Rasulullah Sebut Tanda Kehinaan: Banyak Bicara Bohong, Sumpah Palsu, dan Suka Meminta-minta

- Minggu, 07 Juni 2026 | 09:00 WIB
Rasulullah Sebut Tanda Kehinaan: Banyak Bicara Bohong, Sumpah Palsu, dan Suka Meminta-minta

PARADAPOS.COM - JAKARTA — Kemiskinan bukanlah aib selama seseorang tetap menjaga harga diri dan tidak menggantungkan hidup pada belas kasihan orang lain. Dalam wasiatnya kepada Ali bin Abi Thalib RA, Rasulullah SAW justru menempatkan kebiasaan meminta-minta sebagai salah satu ciri kehinaan, terutama jika dilakukan oleh mereka yang sebenarnya masih mampu berusaha. Ajaran ini menegaskan bahwa Islam menjunjung tinggi kemandirian dan kehormatan diri di atas segalanya.

Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern, pesan ini terasa semakin relevan. Banyak orang terjebak dalam mentalitas ketergantungan, padahal pintu rezeki terbuka lebar bagi siapa saja yang mau berikhtiar. Rasulullah SAW, melalui sabda-sabdanya, telah memberikan rambu-rambu yang jelas tentang bagaimana seorang Muslim seharusnya memosisikan diri dalam hal kebutuhan hidup.

Tiga Tanda Kehinaan Menurut Rasulullah SAW

Dalam sebuah riwayat yang termaktub dalam kitab Wasiyatul Musthafa karya Syekh Abdul Wahhab Asy-Sya'rani, Nabi SAW menyebutkan secara gamblang ciri-ciri orang yang kehilangan kemuliaan. Sabda beliau kepada Ali bin Abi Thalib RA menjadi pedoman yang tak lekang oleh waktu.

يَا عَلِيُّ، وَلِلْمَخْذُوْلِ ثَلَاثُ عَلَامَاتٍ كَثْرَةُ الْكَذِبِ وَكَثْرَةُ الْأَيْمَانِ الْفَاجِرَةِ وَكَثْرَةُ الْحَوَائِجِ إِلَى النَّاسِ

"Wahai Ali, bagi orang yang terhina ada tiga tanda, yaitu banyak berbohong, banyak sumpah palsu, dan banyak hajat kepada manusia (suka meminta-minta kepada manusia)."

Hadis ini menunjukkan betapa seriusnya Islam memandang persoalan ketergantungan. Bukan berarti seseorang yang miskin otomatis hina, melainkan mereka yang menjadikan meminta sebagai profesi atau kebiasaan, padahal fisik dan akalnya masih sehat untuk bekerja.

Mentalitas Tangan di Atas

Rasulullah SAW tidak hanya melarang, tetapi juga memberikan alternatif yang lebih mulia. Dalam sebuah hadis sahih yang diriwayatkan Bukhari, beliau bersabda:

اليَدُ العُلْيَا خَيْرٌ مِنَ اليَدِ السُّفْلَى، وَابْدَأْ بِمَنْ تَعُولُ، وَخَيْرُ الصَّدَقَةِ عَنْ ظَهْرِ غِنًى، وَمَنْ يَسْتَعْفِفْ يُعِفَّهُ اللَّهُ، وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللَّهُ

"Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Mulailah (membelanjakan harta) kepada orang yang menjadi tanggung jawabmu. Sedekah yang paling baik adalah yang dikeluarkan dari kelebihan kebutuhan. Barangsiapa berusaha menjaga diri, Allah akan menjaganya. Barangsiapa berusaha mencukupkan diri, Allah akan memberinya kecukupan." (HR Bukhari).

Pesan ini membangun sebuah paradigma: memberi jauh lebih mulia daripada meminta. Bukan berarti setiap Muslim harus kaya raya, tetapi setidaknya ia berusaha untuk tidak menjadi beban bagi orang lain. Sikap mandiri ini, menurut para ulama, merupakan cerminan dari keimanan yang kokoh.

Antara Kemiskinan dan Kehormatan Diri

Perlu ditegaskan bahwa Islam tidak memandang rendah orang miskin. Yang dikecam adalah perilaku meminta-minta yang dilakukan tanpa rasa malu dan tanpa usaha. Seorang Muslim diperintahkan untuk bekerja keras, berusaha semaksimal mungkin, dan hanya memohon kepada Allah ketika dalam kondisi terdesak.

Di lapangan, kita sering menjumpai fenomena yang memprihatinkan: sebagian orang justru memanfaatkan kemiskinan sebagai alat untuk mendapatkan simpati dan bantuan materi. Padahal, jika ditelusuri lebih dalam, mereka masih memiliki tenaga dan waktu untuk bekerja. Fenomena inilah yang coba diluruskan oleh ajaran Rasulullah SAW.

Kemuliaan seorang Muslim, demikian pesan yang ingin disampaikan, tidak diukur dari seberapa banyak harta yang dimiliki, melainkan dari seberapa kuat ia menjaga harga diri dan tidak bergantung kepada manusia. Ini adalah pelajaran berharga yang patut direnungkan di tengah gemerlapnya dunia yang seringkali menilai seseorang dari materi.

 

Editor: Annisa Rachmad

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar