PARADAPOS.COM - PT Kereta Api Indonesia (Persero) mencatat telah mengangkut lebih dari 1,21 juta penumpang selama periode libur panjang Idul Adha 1447 Hijriah hingga menjelang peringatan Hari Lahir Pancasila pada 1 Juni. Volume harian rata-rata mencapai lebih dari 149 ribu pelanggan, dengan puncak tertinggi terjadi pada 26 Mei 2026 yang menembus angka 214.349 orang. Data ini mencerminkan tingginya mobilitas masyarakat yang tersebar merata di berbagai wilayah operasional KAI, khususnya di Pulau Jawa dan Sumatra.
Puncak Arus dan Distribusi Penumpang
Menurut Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, libur panjang kali ini menjadi momentum yang signifikan bagi peningkatan mobilitas masyarakat. “Libur panjang Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah yang berdekatan dengan Hari Lahir Pancasila (1 Juni) kembali menjadi momentum meningkatnya mobilitas masyarakat di berbagai daerah,” jelasnya dalam keterangan resmi di Jakarta, Sabtu.
Ia merinci, jumlah pelanggan kereta api tetap tinggi sepanjang periode libur. Hingga Sabtu, 30 Mei 2026 pukul 10.00 WIB, penjualan tiket untuk keberangkatan 26 Mei hingga 1 Juni 2026 telah mencapai 1.215.456 tiket.
Data harian menunjukkan fluktuasi yang menarik. Pada puncak angkutan tanggal 26 Mei, tercatat 214.349 orang. Angka tersebut kemudian sedikit menurun menjadi 155.110 pelanggan pada 27 Mei, namun kembali meningkat menjadi 175.526 pelanggan pada 28 Mei. Lonjakan berikutnya terjadi pada 29 Mei dengan 191.834 orang, sebelum akhirnya mencapai 178.294 pelanggan pada 30 Mei. Menjelang akhir masa libur, volume pelanggan tercatat 150.479 orang pada 31 Mei dan 149.864 orang pada 1 Juni 2026.
“Setelah puncak keberangkatan pada 26 Mei 2026 dengan lebih dari 214 ribu pelanggan, volume harian tetap berada pada kisaran di atas 149 ribu pelanggan,” ungkap Anne.
Pola Perjalanan yang Semakin Fleksibel
Anne menambahkan, jumlah tersebut masih berpotensi bertambah seiring penjualan tiket yang terus berlangsung. Kondisi ini, menurutnya, mencerminkan mobilitas masyarakat yang tersebar lebih merata selama periode libur panjang.
KAI juga mengamati adanya perubahan pola perjalanan pelanggan. Jika sebelumnya arus perjalanan cenderung terpusat pada hari-hari tertentu, kini distribusi keberangkatan berlangsung lebih merata. Pola ini menunjukkan bahwa masyarakat semakin fleksibel dalam menentukan waktu bepergian, baik untuk berwisata, bersilaturahmi, menghadiri kegiatan keluarga, maupun melakukan perjalanan antarkota lainnya.
“Kereta api menjadi pilihan perjalanan yang semakin diminati karena mampu menghubungkan pusat-pusat aktivitas ekonomi, pendidikan, pemerintahan, dan pariwisata dengan waktu tempuh yang terukur serta kenyamanan perjalanan yang konsisten,” tuturnya.
Stasiun Favorit dan Dampak Ekonomi
KAI mencatat sepuluh stasiun keberangkatan favorit sementara selama periode 26 Mei hingga 1 Juni 2026. Stasiun Pasarsenen (PSE) memimpin dengan 84.578 pelanggan, disusul Stasiun Gambir (GMR) dengan 73.532 pelanggan, dan Stasiun Yogyakarta (YK) dengan 68.951 pelanggan. Berikutnya, Stasiun Semarang Tawang (SMT) mencatat 47.628 pelanggan, Stasiun Bandung (BD) 39.727 pelanggan, Stasiun Surabaya Gubeng (SGU) 39.094 pelanggan, Stasiun Surabaya Pasarturi (SBI) 37.837 pelanggan, Stasiun Purwokerto (PWT) 37.268 pelanggan, Stasiun Semarang Poncol (SMC) 35.712 pelanggan, dan Stasiun Solo Balapan (SLO) 33.861 pelanggan.
“Tingginya aktivitas keberangkatan dari stasiun-stasiun tersebut sejalan dengan peran kota-kota yang dilayaninya sebagai pusat ekonomi, pendidikan, pemerintahan, dan pariwisata,” beber Anne.
Ia menjelaskan, Jakarta melalui Stasiun Pasarsenen dan Gambir masih menjadi titik awal perjalanan terbesar. Hal ini wajar mengingat Jakarta merupakan pusat kegiatan nasional dengan konektivitas yang menjangkau berbagai daerah di Pulau Jawa dan Sumatra. Sementara itu, Yogyakarta, Bandung, Semarang, Solo, Purwokerto, dan Surabaya merupakan kota-kota dengan mobilitas masyarakat yang tinggi.
Anne menambahkan, tingginya mobilitas selama periode libur panjang memberikan dampak yang lebih luas bagi berbagai sektor ekonomi di daerah tujuan. Pergerakan pelanggan melalui layanan kereta api turut mendukung aktivitas pariwisata, perdagangan, perhotelan, kuliner, transportasi lanjutan, hingga pelaku UMKM yang bergantung pada arus kunjungan antardaerah.
“Kereta api hadir sebagai penghubung aktivitas masyarakat dan penggerak konektivitas antardaerah. Ketika mobilitas berjalan baik, aktivitas ekonomi ikut bergerak,” pungkasnya.
Editor: Andri Setiawan
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Pengendara Motor Tewas Terperosok ke Galian Proyek Jalan Nasional di Lebak yang Minim Penerangan
Harga TBS Sawit Tak Seragam Usai Kebijakan Ekspor Satu Pintu: Petani di Langkat Keluh Turun ke Rp2.300, Pabrik di Madina Patuh Harga Acuan
Havertz Cetak Gol Tercepat Kelima di Final Liga Champions, Arsenal Ungguli PSG di Menit Kelima
Perbaikan Jalan Amblas di Lenteng Agung Dikebut, Ditargetkan Tiga Hari untuk Lalu Lintas Normal