PARADAPOS.COM - Air terjun Sisundung di Kecamatan Angkola Barat, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel), Sumatra Utara, kini menjadi pusat perhatian wisatawan berkat aktivitas canyoneering yang menantang. Kegiatan menuruni tebing setinggi sekitar 23 meter di bawah aliran air terjun ini dikelola oleh Komunitas Pecinta Alam (KPA) Forester. Dengan mengutamakan keselamatan dan didampingi instruktur berpengalaman, wisata petualangan ini tidak hanya menarik kalangan pecinta alam, tetapi juga masyarakat umum yang haus pengalaman baru di alam terbuka.
Petualangan di Balik Air Terjun Sisundung
Suara gemuruh air yang jatuh dari ketinggian sekitar 23 meter menyambut setiap peserta yang tiba di lokasi. Aktivitas canyoneering di sini menawarkan sensasi tersendiri: menuruni tebing curam yang basah sambil merasakan derasnya aliran air. Pengelola wisata dari KPA Forester, Decky, menjelaskan bahwa setiap peserta dibekali perlengkapan standar keselamatan dan dipandu oleh instruktur yang menguasai teknik dasar canyoneering.
"Ini memang wisata yang memacu adrenalin, tapi aspek keselamatan menjadi prioritas utama. Semua peserta menggunakan perlengkapan sesuai standar keselamatan," ujar Decky di Tapanuli Selatan, Minggu, 21 Juni 2026.
Antusiasme masyarakat terhadap kegiatan ini cukup tinggi. Decky menambahkan, peminatnya tidak hanya berasal dari komunitas pencinta alam, tetapi juga warga biasa yang ingin mencoba hal baru. Kegiatan canyoneering digelar secara rutin setiap akhir pekan, dan pemesanan peserta disebut telah penuh hingga akhir Juli 2026.
Potensi Baru di Tapanuli Selatan
Tidak hanya berhenti di Air Terjun Sisundung, KPA Forester telah melakukan survei terhadap sejumlah lokasi potensial lainnya. Dua di antaranya adalah Air Terjun Siadiasi di Desa Padang Lancat dan Goa Aek Badak Julu di Kecamatan Sayur Matinggi.
"Kedua lokasi tersebut direncanakan menjadi destinasi berikutnya yang diharapkan dapat memperkuat potensi wisata petualangan di Tapanuli Selatan," ungkap Decky.
Langkah ini dinilai strategis untuk memperluas daya tarik wisata alam di wilayah tersebut, sekaligus memberikan alternatif bagi wisatawan yang mencari tantangan berbeda.
Tarif dan Tantangan Pengembangan
Bagi yang tertarik mencoba, tarif promosi untuk mengikuti canyoneering di Air Terjun Sisundung saat ini sebesar Rp95 ribu per orang hingga akhir Juni 2026. Mulai 1 Juli 2026, tarif akan disesuaikan menjadi Rp120 ribu per orang.
Meski potensinya besar, perjalanan pengembangan wisata ini tidak sepenuhnya mulus. Decky mengakui bahwa keterbatasan infrastruktur jalan menuju sejumlah lokasi wisata masih menjadi kendala utama. Jalan yang rusak atau sempit kerap menyulitkan akses, terutama bagi wisatawan yang membawa kendaraan pribadi.
Namun, ia optimistis. Menurutnya, jika dikelola secara berkelanjutan dengan tetap memperhatikan aspek keselamatan dan kelestarian lingkungan, wisata canyoneering berpeluang menjadi daya tarik baru yang mampu meningkatkan kunjungan wisatawan sekaligus memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat setempat.
Editor: Bagus Kurnia
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Bogor Hornbills Bungkam Pelita Jaya 83-63, Samakan Kedudukan Final IBL 2026
5 Aplikasi Dracin Berbayar: Antara Peluang Cuan dan Risiko Penarikan Saldo
Wapres Gibran Pastikan RSUD Asmat Ditingkatkan ke Tipe C untuk Perkuat Layanan Kesehatan di Wilayah 3T
KA Ranggajati Resmi Beroperasi, Layani Rute Cirebon-Jember dengan Tiga Kelas