PARADAPOS.COM - Saham PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) mendapat sorotan positif dari analis menyusul langkah strategis induk usahanya, Unilever Plc, yang tengah melakukan reorganisasi portofolio. Dalam riset yang terbit pada 10 Juni 2026, Bahana Sekuritas memulai cakupan terhadap UNVR dengan rekomendasi beli (buy) dan target harga Rp2.000 per saham. Target ini mencerminkan potensi kenaikan sekitar 20 persen dari level harga saat itu. Katalis utama yang mendorong optimisme ini adalah rencana pemisahan bisnis makanan sebagai bagian dari Growth Action Plan (GAP) Unilever Plc, yang dinilai mampu membuka nilai tersembunyi bagi pemegang saham.
Dua Jalur Dampak Reorganisasi
Menurut analis Bahana Sekuritas, Raja Abdalla dan Reinard Tanukusuma, UNVR menjadi satu-satunya emiten konsumer primer di Indonesia yang memiliki eksposur langsung terhadap tema reorganisasi portofolio. Tema serupa sebelumnya telah mendorong re-rating saham-saham konsumer di pasar negara maju.
Strategi GAP Unilever Plc diperkirakan akan berdampak kepada Unilever Indonesia melalui dua jalur utama. Pertama, pemisahan bisnis makanan di luar Buavita sebagai bagian dari kombinasi bisnis makanan global Unilever dengan McCormick. Kedua, pengurangan jumlah merek yang dinilai kurang strategis (tail-brand pruning), termasuk potensi pelepasan merek Buavita.
Kedua langkah tersebut diperkirakan mencakup sekitar 27 persen dari total pendapatan UNVR pada tahun 2025.
Prospek Dividen dan Imbal Hasil
Selain potensi dari restrukturisasi, Bahana Sekuritas juga menyoroti kebijakan pengembalian modal kepada investor. Perseroan diperkirakan akan mempertahankan rasio pembayaran dividen sebesar 100 persen sepanjang periode 2026 hingga 2028.
Dengan asumsi tersebut, imbal hasil dividen ke depan (forward dividend yield) UNVR diperkirakan dapat mencapai sekitar 5 persen. Angka ini dihitung dari bisnis yang tetap berjalan setelah proses reorganisasi selesai.
Dua Skenario Pemisahan Bisnis Makanan
Dari berbagai katalis yang ada, analis menilai pemisahan bisnis makanan menjadi faktor paling krusial yang dapat mendorong peningkatan nilai saham UNVR. Meskipun mekanisme transaksi belum diumumkan secara rinci, terdapat dua skenario yang berpotensi terjadi.
Skenario pertama adalah penjualan langsung bisnis makanan ke entitas gabungan antara McCormick dan bisnis makanan global Unilever. Skema ini dinilai lebih cepat dan sederhana, dengan hasil transaksi berpotensi dikembalikan kepada pemegang saham melalui dividen khusus.
Skenario kedua adalah melalui mekanisme demerger atau pemisahan bisnis menjadi entitas independen. Menurut Bahana, skema ini dapat memberikan potensi keuntungan jangka panjang yang lebih besar karena investor tetap memiliki eksposur terhadap bisnis bumbu dan penyedap makanan yang berdiri sendiri.
Dalam skenario demerger, Bahana memperkirakan terdapat tambahan potensi kenaikan sekitar 6 persen di atas target harga Rp2.000 per saham.
Pendekatan Valuasi dan Risiko
Valuasi UNVR dalam riset tersebut menggunakan pendekatan sum-of-the-parts (SOTP) yang mencakup empat sumber nilai. Keempatnya adalah bisnis kebutuhan rumah tangga dan perawatan diri (Home and Personal Care/HPC) yang tersisa, kas bersih dari hasil divestasi, potensi dana dari pelepasan Buavita, serta nilai bisnis makanan di luar Buavita.
Namun, Bahana juga mengingatkan sejumlah risiko yang dapat menghambat realisasi rekomendasi tersebut. Risiko itu meliputi keterlambatan proses reorganisasi portofolio, hasil divestasi yang lebih rendah dari perkiraan, pelemahan daya beli masyarakat, kenaikan biaya bahan baku, persaingan yang semakin ketat, serta gangguan rantai pasok.
Pada perdagangan Kamis (11/6/2026) pukul 14.25 WIB, saham UNVR diperdagangkan di level Rp1.640 per unit di pasar reguler, menguat 2,50 persen secara harian.
Strategi Menghadapi Tekanan Eksternal
Sebelumnya, UNVR telah menyiapkan sejumlah strategi untuk menghadapi tantangan perekonomian, mulai dari depresiasi rupiah hingga kenaikan harga bahan baku. Berbagai faktor tersebut menekan bisnis perusahaan consumer goods, baik dari sisi permintaan maupun penawaran.
Direktur Keuangan Unilever Indonesia, Neeraj Lal, menjelaskan bahwa dari sisi supply-side, konflik di Timur Tengah memicu lonjakan harga komoditas yang berimbas pada kenaikan harga bahan baku, mulai dari CPO hingga plastik. Kondisi ini diperparah dengan pelemahan nilai tukar yang membuat beban impor semakin mahal.
"Itu berasal dari situasi di Timur Tengah, terutama bahan-bahan berbasis minyak bumi, bahan kimia, kemasan. Itu juga minyak sawit. Dan, tentu saja, juga tentang nilai tukar mata uang asing. Jadi, ya, ini menciptakan tekanan inflasi dalam bisnis," ujarnya di Tangerang, Banten, Kamis (4/6/2026).
Neeraj menambahkan, perseroan selama ini melakukan kegiatan ekspor yang menjadi lindung nilai alami (natural hedging) atas menguatnya dolar AS. Selain itu, perseroan juga menerapkan strategi hedging untuk meredam dampak pelemahan nilai tukar.
"Sekarang, jika menyangkut mata uang, hal itu memang menimbulkan tekanan karena kami memiliki eksposur mata uang pada bahan baku yang kami beli. Kami juga memiliki penjualan ekspor yang membantu kami mengimbangi sebagian dari dampak tersebut. Selain itu, kami menerapkan strategi lindung nilai yang membantu kami meredam sebagian dari penurunan nilai rupiah yang kami hadapi," tuturnya.
Neeraj mengungkapkan, Unilever tengah mengkaji kalibrasi harga pada sejumlah produk. Dari sisi biaya, perseroan juga melakukan efisiensi biaya hingga optimalisasi belanja modal. Dengan begitu, bisnis Unilever diharapkan tetap bisa tumbuh dengan margin yang moderat.
Presiden Direktur Unilever Indonesia, Benjie Yap, menegaskan bahwa perseroan akan tetap ekspansif di pasar domestik. Fokus utama adalah mendorong pertumbuhan berbasis volume (volume-led growth) di tengah daya beli masyarakat yang menantang. Strategi ini akan dieksekusi melalui inovasi produk yang relevan dengan kebutuhan konsumen serta penguatan jaringan pasar.
“Jadi, terlepas dari pelemahan rupiah, situasi di Timur Tengah, atau faktor kuat lainnya, kami tetap fokus pada mendorong pertumbuhan berbasis volume di pasar saat ini. Dan hal ini akan kami lakukan melalui penguatan koneksi pasar yang tepat serta inovasi yang penting bagi konsumen Indonesia. Sekarang, seperti yang juga disebutkan Neeraj, mengingat beberapa faktor eksternal ini, akan ada tindakan penyesuaian harga yang akan terjadi di paruh kedua tahun ini, terutama di sektor perawatan rumah tangga (home care) yang paling terdampak," ungkap Benjie.
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.
Editor: Laras Wulandari
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Kombes Made Agus Prasatya Resmi Jabat Dirgakkum Korlantas, Dikenal sebagai Motor Reformasi PNBP Tilang
Pemerintah Targetkan 40.000 Koperasi Merah Putih Beroperasi Hingga Akhir 2026
Tiga Awak Kapal India Hilang Usai Kapal Tanker Ditembak AS di Teluk Oman, New Delhi Protes Keras
Menteri Koperasi Usul Tambahan Anggaran Rp1,34 Triliun untuk Program Kopdes Merah Putih