PKB Punya Tanggung Jawab Moral Jaga Masa Depan NU, Tegaskan Cak Imin

- Sabtu, 27 Juni 2026 | 21:25 WIB
PKB Punya Tanggung Jawab Moral Jaga Masa Depan NU, Tegaskan Cak Imin
PARADAPOS.COM - Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Abdul Muhaimin Iskandar, yang akrab disapa Cak Imin, menegaskan bahwa partainya memiliki tanggung jawab moral terhadap masa depan Nahdlatul Ulama (NU). Pernyataan ini ia sampaikan dalam acara Sholawat Kebangsaan dan Pentas Kebudayaan pada Sabtu, 27 Juni 2026. Cak Imin mengurai posisi PKB sebagai “anak kandung” NU yang harus ikut memikirkan perkembangan organisasi keagamaan terbesar di Indonesia itu, tanpa bermaksud mencampuri urusan internal.

PKB dan Tanggung Jawab sebagai Anak Kandung NU

Di tengah sorotan publik, Cak Imin menjelaskan bahwa hubungan PKB dengan NU bukan sekadar hubungan struktural, melainkan ikatan historis yang lahir dari rahim perjuangan. Menurutnya, PKB yang kini duduk di kursi eksekutif dan legislatif memiliki kewajiban untuk turut serta dalam pembangunan NU ke depan. “PKB ini selain berada di eksekutif dan legislatif, sebagai anak NU juga punya tanggung jawab memikirkan NU. Kalau tidak ikut memikirkan dimarahi, ikut memikirkan dianggap campur tangan. Kan repot kalau begitu,” bebernya dengan nada santai namun serius.

NU Sehat, Negara Untung

Dalam kesempatan yang sama, Cak Imin menekankan pentingnya menjaga kondisi NU agar tetap bugar. Ia meyakini bahwa kesehatan organisasi ini berdampak langsung pada keberhasilan program-program pemerintah. “NU harus sehat. Kalau NU tidak sehat, yang rugi negara. Kalau NU tidak sehat, yang rugi pemerintah. Karena kalau NU, Muhammadiyah, dan ormas-ormas lainnya sehat, mereka bisa membantu pemerintah menyukseskan pembangunan,” tuturnya. Ia menambahkan, beban pemerintah dalam melaksanakan pembangunan bisa diringankan jika NU semakin kuat dan produktif. “Kalau NU kuat, NU produktif, maka akan meringankan beban dan tanggung jawab pemerintah,” ujarnya.

Bantahan soal Campur Tangan

Cak Imin juga membantah anggapan bahwa PKB kerap ikut campur dalam kebijakan NU. Ia menegaskan bahwa kritik yang dilontarkan partainya justru didasari rasa tanggung jawab, bukan intervensi. “Saya kalau mengkritik NU suka ada yang marah, dibilang PKB ikut-ikut. Tidak, kita tidak ikut-ikut, tapi kita bertanggung jawab. Kita ikut memikirkan masa depan NU bukan hanya karena kita anaknya NU, tetapi karena bangsa ini membutuhkan NU yang semakin berperan. Semakin NU berperan dengan baik, semakin besar peluang bangsa ini meraih kemajuan,” pungkasnya.

Editor: Clara Salsabila

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar