Menteri Transmigrasi Dorong Industrialisasi Kelapa Halmahera Utara untuk Ekspor ke China

- Jumat, 26 Juni 2026 | 19:50 WIB
Menteri Transmigrasi Dorong Industrialisasi Kelapa Halmahera Utara untuk Ekspor ke China
PARADAPOS.COM - Menteri Transmigrasi, Iftitah Sulaiman Suryanagara, mendorong industrialisasi berbasis potensi daerah sebagai strategi utama pengembangan kawasan transmigrasi. Dalam media gathering di Tebet, Jakarta Selatan, Jumat (26/6/2026), ia memaparkan bahwa potensi kelapa di Halmahera Utara, Maluku Utara, mampu menciptakan nilai tambah ekonomi yang signifikan, membuka ribuan lapangan kerja, dan bahkan membuka peluang ekspor ke China. Gagasan ini menekankan pentingnya pengolahan komoditas mentah menjadi produk bernilai tinggi.

Industrialisasi Kelapa: Dari Pohon ke Pasar Global

Iftitah mengawali pemaparannya dengan data konkret. Di Halmahera Utara, terdapat sekitar 6,9 juta pohon kelapa yang tersebar di kawasan transmigrasi. Ia menjelaskan bahwa potensi ini tidak lagi dimanfaatkan secara tradisional. “Di Halmahera Utara itu ada kelapa, potensinya kelapa. Ada 6.900.000 pohon kelapa. Ya, 6.900.000 pohon kelapa, ada kawasan transmigrasi misalnya, isinya kelapa semua,” ujarnya. Lebih lanjut, ia menguraikan bagaimana industrialisasi mengubah rantai nilai komoditas tersebut. “Ternyata, industrialisasi yang diinisiasi menciptakan nilai tambah ekonomi yang luar biasa. Mengapa begitu? Tidak lagi memetik kelapa, menjual kelapa mentah. Tapi ada susu kelapa, ada air kelapa, ada dagingnya sendiri kelapa, bisa kelapa itu dibikin kosmetik. Bahkan yang terakhir sekarang, sabut kelapanya dia ekspor. Jadi dari satu komoditas saja turunannya itu banyak,” tuturnya.

Dampak Nyata: Lapangan Kerja dan Pertumbuhan Ekonomi Lokal

Menurut Iftitah, dampak industrialisasi ini sudah terlihat secara visual. Kawasan Halmahera Utara mengalami kemajuan yang nyata. “Kelapa stay di situ, diolah oleh industri. Nah, tumbuhlah, menciptakan lapangan kerja untuk industrinya saja itu sekitar 4.000, 85 persen dari masyarakat lokal. Visual saja kelihatan, ada supermarket, terus kemudian ada restoran, tumbuh pula, secara visual saja sudah kelihatan,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa produksi kelapa di Halmahera Utara mencapai 620 juta butir per tahun. Angka ini membuka peluang ekspor yang besar, terutama ke China. “Sekarang kita lihat market-nya, pasarnya, Tiongkok, satu negara saja, per tahun itu menghabiskan konsumsinya 4 miliar butir kelapa. Mereka hanya mampu memenuhi 1 miliar butir kelapa, berarti ada gap 3 miliar butir kelapa. Bayangkan, dari Halmahera Utara saja bisa memenuhi 1,5 sampai 1,8,” ungkapnya.

Potensi Lain: Mangga Pasuruan dan Peluang ke Jepang

Tidak hanya kelapa, Iftitah juga menyoroti potensi mangga di Pasuruan. Ia bercerita tentang pengalamannya saat berdinas di sana. “Saya jadi petani mangga, ternyata suhunya beda, jam karetnya beda, sinar mataharinya beda, itu yang membuat mangga Pasuruan beda,” katanya. Iftitah bahkan berandai-andai jika dirinya menjadi Bupati Pasuruan, ia akan menanam mangga secara besar-besaran. “Tidak ada yang sehebat mangga Pasuruan. Kalau saya jadi Bupati Pasuruan, tidak boleh ada satu jengkal pun di Pasuruan yang tidak ditanami mangga, arumanis. Harus begitu. Karena itu kekayaan yang diberikan oleh Tuhan,” ujarnya dengan penuh semangat. Ia mendorong pembangunan industri mangga secara end-to-end, terutama untuk menembus pasar Jepang yang telah lama menjadi incaran. “Sudah 20 tahun mangga kita tidak bisa masuk ke Jepang, padahal orang Jepang menginginkan. Kenapa? Karena kita tidak pernah end-to-end. Harusnya kita tanya dulu orang Jepang, gimana supaya masuk, 'Oh, hamanya, ininya, itunya,' baru ke hulunya, kita ikuti, pengemasannya, sampai nyampe sana,” pungkasnya.

Editor: Laras Wulandari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini