PARADAPOS.COM - Menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang dijadwalkan berlangsung pada 1-5 Agustus 2026, seorang kader NU sekaligus kiai kampung, HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy, menyoroti perlunya evaluasi kepemimpinan organisasi. Ia mengingatkan adanya polarisasi struktural yang meluas dan pola relasi kerja masa lalu yang terus berulang. Pernyataan ini disampaikan Khalilur melalui keterangan tertulis pada Sabtu, 27 Juni 2027, sebagai bahan renungan bersama bagi seluruh warga nahdliyin.
Pola Kepemimpinan yang Berulang
Menurut Khalilur, sejarah NU pernah mencatat kehadiran sosok pemimpin pemersatu yang hingga kini dikenang publik. Dua nama yang ia soroti adalah Rais Aam KH Ahmad Siddiq dan KH Sahal Mahfudz. Keduanya dinilai memiliki kedalaman ilmu, keteduhan sikap, serta kemampuan merawat persatuan di tengah perbedaan.
"Pola yang terus berulang dari fase ke fase patut menjadi bahan renungan bersama," ujar Khalilur dalam keterangannya.
Ia menegaskan bahwa organisasi sebesar NU tidak sepantasnya terus-menerus disibukkan oleh konflik di level elite. Pernyataan ini mengemuka di tengah persiapan menuju musyawarah besar yang akan menentukan arah organisasi ke depan.
Harapan untuk Muktamar ke-35
Khalilur mendorong agar Muktamar NU ke-35 mampu melahirkan figur pucuk pimpinan yang mengedepankan keteduhan dan kesederhanaan hidup. Ia menekankan pentingnya sosok yang bisa bertindak sebagai perekat seluruh unsur jam'iyah.
"NU terlalu besar untuk terus-menerus disibukkan oleh konflik elite," katanya.
Lebih lanjut, ia mengajak seluruh warga nahdliyin untuk menilai secara jernih dan objektif figur kepemimpinan seperti apa yang dibutuhkan PBNU di masa depan. Ajakan ini disampaikan dengan harapan agar muktamar tidak lagi mewariskan pertengkaran berkepanjangan.
"Sudah saatnya Muktamar NU ke-35 menghadirkan kepemimpinan yang tidak lagi mewariskan pertengkaran berkepanjangan, melainkan kepemimpinan yang mampu mempersatukan seluruh warga nahdliyin," ucap Khalilur.
Jadwal dan Latar Belakang
Diketahui, Muktamar ke-35 NU dijadwalkan berlangsung pada 1-5 Agustus 2026. Jadwal tersebut ditetapkan dalam Musyawarah Nasional (Munas) dan Konferensi Besar (Konbes) NU 2026 yang digelar di Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Kediri, Jawa Timur. Suasana di lingkungan pesantren dan dinamika internal organisasi turut mewarnai diskusi-diskusi menjelang hajatan besar ini.
Editor: Rico Ananda
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Serangan Drone Israel di Gaza Tewaskan Seorang Perempuan di Tenda Pengungsi Al-Mawasi
Bahrain Kecam Serangan Drone Iran, Desak DK PBB Bertindak
Argentina Tutup Fase Grup Sempurna, Yordania Berjuang ke 32 Besar
Pieter Zulkifli: Supremasi Hukum Harus Jadi Fondasi Negara, Bukan Pelayan Kekuasaan