PARADAPOS.COM - Harga minyak mentah dunia kembali tertekan pada akhir pekan lalu, Jumat, 29 Mei 2026, di tengah ketidakpastian pasar yang menanti kepastian soal kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran. Pelaku pasar bergerak hati-hati setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan akan menggelar pertemuan di Ruang Situasi Gedung Putih untuk mengambil keputusan final terkait perjanjian tersebut. Penurunan ini juga menandai bulan terburuk bagi harga minyak sejak konflik Timur Tengah pecah pada akhir Februari lalu, didorong oleh optimisme bahwa permusuhan akan segera berakhir dan jalur pelayaran strategis Selat Hormuz bisa kembali aman dilintasi.
Pasar Menanti Keputusan Akhir Trump soal Iran
Pada hari Jumat, Trump menyatakan dirinya akan hadir dalam pertemuan di pusat manajemen krisis Gedung Putih itu. Ia menyebut keputusan yang akan diambil berkaitan dengan beberapa poin utama, termasuk komitmen Teheran untuk tidak mengembangkan senjata nuklir, pembukaan kembali Selat Hormuz tanpa biaya tol, serta pembersihan seluruh ranjau di jalur air tersebut. Sebagai imbalannya, blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan dan garis pantai Iran akan dicabut.
"Kapal-kapal yang terjebak di Selat karena Blokade Angkatan Laut kita yang luar biasa dan belum pernah terjadi sebelumnya, yang sekarang akan dicabut, dapat memulai proses 'pulang ke rumah!'" tulis presiden di Truth Social.
Ia menambahkan bahwa AS akan membantu Iran dalam proses penggalian uranium yang telah diperkaya, atau yang ia sebut sebagai "debu nuklir," untuk kemudian dihancurkan. "Tidak ada uang yang akan ditukar, sampai pemberitahuan lebih lanjut. Hal-hal lain, yang jauh kurang penting, telah disepakati. Saya akan bertemu sekarang, di Ruang Situasi, untuk membuat keputusan akhir," ujar Trump.
Namun, klaim tersebut langsung mendapat respons skeptis dari Teheran. Kantor Berita Fars Iran menyebut pernyataan Trump sebagai "campuran kebenaran dan kebohongan," mengutip sumber-sumber yang terinformasi. Fars menegaskan tidak ada klausul dalam kesepakatan yang mewajibkan Iran membuka kembali selat tanpa memungut biaya. Kantor berita itu juga menambahkan bahwa tidak ada penyebutan soal penyerahan material nuklir Iran dalam perjanjian tersebut.
Media pemerintah Iran, mengutip juru bicara Kementerian Luar Negeri Esmaeil Baqaei, menyatakan bahwa belum ada negosiasi yang terjadi pada tahap ini terkait program nuklir Teheran. Sementara itu, The New York Times melaporkan bahwa pertemuan Trump di Ruang Situasi berlangsung selama dua jam dan berakhir tanpa keputusan, mengutip seorang pejabat senior pemerintahan.
Harga Brent dan WTI Anjlok, Catat Bulan Terburuk
Sejak konflik meletus pada akhir Februari ketika AS dan Israel melancarkan serangan bersama terhadap Iran, harga minyak sempat melonjak drastis. Semua pihak kini terkunci dalam gencatan senjata yang berkepanjangan sejak awal April, sementara negosiasi terus berlangsung. Jika kesepakatan benar-benar tercapai, ini akan menjadi terobosan diplomatik terbesar dalam konflik yang telah berlarut-larut tersebut.
Penutupan Selat Hormuz yang berkepanjangan telah menyebabkan gangguan pasokan minyak terbesar dalam sejarah. Lonjakan harga minyak pun memicu ekspektasi kenaikan suku bunga bank sentral untuk mengatasi guncangan inflasi. Data ekonomi AS pada hari Kamis menunjukkan bahwa indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi inti (PCE) naik dengan laju tahunan tercepat pada bulan April sejak November 2023, dan masih jauh di atas target dua persen bank sentral.
Data tersebut juga mengungkapkan bahwa pengeluaran konsumen terpukul akibat harga bensin yang tinggi. Harga bensin di AS telah melonjak lebih dari 50 persen sejak awal konflik.
Michael Feroli dan Abiel Reinhart dari JPMorgan meneliti bagaimana harga energi dapat berdampak pada inflasi PCE inti. "Kami menemukan bahwa dampak kenaikan harga energi terhadap inflasi pengeluaran pribadi inti (PCE) relatif kecil, seperti yang diperkirakan. Regresi deret waktu menunjukkan bahwa kenaikan harga minyak sebesar 50 persen akan menaikkan harga PCE inti sekitar 0,3-0,4 persen, dan dalam beberapa skenario yang masuk akal untuk jalur harga minyak di masa depan, PCE inti rata-rata 10-15 basis poin lebih tinggi selama tahun 2026-2027," jelas para analis.
"Kami memperkirakan secara terpisah bahwa input minyak bumi mencakup sekitar 1,0 persen dari biaya konsumsi pribadi inti, sehingga dampak penuh akan menunjukkan bahwa kenaikan harga minyak sebesar 50 persen akan menghasilkan kenaikan harga PCE inti sebesar 0,5 persen," tambah mereka.
Meskipun jalur air vital tersebut ditutup, harga minyak justru merosot pada bulan Mei. Hal ini dipicu oleh transit yang aman dari sejumlah besar kapal melalui titik rawan tersebut di bawah pengawasan Korps Garda Revolusi Islam Iran, serta harapan akan kesepakatan perdamaian yang terus menekan harga minyak mentah.
Harga minyak mentah Brent berjangka yang berakhir pada Agustus, patokan minyak global, tercatat turun 0,9 persen menjadi USD91,87 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS berjangka yang berakhir pada Juli juga turun 0,9 persen menjadi USD88,09 per barel. Brent diperkirakan akan turun lebih dari 19 persen pada bulan Mei, penurunan terbesar sejak Maret 2020. Adapun WTI menuju penurunan bulanan lebih dari 16 persen, terburuk sejak April 2025.
Editor: Yuli Astuti
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Memahami Perbedaan Hari Lahir dan Hari Kesaktian Pancasila
Polisi Tangkap Dua Pencopet Ponsel Wisatawan Belanda di Stasiun Tanah Abang
Kemendagri Beri Insentif Fiskal hingga Rp3 Miliar bagi Daerah Berprestasi di Regional Sulawesi
Peringatan 20 Tahun Lumpur Lapindo, Penyintas Gelar Ritual Sambang Buyut di Atas Tanggul