Laba DBS Treasures Melonjak 289% di Tengah Tekanan Pasar, Emas Jadi Andalan

- Jumat, 19 Juni 2026 | 13:00 WIB
Laba DBS Treasures Melonjak 289% di Tengah Tekanan Pasar, Emas Jadi Andalan
PARADAPOS.COM - PT Bank DBS Indonesia mencatat lonjakan signifikan pada bisnis pengelolaan kekayaan melalui layanan DBS Treasures di tengah volatilitas pasar global dan domestik. Hingga Mei 2026, DBS Treasures membukukan pertumbuhan laba bersih setelah pajak (NPAT) sebesar 289% secara tahunan (year-on-year/yoy). Pencapaian ini didorong oleh kenaikan jumlah nasabah baru sebesar 73% serta strategi investasi yang menempatkan emas sebagai instrumen unggulan di tengah ketidakpastian global.

Tekanan Pasar dan Lonjakan Bisnis Wealth Management

Pertumbuhan tersebut terjadi di tengah tekanan yang cukup dalam pada pasar keuangan. Berdasarkan data per Mei 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi hampir 30%. Sementara itu, arus keluar modal asing tercatat mencapai sekitar Rp41,16 triliun. Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun pasar sedang tertekan, segmen nasabah kelas atas justru menunjukkan pergerakan yang berbeda.

Perubahan Perilaku Nasabah Affluent

Consumer Banking Director PT Bank DBS Indonesia, Melfrida Gultom, mengamati adanya perubahan signifikan pada perilaku investor kelas atas. Menurutnya, faktor ini menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan bisnis pengelolaan kekayaan perseroan. “Dalam beberapa tahun terakhir, kami melihat perubahan perilaku nasabah affluent yang semakin signifikan terutama pada kondisi pasar yang dipengaruhi oleh ketidakpastian geopolitik dan volatilitas global. Situasi ini menjadi perhatian utama kami, dan secara konsisten kami mengedepankan strategi wealth management yang berbasis insight yang objektif, komprehensif, berorientasi pada peluang, dapat ditindaklanjuti, serta relevan dengan pendekatan personal yang berpusat pada nasabah,” ujar Melfrida dalam keterangan tertulis, Jumat (19/6/2026).

Strategi Emas dan Pendekatan Investasi Personal

Untuk menghadapi kondisi pasar yang fluktuatif, DBS mengandalkan rekomendasi investasi yang lebih personal. Langkah ini diwujudkan melalui integrasi wawasan investasi regional dari Chief Investment Office (CIO) DBS dan teknologi machine learning. Salah satu strategi yang diunggulkan adalah mempertahankan posisi overweight pada emas sebagai instrumen defensif. Langkah tersebut didukung oleh tren peningkatan permintaan emas global. Pada kuartal I 2026, permintaan investasi emas dunia meningkat 74% secara tahunan. Di dalam negeri, permintaan emas batangan di Indonesia juga tumbuh 47%.

Prospek Volatilitas dan Peluang Jangka Panjang

Head of Investment & Insurance Product PT Bank DBS Indonesia, Djoko Soelistyo, menilai ketidakpastian global masih akan berlanjut. Hal ini seiring dengan tingginya inflasi dan dinamika geopolitik internasional. Di Amerika Serikat, inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) pada Maret 2026 tercatat sebesar 3,5% secara tahunan, masih berada di atas target Federal Reserve sebesar 2%. “Tahun 2025 menjadi periode yang penuh tantangan bagi pasar global akibat tingginya ketidakpastian, penyesuaian suku bunga, dan persaingan yang semakin ketat. Memasuki paruh kedua 2026, volatilitas diperkirakan tetap tinggi, namun peluang strategis masih terbuka bagi investor berorientasi jangka panjang. Dalam kondisi pasar yang kompleks ini, CIO Office DBS mengedepankan pendekatan conviction-led yang berfokus pada strategi diversifikasi investasi yang jelas dan dapat ditindaklanjuti,” kata Djoko.

Akses Investasi dan Produk Baru

Sebagai bagian dari strategi tersebut, DBS menyediakan akses investasi emas global melalui Kontrak Pengelolaan Dana (KPD) dengan minimum investasi Rp5 miliar. Perseroan juga menghadirkan 16 produk investasi baru yang dikurasi untuk memperkuat ketahanan portofolio nasabah di tengah dinamika pasar yang terus berubah.

Editor: Joko Susilo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar