Pemerintah Berlakukan B50 Mulai Juli 2024, Dorong Hilirisasi Sawit tapi Pengguna Mesin Diesel Lama Diminta Waspada

- Sabtu, 20 Juni 2026 | 09:00 WIB
Pemerintah Berlakukan B50 Mulai Juli 2024, Dorong Hilirisasi Sawit tapi Pengguna Mesin Diesel Lama Diminta Waspada
PARADAPOS.COM - Pemerintah Indonesia resmi memberlakukan program bahan bakar B50 mulai 1 Juli 2024. Kebijakan ini mencampurkan 50 persen biodiesel berbasis minyak sawit dengan 50 persen solar fosil. Langkah tersebut diyakini mampu menekan impor bahan bakar minyak (BBM), memperkuat hilirisasi kelapa sawit, dan mengurangi emisi karbon. Namun, para ahli mengingatkan bahwa penggunaan biodiesel dengan konsentrasi tinggi ini perlu diiringi kesiapan teknis, terutama pada kendaraan bermesin diesel lama.

Manfaat Strategis di Balik Penerapan B50

Dari sisi makro, implementasi B50 membawa angin segar bagi perekonomian nasional. Ketergantungan pada impor solar fosil bisa ditekan secara signifikan. Di saat yang sama, hilirisasi kelapa sawit di dalam negeri mendapat dorongan besar. Tak hanya itu, kandungan oksigen dalam biodiesel disebut mampu membuat proses pembakaran lebih sempurna, sehingga emisi karbon monoksida (CO) dan hidrokarbon (HC) dapat berkurang. Profesor bidang Energi Baru Terbarukan Biofuels Universitas Brawijaya, Prof. Ir. Nurkholis Hamidi, S.T., M.Eng., Dr.Eng., menilai kebijakan ini positif. Namun, ia menekankan pentingnya eksekusi yang bertahap dan terukur. “Mesin-mesin yang dulu dibangun atau dikonstruksi hingga sekarang kan ada yang tidak didesain menggunakan bahan bakar biodiesel dengan konsentrasi tinggi,” ujar Hamidi dalam keterangan resmi yang dikutip dari laman universitasnya.

Karakteristik Biodiesel yang Berbeda

Hamidi menjelaskan, biodiesel memiliki karakteristik yang berbeda dari solar konvensional. Kandungan oksigen di dalamnya memang membantu pembakaran. Namun, tingkat kekentalan atau viskositas biodiesel lebih tinggi. “Biodiesel itu bahan bakar alternatif yang renewable, diproduksi dari minyak nabati seperti minyak sawit. Ini bisa mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil,” tuturnya. Kondisi ini, lanjutnya, dapat membuat proses atomisasi atau penyemprotan bahan bakar di ruang bakar menjadi kurang optimal jika sistem injeksi mesin tidak disesuaikan. Akibatnya, kualitas pembakaran berpotensi menurun.

Risiko pada Mesin Diesel Lama

Pada kendaraan diesel modern, penggunaan B50 umumnya tidak menjadi masalah selama spesifikasi bahan bakar sesuai standar. Namun, cerita berbeda terjadi pada mesin diesel yang sudah lama beroperasi. Hamidi menyebut, penggunaan B50 pada mesin lama berpotensi mempercepat penurunan usia komponen tertentu seperti seal dan selang bahan bakar. Risiko pembentukan deposit dan penyumbatan filter bahan bakar juga lebih tinggi. “Biodiesel bersifat lebih polar dibanding solar biasa, sehingga bisa melarutkan komponen aditif dalam karet yang mengakibatkan karet kehilangan fleksibilitas, menjadi getas dan mudah retak. Namun pada kendaraan baru umumnya telah memiliki sistem saluran bahan bakar dan seal yang lebih tahan terhadap biodiesel sehingga tidak mudah getas,” jelasnya.

Performa Mesin dan Konsumsi BBM

Dari sisi performa, biodiesel memang membantu menekan emisi. Namun, ada konsekuensi lain yang perlu diperhatikan. Biodiesel memiliki nilai kalor yang lebih rendah dibandingkan solar. Artinya, untuk menghasilkan tenaga yang sama, jumlah bahan bakar yang dibutuhkan bisa lebih banyak. “Untuk menghasilkan tenaga yang sama, bahan bakar yang dibutuhkan bisa lebih banyak. Jadi ada kemungkinan terasa lebih boros,” ungkapnya. Selain itu, sifat higroskopis biodiesel—mudah menyerap air—juga meningkatkan potensi terbentuknya kotoran di dalam tangki bahan bakar. Akibatnya, filter dan saluran bahan bakar lebih mudah tersumbat. “Filter bahan bakar harus lebih sering dibersihkan atau diganti karena potensi penyumbatan lebih besar,” pesannya. Ia juga mengingatkan pentingnya pemeriksaan berkala pada nozzle dan sistem injeksi untuk memastikan aliran bahan bakar tetap optimal.

Perlunya Pengawasan Kualitas

Menurut Hamidi, tantangan utama implementasi B50 terletak pada kompatibilitas dengan mesin-mesin yang telah lama beroperasi. Karena itu, pemerintah perlu memastikan kualitas biodiesel yang diproduksi memenuhi standar bahan bakar transportasi. “Mengawasi agar bahan bakar biodiesel itu memenuhi standar sebagai bahan bakar transportasi,” tambahnya. Meski demikian, Hamidi menilai prospek pengembangan biodiesel di Indonesia sangat menjanjikan. Ketersediaan sumber daya minyak nabati yang melimpah menjadi modal utama untuk terus mengembangkan energi terbarukan ini.

Editor: Paradapos.com

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar