Wall Street Variatif di Tengah Sinyal Bertolak Belakang dari Micron dan Apple

- Jumat, 26 Juni 2026 | 01:25 WIB
Wall Street Variatif di Tengah Sinyal Bertolak Belakang dari Micron dan Apple
PARADAPOS.COM - Wall Street ditutup variatif pada perdagangan Kamis, 25 Juni 2026, di tengah volatilitas yang dipicu oleh sinyal bertolak belakang dari dua raksasa teknologi, Micron Technology dan Apple. Indeks S&P 500 melemah 0,1 persen ke level 7.354,42 poin, sementara Nasdaq Composite yang sarat saham teknologi turun 0,5 persen ke 25.358,60 poin. Sebaliknya, Dow Jones Industrial Average mencatatkan kenaikan tipis 0,1 persen ke 51.920,93 poin, setelah sempat menyentuh rekor intraday baru. Pelemahan dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah juga mewarnai sesi tersebut, setelah data inflasi utama keluar sesuai ekspektasi pasar.

Dua Narasi Besar dari Sektor Teknologi

Sesi perdagangan hari itu, menurut para analis, menjadi medan tarik-menarik antara optimisme dan kekhawatiran. Di satu sisi, laporan keuangan Micron Technology yang solid memicu reli. Di sisi lain, pengumuman kenaikan harga dari Apple justru menekan sentimen. “Pagi ini menyoroti sifat tarik-ulur harga. Para pedagang saham awalnya antusias setelah putaran pendapatan dan panduan yang solid dari Micron Technology (MU) setelah penutupan kemarin, tetapi kemudian terkejut dengan pengumuman kenaikan harga dari Apple (AAPL). Kedua cerita ini terkait erat dan telah menyebabkan sesi yang membuat indeks utama mencari arah,” ujar Steve Sosnick, kepala strategi di Interactive Brokers.

Micron Melesat, Apple Terperosok

Micron Technology menjadi bintang terang dengan lonjakan harga saham hampir 16 persen. Pembuat cip memori ini melaporkan pendapatan kuartalan yang luar biasa dan memberikan panduan bisnis yang melampaui perkiraan paling optimis sekalipun. Kinerja ini menjadi angin segar bagi investor yang baru saja diguncang aksi jual besar-besaran di saham pertumbuhan. Micron, yang sejak lama dipandang sebagai barometer industri semikonduktor, menunjukkan permintaan kuat dari sektor kecerdasan buatan dan pusat data berskala raksasa. Adam Crisafulli dari Vital Knowledge memberikan catatan penting. “Poin penting dari Micron bukanlah angka-angka FQ3 dan panduan FQ4, melainkan informasi tambahan mengenai ‘SCA’ (perjanjian pelanggan strategis) perusahaan, yang banyak ditekankan oleh manajemen sebagai cara untuk memberi sinyal kepada investor, booming saat ini lebih dari sekadar fenomena sementara,” jelasnya. Ia menambahkan, semakin stabil pendapatan Micron, semakin besar kemungkinan rasio P/E-nya akan meningkat. Permintaan yang tinggi ini diperkirakan akan menjaga pasokan memori tetap ketat dan harga tetap tinggi, meningkatkan harapan pengeluaran modal besar-besaran di sektor ini akan menghasilkan keuntungan nyata, bukan hanya beban utang yang membengkak. Kabar baik ini pun menyebar ke Asia. Saham pesaing Micron dari Korea Selatan, SK Hynix dan Samsung Electronics, melonjak tajam dalam perdagangan Kamis, setelah menjadi pusat penurunan tajam awal pekan ini. Optimisme semakin diperkuat oleh Qualcomm, yang memproyeksikan penjualan pusat data sebesar USD15 miliar pada 2029, mendorong sahamnya naik hampir empat persen. Namun, euforia itu tidak merata. Saham Apple justru ambles 6,1 persen. Raksasa teknologi asal Cupertino itu menaikkan harga MacBook, iPad, dan perangkat rumahan untuk mengimbangi kenaikan biaya akibat kekurangan cip memori dan penyimpanan. Besarnya kenaikan harga tersebut mengejutkan investor dan menjadi pemberat utama indeks.

Data PCE dan Dinamika Suku Bunga

Di luar hiruk-pikuk saham teknologi, perhatian pelaku pasar juga tertuju pada rilis data ekonomi Amerika Serikat. Indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) inti bulan Mei, yang menjadi indikator favorit The Fed, tercatat naik 0,3 persen secara bulanan dan 3,4 persen secara tahunan. Angka ini sesuai dengan perkiraan konsensus dan sedikit meningkat dari bulan sebelumnya. Secara keseluruhan, PCE meningkat 0,4 persen (mtm) dan 4,1 persen (yoy), sedikit di bawah perkiraan kenaikan 0,5 persen secara bulanan. Meski sesuai ekspektasi, angka PCE inti dan keseluruhan secara tahunan masih jauh di atas target inflasi The Fed sebesar dua persen. Data ini muncul di tengah dinamika prospek kebijakan moneter yang berubah cepat. Penutupan efektif Selat Hormuz sejak akhir Februari, akibat serangan gabungan AS-Israel terhadap Iran, telah menyebabkan gangguan pasokan minyak terbesar dalam sejarah. Hal ini memicu guncangan inflasi dan memaksa bank sentral global untuk menaikkan suku bunga atau memberi sinyal akan melakukannya. Minggu lalu, The Fed ikut serta dengan memberikan proyeksi ekonomi yang jauh lebih agresif dari perkiraan di bawah kepemimpinan ketua baru, Kevin Warsh. Grafik proyeksi suku bunga terbaru bank sentral menunjukkan setidaknya setengah dari pembuat kebijakan Komite Pasar Terbuka Federal mengantisipasi kenaikan suku bunga tahun ini. Para pelaku pasar pun bergegas menyesuaikan kembali taruhan mereka. Namun, penandatanganan kesepakatan perdamaian sementara antara AS dan Iran awal bulan ini, yang diikuti peningkatan lalu lintas pengiriman melalui Selat Hormuz, telah menyebabkan penurunan harga minyak. Harga minyak mentah Brent berjangka untuk kontrak September, patokan global, bahkan kembali ke level sebelum konflik dimulai. Kekhawatiran inflasi pun mulai mereda. Wall Street sebagian besar percaya bahwa laporan PCE Mei merupakan puncak dari dampak inflasi akibat lonjakan harga minyak mentah. Secara terpisah, angka akhir PDB kuartal I direvisi naik menjadi pertumbuhan 2,1 persen dari 1,6 persen dalam perkiraan sebelumnya. Sementara itu, jumlah warga Amerika yang mengajukan klaim pengangguran awal dalam seminggu terakhir turun menjadi 215 ribu, lebih rendah dari perkiraan 225 ribu.

Editor: Joko Susilo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar