Permindo Dukung Kenaikan Harga Ayam Hidup, Minta Pemerintah Awasi Ketat Biaya Produksi

- Rabu, 01 Juli 2026 | 10:51 WIB
Permindo Dukung Kenaikan Harga Ayam Hidup, Minta Pemerintah Awasi Ketat Biaya Produksi
PARADAPOS.COM - Perhimpunan Peternak Rakyat Mandiri Indonesia (Permindo) menyatakan dukungannya terhadap langkah pemerintah yang berupaya mengembalikan harga ayam hidup ("livebird") ke tingkat yang layak bagi peternak. Namun, organisasi ini menekankan bahwa keberhasilan kebijakan tersebut sangat bergantung pada pengawasan ketat terhadap biaya produksi, khususnya harga "day old chick" (DOC) dan pakan. Permindo mendesak agar komitmen yang telah disepakati tidak hanya berhenti pada kenaikan harga jual, tetapi juga menyentuh aspek pengendalian biaya di lapangan.

Pengawasan Transparan dan Keseimbangan Produksi

Sekretaris Jenderal Permindo, Heri Irawan, dalam keterangan tertulisnya pada Rabu, 1 Juli 2026, menegaskan harapannya agar pemerintah mengawal implementasi komitmen ini secara transparan. Menurutnya, pengawasan harus mencakup pergerakan harga DOC, penyerapan "livebird" di pasaran, serta keseimbangan produksi secara keseluruhan. Tanpa pengawasan yang ketat, dikhawatirkan kebijakan ini hanya akan menjadi wacana tanpa dampak nyata.

Kenaikan Harga DOC Tergerus Margin Peternak

Heri mengakui bahwa harga "livebird" memang mulai menunjukkan perbaikan. Namun, di saat yang bersamaan, kenaikan harga DOC terjadi dengan laju yang lebih cepat. Akibatnya, margin keuntungan yang sempat mulai pulih kembali tergerus. Kondisi ini membuat peternak rakyat kembali berada dalam posisi yang sulit. Saat ini, harga DOC berada di kisaran Rp3.000 hingga Rp4.000 per ekor. Sementara itu, harga pakan mencapai Rp8.700 hingga Rp9.000 per kilogram. Angka-angka ini menjadi beban berat bagi peternak yang harus mengelola biaya produksi di tengah fluktuasi harga jual.

Komitmen yang Belum Menyentuh Akar Masalah

Menurut Heri, dokumen komitmen yang telah ditandatangani bersama memang menargetkan harga "livebird" naik hingga minimal Rp19.500 per kilogram. Akan tetapi, kesepakatan tersebut dinilai belum secara tegas mengatur mekanisme pengendalian harga DOC maupun biaya produksi lainnya. Padahal, tanpa pengendalian biaya, kenaikan harga jual hanya akan menjadi solusi sementara. "Keberhasilan stabilisasi tidak diukur dari naiknya harga "livebird" semata, tetapi dari meningkatnya kesejahteraan peternak rakyat secara nyata," ujar Heri. Ia menambahkan bahwa stabilisasi industri perunggasan tidak cukup hanya melalui kenaikan harga jual ayam. Kesejahteraan peternak harus diimbangi dengan pengendalian biaya produksi agar manfaat kebijakan benar-benar dirasakan hingga ke tingkat akar rumput.

Editor: Joko Susilo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar