Pakar Otomotif Sebut Pengisian Baterai Kendaraan Listrik Cukup Sampai 80 Persen, Ini Alasannya

- Selasa, 02 Juni 2026 | 10:00 WIB
Pakar Otomotif Sebut Pengisian Baterai Kendaraan Listrik Cukup Sampai 80 Persen, Ini Alasannya
PARADAPOS.COM - Banyak pengguna kendaraan listrik masih terjebak dalam kebiasaan lama: mengisi baterai hingga penuh, persis seperti menuang bensin ke tangki mobil konvensional. Padahal, praktik ini justru tidak disarankan, terutama jika menggunakan teknologi pengisian cepat atau Ultra Fast Charging. Faktanya, pengisian baterai mobil atau motor listrik sebaiknya dihentikan di angka 80 persen, bukan 100 persen. Lantas, apa yang membuat batas ini begitu krusial?

Mengapa Hanya 80 Persen?

Di balik layar stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU), fase 80 persen menjadi titik kritis. Pada level inilah performa pengisian daya mulai melambat drastis. Kecepatan yang awalnya bisa melesat di atas 50 kWh per jam, tiba-tiba merosot tajam menjadi di bawah 10 kWh per jam. Fenomena ini bukanlah sebuah kegagalan sistem, melainkan karakteristik alami dari teknologi baterai itu sendiri.

Logika di Balik Perlambatan

Head of Public Relation MG Motor Indonesia, Norman Nababan, memberikan penjelasan yang gamblang. Ia menegaskan bahwa mengisi daya listrik ke baterai tidak bisa disamakan dengan menuang cairan ke dalam tangki. Prosesnya jauh lebih kompleks. "Pada level 80 persen baterai terisi, energi yang akan mengisi cell baterai, akan mencari cell baterai yang kosong," ujar Norman beberapa waktu lalu. Ia menganalogikan proses ini dengan sebuah area parkir yang sudah terisi 80 persen. Mobil-mobil yang baru datang akan mulai melambat, berputar-putar mencari celah kosong di antara deretan kendaraan lain. "Ibaratnya, mobil sedang antre masuk ke sebuah area parkir yang mulai terisi 80 persen. Tentu akan mulai melambat untuk mencari area parkir yang kosong. Itu pula penyebab utama mengapa sistem fast charging atau pengisian cepat baterai di SPKLU itu hanya efektif sampai 80 persen saja," jelasnya.

Keamanan sebagai Prioritas Utama

Selain efisiensi waktu, ada alasan lain yang tak kalah penting: faktor keamanan. Norman menyebutkan bahwa prosedur ini sengaja dirancang untuk menjaga integritas baterai dalam jangka panjang. Jika tegangan tinggi terus dipaksakan setelah baterai hampir penuh, risiko kerusakan pada sel baterai menjadi sangat besar. "Jadi tetap akan diberlakukan cara aman untuk melakukan pengisian baterai. Mengingat secanggih-canggihnya teknologi kendaraan listrik, kalau tidak aman untuk digunakan maka orang-orang juga akan takut menggunakan kendaraan berteknologi tinggi ini," ungkapnya. Dengan kata lain, mengisi hingga 80 persen bukan sekadar soal kecepatan, melainkan juga soal menjaga keawetan dan keamanan baterai itu sendiri. Kebiasaan mengisi penuh hingga 100 persen, terutama dengan pengisian cepat, justru bisa mempercepat degradasi komponen dan menimbulkan risiko yang tidak diinginkan.

Editor: Andri Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar