PARADAPOS.COM - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, tengah mendorong perubahan pada draf nota kesepahaman dengan Iran. Ia meminta rincian lebih jelas mengenai mekanisme transfer uranium yang telah diperkaya dari Iran ke AS, serta merevisi klausul terkait pembukaan Selat Hormuz. Langkah ini muncul di tengah ketegangan yang masih membara pasca serangan bersama AS-Israel pada akhir Februari lalu, yang menewaskan lebih dari 3.000 orang di Iran, dan diikuti oleh gencatan senjata singkat serta blokade laut Amerika.
Trump Minta Klarifikasi Sebelum Keputusan Final
Menurut laporan Axios yang mengutip seorang pejabat senior pemerintahan Trump dan sumber lain yang mengetahui langsung proses negosiasi, Trump berjanji akan mengambil keputusan final terkait situasi dengan Iran. Namun, media Amerika itu kemudian menegaskan bahwa belum ada kesepakatan akhir yang tercapai. Trump sendiri menggelar pengarahan intelijen di Washington pada Jumat pagi, 29 Mei. Dua hari kemudian, The New York Times melaporkan bahwa Trump mengajukan syarat yang lebih ketat untuk kesepakatan yang mungkin tercapai guna mengakhiri konflik, dan telah menyampaikan proposal baru kepada Teheran.
Rancangan kesepakatan yang ada saat ini, menurut Axios, mencakup komitmen Iran untuk tidak mengembangkan senjata nuklir. Para pihak juga akan diberikan waktu 60 hari untuk mencapai perjanjian menyeluruh mengenai program nuklir Iran dan pencabutan sanksi AS. Pokok pembahasan utama dalam draf tersebut adalah persediaan uranium Iran yang telah diperkaya serta pembatasan terhadap pengayaan lebih lanjut.
Bagian itulah yang ingin diubah Trump.
"Yang diinginkan adalah rincian yang lebih spesifik mengenai bagaimana AS menerima material tersebut (uranium yang diperkaya) dan kapan proses itu dilakukan," kata seorang pejabat senior pemerintahan Trump kepada media tersebut.
Revisi Klausul Selat Hormuz dan Respons Iran
Selain soal uranium, sumber lain menyebutkan bahwa Gedung Putih juga ingin merevisi klausul mengenai pembukaan Selat Hormuz. Trump diberi tahu bahwa pihak Iran akan menyampaikan tanggapan dalam waktu sekitar tiga hari, menurut laporan yang sama. Situasi di lapangan masih tegang. Pada 28 Februari, AS dan Israel melancarkan serangan bersama terhadap sejumlah target di Iran. Serangan itu menewaskan lebih dari 3.000 orang. Kemudian, pada 8 April, Washington dan Teheran mengumumkan gencatan senjata selama dua pekan yang dilanjutkan dengan pembicaraan di Islamabad, namun berakhir tanpa hasil. Meskipun tidak ada pengumuman resmi mengenai dimulainya kembali permusuhan, AS mulai memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Artikel Terkait
Veda Ega Pratama Start Posisi 13 di Moto3 Italia 2026, Siap Ulang Aksi Comeback
Festival Ketupat Telaga Kodok Sajikan 40.552 Ketupat Gratis, Perkuat Tradisi dan Pariwisata Maluku
Coway Tegaskan Riset Global Jadi Fondasi Inovasi Produk Air dan Udara
5.950 WNI Korban Penipuan Daring di Kamboja Dapat Penghapusan Denda Overstay