Starbucks Korea Tutup Seluruh Gerai Lebih Awal untuk Pelatihan Sejarah Usai Kontroversi Promosi SS Tank

- Rabu, 17 Juni 2026 | 13:50 WIB
Starbucks Korea Tutup Seluruh Gerai Lebih Awal untuk Pelatihan Sejarah Usai Kontroversi Promosi SS Tank
PARADAPOS.COM - Seluruh gerai Starbucks di Korea Selatan akan tutup lebih awal pada Senin, 22 Juni 2026, sebagai respons atas kontroversi kampanye pemasaran yang dianggap tidak sensitif terhadap tragedi sejarah negara tersebut. Keputusan ini diambil setelah publik ramai mengkritik promosi produk tumbler “SS Tank” yang dinilai menyinggung peristiwa kelam Gerakan Demokratisasi Gwangju pada 1980. Langkah penutupan serentak ini memungkinkan seluruh karyawan mengikuti pelatihan sejarah dan sensitivitas sosial yang diwajibkan perusahaan.

Pelatihan Wajib untuk Seluruh Karyawan

Gerai-gerai Starbucks di Korea akan tutup pada pukul 15.00 waktu setempat. Waktu operasional yang diperpendek ini bukan tanpa alasan. Perusahaan mengalokasikan sisa hari kerja untuk program pelatihan internal yang bersifat wajib bagi semua karyawan.

Dalam sesi pelatihan tersebut, para barista dan staf akan menyaksikan rekaman edukasi yang membahas konteks sejarah Korea Selatan secara mendalam. Materinya mencakup pemahaman tentang isu-isu sosial yang memiliki bobot emosional dan historis kuat bagi masyarakat setempat. Langkah ini merupakan bagian dari upaya perusahaan untuk memastikan kesalahan serupa tidak terulang lagi di masa mendatang.

Akar Kontroversi: Promosi “SS Tank” dan “Tank Day”

Masalah bermula ketika Starbucks Korea meluncurkan promosi untuk tumbler berbahan stainless steel yang diberi nama “SS Tank”. Dalam kampanye tersebut, perusahaan menetapkan tanggal 18 Mei sebagai “Tank Day”.

Keputusan itu langsung memicu gelombang kritik. Tanggal 18 Mei bukanlah hari biasa—itu adalah hari peringatan Gerakan Demokratisasi Gwangju pada 1980. Saat itu, pemerintahan militer Korea Selatan mengerahkan pasukan bersenjata lengkap, termasuk tank dan helikopter, untuk membubarkan aksi protes pro-demokrasi di Kota Gwangju. Penindakan keras tersebut mengakibatkan ratusan orang tewas dan luka-luka.

“Kami tidak menyadari betapa sensitifnya referensi ini bagi banyak orang,” demikian pernyataan internal perusahaan yang kemudian beredar, menurut laporan Associated Press.

Slogan Kampanye dan Kenangan Kelam Lainnya

Kontroversi tidak berhenti di situ. Kampanye tersebut juga menggunakan slogan “Thwack it on the table!”—sebuah ungkapan yang bagi sebagian masyarakat Korea Selatan justru membangkitkan ingatan pahit tentang kasus kematian aktivis mahasiswa Park Jong-chol pada 1987.

Park Jong-chol adalah seorang mahasiswa yang tewas saat diinterogasi oleh polisi. Metode penyiksaan yang digunakan dalam kasus tersebut membuat frasa “thwack” atau pukulan keras memiliki konotasi yang sangat kelam di benak publik Korea. Penggunaan slogan ini tanpa konteks yang memadai dinilai sebagai bentuk kecerobohan yang memperparah kemarahan masyarakat.

Di tengah hiruk-pikuk kritik yang terus bergulir, keputusan Starbucks Korea untuk menutup gerai lebih awal dan menggelar pelatihan massal dinilai sebagai langkah rekonsiliasi yang diperlukan. Namun, pertanyaan besarnya tetap menggantung: apakah langkah ini cukup untuk memulihkan kepercayaan publik yang sudah terlanjur terluka?

Editor: Clara Salsabila

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar