PARADAPOS.COM - Anggota DPR dari Fraksi NasDem, Willy Aditya, yang juga menjabat sebagai Ketua Komisi XIII, meluncurkan inisiatif literasi di lingkungan Kompleks Parlemen, Jakarta, pada Jumat, 26 Juni 2026. Program ini menyasar para office boy (OB), petugas keamanan dalam (pamdal), dan sopir anggota DPR. Dalam sebuah talkshow bertajuk “Literasi Budaya untuk Demokrasi: Merawat Kearifan, Menguatkan Kebangsaan,” Willy mengusulkan pendirian Pojok Baca di area-area seperti basement, tempat parkir, dan ruang istirahat para petugas.
Membuka Akses Pengetahuan dari Lingkungan Terdekat
Willy menekankan bahwa ruang-ruang yang selama ini hanya menjadi tempat transit bisa disulap menjadi jendela pengetahuan yang mudah diakses. Fasilitas ini, menurutnya, terbuka bagi siapa saja tanpa memandang latar belakang atau seragam yang dikenakan.
“Niat baik membangun literasi bisa dimulai dari hal-hal yang ada di sekitar kita, untuk orang-orang di lingkungan kita sendiri,” kata Willy melalui keterangan tertulis.
Ia juga menyoroti peran penting para petugas yang kerap luput dari perhatian. “Memang para pemimpin sidang di DPR ini bisa lancar berkat siapa jika bukan karena pengamanan para Pamdal? Memang kerja para TA bisa selancar apa jika beberapa kebutuhannya tidak ditopang oleh para OB?” ungkapnya.
Langkah Awal: Buku Harian untuk Membangun Kebiasaan
Inisiatif ini tidak berhenti pada penyediaan rak buku. Sebagai langkah awal, Willy membagikan buku diari—atau buku harian—kepada para petugas kebersihan, petugas keamanan, dan karyawan DPR yang hadir dalam acara tersebut. Suasana di lokasi terlihat hangat saat ia menyerahkan buku-buku kecil itu satu per satu.
“Bukan buku tebal berisi teori. Hanya sebuah buku catatan kecil dengan harapan besar bahwa menulis, seperti membaca, bisa menjadi kebiasaan yang tumbuh dari keseharian,” jelasnya.
Literasi Lebih dari Sekadar Membaca
Menurut Willy, pemberian diari itu bukan tanpa alasan. Ia memandang literasi sebagai kemampuan yang lebih luas dari sekadar membaca teks.
“Literasi adalah pengetahuan yang memadai tentang sesuatu hal. Karena itulah dibutuhkan juga menulis agar tumbuh dialektika di dalam pikiran kita. Itulah sejatinya literasi,” ujarnya.
Pandangan ini mencerminkan pendekatan yang holistik, di mana membaca dan menulis berjalan beriringan untuk membentuk pemahaman yang utuh. Di tengah hiruk-pikuk aktivitas parlemen, langkah kecil Willy ini menjadi pengingat bahwa budaya literasi bisa tumbuh dari mana saja, termasuk dari sudut-sudut yang selama ini terlewat.
Editor: Reza Pratama
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
IHSG Berbalik Melemah ke 5.982 Setelah Sempat Menguat di Awal Perdagangan
Rupiah Melemah ke Rp17.988 per Dolar AS di Tengah Tekanan Inflasi AS yang Mereda
Harga Emas Pulih Ditopang Data Inflasi AS, Namun Ketegangan di Selat Hormuz Batasi Kenaikan
Wall Street Variatif di Tengah Sinyal Bertolak Belakang dari Micron dan Apple