Bahrain Kecam Serangan Drone Iran, Desak DK PBB Bertindak

- Sabtu, 27 Juni 2026 | 13:50 WIB
Bahrain Kecam Serangan Drone Iran, Desak DK PBB Bertindak
PARADAPOS.COM - Bahrain secara resmi menyatakan bahwa wilayahnya menjadi sasaran serangan drone Iran pada Sabtu, 27 Juni 2026. Pemerintah Bahrain mengecam insiden tersebut sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatan negara dan hukum internasional, meskipun lokasi serta target spesifik dari serangan itu tidak diungkapkan ke publik. Peristiwa ini terjadi hanya beberapa jam setelah Amerika Serikat mengumumkan telah melancarkan serangan terhadap sejumlah fasilitas militer Iran sebagai respons atas dugaan serangan terhadap kapal dagang di Selat Hormuz.

Kecaman Resmi dari Manama

Dalam pernyataan resmi yang dimuat oleh kantor berita setempat, Kementerian Luar Negeri Bahrain menyebut serangan itu melibatkan "sejumlah drone Iran." Pemerintah setempat menilai bahwa tindakan ini tidak hanya membahayakan keselamatan warga sipil, tetapi juga berpotensi menggagalkan berbagai upaya diplomatik yang tengah berjalan untuk meredakan ketegangan di kawasan Timur Tengah. "Serangan yang terjadi pada dini hari itu membahayakan keselamatan warga sipil dan berpotensi menggagalkan berbagai upaya untuk meredakan ketegangan di kawasan," demikian bunyi pernyataan dari kementerian tersebut. Bahrain juga menegaskan bahwa pihaknya memiliki hak penuh untuk mempertahankan kedaulatan wilayahnya. Lebih lanjut, pemerintah Bahrain mendesak Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) untuk segera meminta pertanggungjawaban Iran atas insiden yang dinilai sebagai agresi militer ini.

Kronologi Serangan dan Respons AS

Serangan drone yang diklaim dilakukan oleh Iran ini terjadi hanya beberapa jam setelah Washington mengumumkan telah menyerang sejumlah lokasi penyimpanan rudal, drone, dan fasilitas radar Iran pada Jumat malam. Pemerintah Amerika Serikat menyatakan bahwa operasi militer tersebut merupakan respons langsung atas dugaan serangan Iran terhadap sebuah kapal dagang yang melintasi Selat Hormuz. Ketegangan ini semakin memanas ketika Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran angkat bicara. Mereka menyatakan bahwa pasukan angkatan lautnya telah menyerang sejumlah posisi militer Amerika Serikat di kawasan sebagai bentuk balasan. IRGC juga memperingatkan akan memberikan respons yang lebih keras apabila eskalasi konflik terus berlanjut.

Kesepakatan Damai di Tengah Konflik

Yang menarik, perkembangan terbaru ini terjadi di tengah adanya kesepakatan damai yang sebelumnya telah disepakati oleh kedua negara. Iran dan Amerika Serikat sebelumnya telah menyetujui Islamabad Memorandum of Understanding (MoU) yang dimediasi oleh Pakistan. Kesepakatan tersebut mulai berlaku pada 18 Juni setelah ditandatangani secara elektronik oleh Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. MoU itu menjadi dasar dimulainya perundingan selama 60 hari guna mencapai kesepakatan damai yang lebih komprehensif. Namun, serangan terbaru ini jelas menjadi ujian berat bagi kelangsungan perundingan tersebut. Situasi di lapangan menunjukkan bahwa meskipun ada kerangka diplomatik, ketegangan militer masih sangat rentan memicu konflik terbuka kapan saja.

Editor: Annisa Rachmad

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar