PARADAPOS.COM - Militer Amerika Serikat mengonfirmasi telah melancarkan serangan terhadap sejumlah situs radar di pesisir selatan Iran, tepatnya di dekat Selat Hormuz, pada Jumat lalu. Langkah ini menjadi eskalasi terbaru yang mengancam kelangsungan gencatan senjata yang rapuh di Timur Tengah. Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan bahwa operasi diawali dengan penembakan jatuh empat drone bunuh diri Iran yang dianggap mengancam jalur pelayaran strategis tersebut. Serangan balasan kemudian diarahkan ke fasilitas radar pengawasan pantai Iran di Kota Goruk dan Pulau Qeshm.
Ancaman terhadap Lalu Lintas Maritim
Pernyataan resmi CENTCOM yang dikutip pada Sabtu, 6 Juni 2026, menjelaskan bahwa tindakan militer ini diambil karena “Drone serang tersebut menimbulkan ancaman langsung terhadap lalu lintas maritim regional.” Lebih lanjut, militer AS menegaskan bahwa serangan terhadap instalasi radar dilakukan semata-mata untuk “mencegah serangan lanjutan.” Keputusan ini diambil di tengah situasi yang masih belum stabil pasca-gencatan senjata.
Negosiasi Gencatan Senjata yang Mandek
Perlu dicatat, gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran telah resmi berlaku sejak 8 April. Namun, hingga berita ini diturunkan, pembicaraan untuk mencapai kesepakatan damai yang permanen belum juga menunjukkan titik terang. Situasi ini menempatkan Presiden AS Donald Trump dalam posisi sulit. Ia menghadapi tekanan domestik yang kuat untuk segera menemukan jalan keluar dari konflik yang tidak hanya memicu gejolak pasar, tetapi juga dinilai tidak populer menjelang pemilu sela di Amerika Serikat.
Pengakuan dari Gedung Putih
Dalam sebuah wawancara dengan NBC News pada Jumat malam, Trump memberikan pengakuan yang mengejutkan. Ia mengakui bahwa meskipun infrastruktur militer Iran telah mengalami kerusakan parah, negara tersebut masih memiliki kemampuan tempur yang patut diperhitungkan.
“Mereka masih punya beberapa rudal dan drone. Saya kira secara persentase mungkin tinggal sekitar 21 atau 22 persen dari stok rudal mereka,” kata Trump.
Bantahan dan Klaim di Lapangan
Sementara itu, di sisi lain, militer Iran pada hari yang sama mengklaim telah menembakkan “rudal peringatan” ke arah dua kapal perusak Amerika Serikat yang berada di Teluk Oman. Klaim ini, bagaimanapun, langsung mendapat bantahan tegas dari pihak militer AS. Sebelumnya, dua hari sebelum insiden ini, Kuwait mengumumkan telah berhasil mencegat sebanyak 30 rudal balistik yang disebut sebagai bagian dari “agresi keji Iran.” Ketegangan di kawasan itu tampaknya masih akan terus berlanjut, mengingat setiap pihak memiliki narasi dan versi kejadiannya masing-masing.
Editor: Laras Wulandari
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
BRIN Deteksi Sinyal Awal Fenomena Upwelling Musim Timur 2026 di Perairan Selatan Indonesia
Susno Duadji Pertanyakan Isu Bandara Kertajati Jadi Pangkalan Militer AS
PT Alun Indah Resmikan Service Point Mercedes-Benz di Lampung untuk Perkuat Layanan Purna Jual di Sumatera
Pemuda Katolik: Pancasila Harus Jadi Kompas Etik Pemanfaatan AI