini dipicu oleh penolakan keluarga korban terhadap laporan medis yang menyatakan kerabat mereka meninggal akibat virus Ebola, serta tuntutan mereka untuk memakamkan sendiri jenazah tersebut. Insiden ini kembali menyoroti kerentanan penanganan wabah di tengah ketidakpercayaan masyarakat dan tantangan keamanan yang berkepanjangan di wilayah tersebut.

Kerusuhan di Rumah Sakit Rwampara

Peristiwa berdarah itu terjadi di Rumah Sakit Rwampara, yang terletak di pinggiran ibu kota provinsi. Aksi massa bermula ketika keluarga korban menolak menerima diagnosis Ebola dan bersikeras untuk mengambil alih proses pemakaman. Pejabat lokal Luc Malembe menjelaskan bahwa situasi memanas saat permintaan mereka ditolak oleh pihak rumah sakit. "Polisi terpaksa menembakkan gas air mata dan tembakan peringatan untuk membubarkan massa," ungkap Malembe kepada wartawan di Kota Rwampara, Jumat, 22 Mei 2026. Dalam keterangannya, ia menyerukan peningkatan edukasi masyarakat mengenai Ebola. Menurutnya, pemahaman yang keliru tentang penyakit ini masih menjadi hambatan besar di wilayah yang selama ini juga bergulat dengan masalah keamanan serius.

Bayang-bayang Masa Lalu

Serangan terhadap fasilitas kesehatan di Kongo timur bukanlah hal baru. Insiden ini mengingatkan pada kejadian serupa pada tahun 2020, ketika sejumlah pusat kesehatan diserang oleh kelompok bersenjata dan warga sipil saat wabah Ebola 2018 melanda. Saat itu, ketidakpercayaan terhadap tenaga medis dan petugas kesehatan merajalela di kalangan masyarakat.

Wabah yang Meluas

Wabah Ebola terbaru secara resmi diumumkan pada 15 Mei di Provinsi Ituri. Sejak pengumuman tersebut, otoritas kesehatan Kongo bersama Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan sekitar 600 kasus suspek dan 139 kematian probable. Penyebaran wabah kini tidak hanya terbatas di Ituri, melainkan telah meluas ke provinsi tetangga, North Kivu dan South Kivu. Dua kasus impor bahkan telah terdeteksi di Uganda, menandakan potensi penyebaran lintas batas.

Seruan dari Para Ahli

Direktur Africa Centres for Disease Control and Prevention (Africa CDC), Jean Kaseya, pada Kamis lalu meminta masyarakat untuk mematuhi langkah-langkah pencegahan secara ketat. Berbicara langsung di Bunia, ia menegaskan komitmen mitra-mitra Afrika untuk membantu penanganan wabah. "Kami memiliki tim yang sangat termotivasi dan berpengalaman, dan kami akan memperkuat mereka untuk menangani epidemi ini," ujarnya. WHO sebelumnya telah menetapkan wabah Ebola yang disebabkan varian Bundibugyo sebagai darurat kesehatan global. Keputusan ini diambil setelah terjadi lonjakan kasus dan kematian yang signifikan di Kongo timur, menuntut respons internasional yang cepat dan terkoordinasi.

Editor: Bagus Kurnia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar