PARADAPOS.COM - Washington DC, Amerika Serikat – Sebuah laporan mengejutkan muncul dari kalangan politik Timur Tengah. Presiden AS Donald Trump diduga sempat mengancam Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu melalui istrinya, Sara Netanyahu. Langkah ini disebut sebagai upaya untuk menggagalkan rencana serangan Israel ke pinggiran selatan Beirut, Lebanon. Informasi ini diungkap oleh pengusaha Israel, Roni Mani, yang mengaku mendapatkannya dari seorang sumber senior di Gedung Putih.
Kontak Langsung ke Istri Netanyahu
Menurut klaim Mani yang dilaporkan oleh situs berita berbahasa Ibrani, "Walla", kontak itu terjadi secara langsung antara Trump dan Sara Netanyahu. Trump disebut menghubungi Sara dan mendesaknya untuk membujuk suaminya agar membatalkan aksi militer yang sudah direncanakan.
“Informasi eksklusif saya, melalui sumber saya di Gedung Putih, mengonfirmasi bahwa Trump menghubungi Sara Netanyahu dan menuntut agar dia menjaga Netanyahu atau dia akan memenjarakannya, mengusir Yair dari Amerika Serikat, dan membekukan aset mereka di sana,” klaim Mani, merujuk pada putra Netanyahu, Yair, yang diketahui tinggal di Florida, AS, sejak tahun 2023.
Ancaman dan Tawaran Suaka
Mani menambahkan, dalam percakapan tersebut, Trump tidak hanya melontarkan ancaman. Ia juga dikabarkan menawarkan suaka politik di AS kepada keluarga Netanyahu jika PM Israel itu kalah dalam pemilu mendatang. Tawaran ini disebut sebagai bagian dari tekanan agar Netanyahu mengubah keputusannya.
Situasi ini memicu konfrontasi di dalam rumah tangga Netanyahu. Sara, yang menerima telepon dari Trump, disebut langsung mengkonfrontasi suaminya. Tak berselang lama, Netanyahu akhirnya menghubungi Trump dan menyetujui pembatalan rencana serangan tersebut.
Konteks Ketegangan yang Melatarbelakangi
Laporan ini muncul di tengah ketegangan tinggi antara AS dan Israel terkait kebijakan militer di Lebanon. Sebelumnya, Trump dilaporkan sempat marah besar kepada Netanyahu dan menyebutnya “benar-benar gila” atas rencana serangan tersebut. Namun, Netanyahu juga sempat ngotot untuk terus menyerang Lebanon meski Trump meminta penghentian.
Kisah ini, jika benar, menunjukkan betapa personalnya diplomasi yang terjadi di balik layar. Seorang presiden yang menghubungi langsung istri seorang pemimpin negara sahabat untuk mempengaruhi keputusan perang adalah langkah yang tak lazim. Hal ini juga menyoroti pengaruh besar yang bisa dimiliki oleh anggota keluarga dalam politik tingkat tinggi.
Editor: Andri Setiawan
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Pemain PSIM Yogyakarta Riyatno Abiyoso Manfaatkan Jeda Kompetisi dengan Bertani di Purworejo
Koalisi Masyarakat Sipil Desak Revisi UU Peradilan Militer Usai Dua Kasus Dinilai Tak Adil bagi Korban
Citra Satelit Ungkap Kerusakan Pangkalan Militer AS di Kuwait Usai Serangan Rudal Iran, Klaim Centcom Dipertanyakan
Profil Giorgio Antonio, Kekasih Sarwendah: Pengusaha Muda dengan Tiga Lini Bisnis dari Edukasi Finansial hingga Parfum Lokal