AS dan Iran Saling Serang Lima Hari Setelah Pertemuan Diplomatik di Swiss

- Sabtu, 27 Juni 2026 | 20:25 WIB
AS dan Iran Saling Serang Lima Hari Setelah Pertemuan Diplomatik di Swiss
PARADAPOS.COM - Upaya diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran kembali menemui jalan terjal. Kedua negara terlibat aksi saling serang yang mengancam proses perdamaian yang tengah dirintis. Ketegangan terbaru dipicu oleh klaim serangan udara AS terhadap fasilitas militer Iran sebagai balasan atas dugaan serangan drone ke kapal dagang di Selat Hormuz. Peristiwa ini terjadi hanya lima hari setelah pertemuan bilateral di Swiss, membuat situasi keamanan di Timur Tengah kian tidak menentu.

Serangan Balasan di Selat Hormuz

Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM) merilis rekaman yang diklaim sebagai bukti serangan ke fasilitas penyimpanan rudal, drone, dan radar pantai milik Iran. Informasi ini disiarkan dalam tayangan Metro Hari Ini Metro TV, Sabtu 27 Juni 2026. Menurut CENTCOM, operasi militer itu merupakan respons langsung atas insiden di Selat Hormuz. Sebuah kapal berbendera Singapura, MV Ever Lovely, diduga menjadi sasaran serangan drone saat melintasi perairan strategis tersebut. Beruntung, insiden itu hanya menyebabkan kerusakan ringan pada kapal. "Operasi itu dilakukan setelah kapal berbendera Singapura, MV Ever Lovely, diduga diserang drone saat melintasi Selat Hormuz," demikian pernyataan resmi CENTCOM.

Klaim Iran dan Ancaman Balasan

Di sisi lain, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim berhasil menggagalkan serangan Amerika Serikat di wilayah selatan negaranya. Pemerintah Iran langsung bereaksi keras. Pemerintah Iran memperingatkan akan memberikan respons tegas apabila kembali menjadi sasaran serangan militer. Peringatan ini mempertegas sikap Teheran yang tidak akan tinggal diam terhadap apa yang mereka sebut sebagai agresi asing.

Diplomasi di Ambang Kegagalan

Insiden terbaru ini terjadi hanya lima hari setelah pertemuan antara AS dan Iran di Swiss. Pertemuan yang diharapkan dapat menjadi titik terang bagi perdamaian justru belum membuahkan hasil permanen. Hingga kini, kedua negara masih belum mencapai kesepakatan yang dapat mengakhiri ketegangan. Situasi ini membuat kawasan Timur Tengah berada dalam ketidakpastian, dengan Selat Hormuz kembali menjadi titik rawan konflik.

Editor: Yuli Astuti

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar