Pelatihan Wajib untuk Seluruh Karyawan
Gerai-gerai Starbucks di Korea akan tutup pada pukul 15.00 waktu setempat. Waktu operasional yang diperpendek ini bukan tanpa alasan. Perusahaan mengalokasikan sisa hari kerja untuk program pelatihan internal yang bersifat wajib bagi semua karyawan.
Dalam sesi pelatihan tersebut, para barista dan staf akan menyaksikan rekaman edukasi yang membahas konteks sejarah Korea Selatan secara mendalam. Materinya mencakup pemahaman tentang isu-isu sosial yang memiliki bobot emosional dan historis kuat bagi masyarakat setempat. Langkah ini merupakan bagian dari upaya perusahaan untuk memastikan kesalahan serupa tidak terulang lagi di masa mendatang.
Akar Kontroversi: Promosi “SS Tank” dan “Tank Day”
Masalah bermula ketika Starbucks Korea meluncurkan promosi untuk tumbler berbahan stainless steel yang diberi nama “SS Tank”. Dalam kampanye tersebut, perusahaan menetapkan tanggal 18 Mei sebagai “Tank Day”.
Keputusan itu langsung memicu gelombang kritik. Tanggal 18 Mei bukanlah hari biasa—itu adalah hari peringatan Gerakan Demokratisasi Gwangju pada 1980. Saat itu, pemerintahan militer Korea Selatan mengerahkan pasukan bersenjata lengkap, termasuk tank dan helikopter, untuk membubarkan aksi protes pro-demokrasi di Kota Gwangju. Penindakan keras tersebut mengakibatkan ratusan orang tewas dan luka-luka.
“Kami tidak menyadari betapa sensitifnya referensi ini bagi banyak orang,” demikian pernyataan internal perusahaan yang kemudian beredar, menurut laporan Associated Press.
Slogan Kampanye dan Kenangan Kelam Lainnya
Kontroversi tidak berhenti di situ. Kampanye tersebut juga menggunakan slogan “Thwack it on the table!”—sebuah ungkapan yang bagi sebagian masyarakat Korea Selatan justru membangkitkan ingatan pahit tentang kasus kematian aktivis mahasiswa Park Jong-chol pada 1987.
Park Jong-chol adalah seorang mahasiswa yang tewas saat diinterogasi oleh polisi. Metode penyiksaan yang digunakan dalam kasus tersebut membuat frasa “thwack” atau pukulan keras memiliki konotasi yang sangat kelam di benak publik Korea. Penggunaan slogan ini tanpa konteks yang memadai dinilai sebagai bentuk kecerobohan yang memperparah kemarahan masyarakat.
Di tengah hiruk-pikuk kritik yang terus bergulir, keputusan Starbucks Korea untuk menutup gerai lebih awal dan menggelar pelatihan massal dinilai sebagai langkah rekonsiliasi yang diperlukan. Namun, pertanyaan besarnya tetap menggantung: apakah langkah ini cukup untuk memulihkan kepercayaan publik yang sudah terlanjur terluka?
Artikel Terkait
Film Ketok Mejik Resmi Tayang 13 Agustus 2026, Ananta Rispo Tampil dengan Karakter Berbeda
Brantas Abipraya Mulai Garap Proyek BRT Bandung, Libatkan Warga Lewat Sosialisasi dan Manajemen Lalin
Pengamat Peringatkan Film Pesta Babi Berpotensi Dijadikan Alat Internasionalisasi Isu Papua
Laptop Tipis 2026 Tak Lagi Korbankan Performa, Ini Lima Rekomendasi Andalan