Kemendag: Harga Referensi dan Patokan Ekspor Kakao Melonjak Akibat Penutupan Selat Hormuz

- Sabtu, 30 Mei 2026 | 11:25 WIB
Kemendag: Harga Referensi dan Patokan Ekspor Kakao Melonjak Akibat Penutupan Selat Hormuz
PARADAPOS.COM - Kementerian Perdagangan (Kemendag) melaporkan kenaikan signifikan pada harga referensi (HR) dan harga patokan ekspor (HPE) biji kakao untuk periode Juni 2026. Kenaikan ini dipicu oleh penutupan Selat Hormuz yang berdampak langsung pada lonjakan biaya logistik, asuransi, dan bahan bakar. HR biji kakao ditetapkan sebesar 3.832,17 dolar AS per metrik ton (MT), naik 563,48 dolar AS atau 17,24 persen dari periode sebelumnya. Sementara itu, HPE biji kakao mencapai 3.511 dolar AS per MT, meningkat 549 dolar AS atau 18,53 persen.

Faktor Pemicu Kenaikan Harga Kakao

Penutupan Selat Hormuz menjadi faktor utama yang mendorong kenaikan ini. Jalur pelayaran strategis tersebut merupakan titik krusial bagi distribusi energi global. Gangguan di sana secara otomatis meningkatkan biaya pengiriman komoditas, termasuk biji kakao. "Ada kenaikan pada HR dan HPE biji kakao karena ditutupnya Selat Hormuz yang mengakibatkan peningkatan biaya logistik, biaya asuransi dan bahan bakar," jelas Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kemendag, Tommy Andana, dalam keterangan resmi yang dikutip pada Sabtu, 30 Mei 2026. Lebih lanjut, Tommy menambahkan bahwa faktor lain yang ikut mendorong kenaikan adalah penurunan pasokan dari Nigeria. Negara produsen kakao utama tersebut mengalami gangguan produksi, sehingga memperketat pasokan global dan memberi tekanan tambahan pada harga.

Kondisi Komoditas Lain: Stabil, Naik, dan Turun

Di tengah gejolak harga kakao, beberapa komoditas ekspor lainnya justru menunjukkan tren berbeda. Untuk produk kulit, misalnya, tidak ada perubahan HPE pada Juni 2026 dibandingkan bulan sebelumnya. Begitu pula dengan HPE keping kayu (chipwood) dan beberapa jenis kayu olahan tertentu, seperti kayu dari hutan tanaman jenis sungkai dengan luas penampang 1.000-4.000 mm2, serta kayu olahan khusus jenis merbau dengan luas penampang 4.000-10.000 mm2, yang juga tercatat stabil. Sementara itu, komoditas getah pinus mengalami kenaikan. Harganya ditetapkan sebesar 980 dolar AS per MT, naik 64 dolar AS atau 6,99 persen dari periode Mei 2026. Kenaikan HPE juga terjadi pada kayu veneer dari hutan alam dan hutan tanaman, serta kayu olahan dari jenis meranti, merbau, rimba campuran, eboni, dan kayu dari hutan tanaman jenis akasia, sengon, balsa, serta eukaliptus. Namun, tidak semua komoditas mencatatkan kenaikan. Beberapa produk justru mengalami penurunan HPE. Produk yang terdampak antara lain kayu lapis untuk kotak kemasan ("wooden sheet for packing box"), kayu keping atau pecahan ("wood in chips or particle"), serta kayu olahan dari jenis jati dan kayu dari hutan tanaman jenis pinus, gmelina, dan karet. Fluktuasi ini mencerminkan dinamika permintaan dan pasokan di pasar global yang masih sensitif terhadap berbagai faktor eksternal.

Editor: Clara Salsabila

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar