Yamal Jawab Keraguan di Piala Dunia 2026: Gol Perdana hingga Beban Jadi Penerus Messi

- Jumat, 03 Juli 2026 | 06:00 WIB
Yamal Jawab Keraguan di Piala Dunia 2026: Gol Perdana hingga Beban Jadi Penerus Messi
PARADAPOS.COM - Piala Dunia 2026 baru saja dimulai, namun kegelisahan sudah menyelimuti dunia sepak bola. Spanyol, tim unggulan, ditahan imbang tanpa gol di laga pembuka, memicu pertanyaan kritis: apakah generasi baru mereka benar-benar siap? Anehnya, ujung dari pertanyaan itu seolah diarahkan kepada seorang remaja berusia delapan belas tahun. Beberapa hari kemudian, saat Spanyol menghadapi Arab Saudi, sebagian suporter lawan meneriakkan, “Where is Yamal?” Sepuluh menit setelah peluit pertama, dunia mendapat jawabannya. Bola mengalir ke sisi kanan lapangan, diterima dengan tenang oleh remaja itu. Ia membiarkan bek di depannya mendekat, lalu dengan satu gerakan kecil kaki kirinya mengubah arah permainan. Bek kehilangan keseimbangan, ruang terbuka, dan Yamal masuk ke kotak penalti. Gol. Gol pertamanya di Piala Dunia. Stadion bergemuruh. Beberapa jam kemudian, hanya dua kata muncul di media sosialnya: “I’m here.” Tidak panjang, tidak berlebihan, tetapi cukup untuk menjawab semua keraguan.

Lebih dari Sekadar Gol

Namun, jawaban Yamal kepada dunia tidak berhenti pada satu gol. Ketika Spanyol menyingkirkan Austria di babak gugur, namanya memang tidak tercatat sebagai pencetak gol. Tetapi hampir setiap serangan berbahaya lahir dari kakinya. Ia terus menarik dua hingga tiga pemain bertahan, membuka ruang bagi rekan-rekannya, dan mengubah ritme permainan tanpa harus menjadi tokoh utama. Saat itulah saya sadar, pemain besar tidak selalu dikenang karena gol yang dicetaknya. Kadang-kadang dikenang karena caranya membuat seluruh tim bermain lebih baik.

Keberanian di Bawah Tekanan

Yang paling membuat saya kagum bukanlah golnya, melainkan keberaniannya. Sepanjang pertandingan, Lamine Yamal terus meminta bola. Berkali-kali berani menerima umpan ketika dijaga dua pemain. Berkali-kali memilih menggiring bola ketika pilihan paling aman adalah mengoper. Ada dribel yang memancing sorak penonton. Ada umpan yang membelah pertahanan. Ada keputusan-keputusan berani yang menghidupkan kembali permainan Spanyol. Di sini, yang saya lihat bukan sekadar pemain muda, melainkan seorang remaja yang berani memikul tanggung jawab ketika jutaan pasang mata sedang menatapnya. Ironisnya, bahkan selebrasinya ikut menjadi perdebatan. Ada yang membahas sujud syukurnya. Ada yang menyoroti selebrasi “304”, penghormatan kepada Rocafonda, tempatnya dibesarkan. Ada pula yang lebih sibuk memperdebatkan maknanya daripada menikmati permainannya. Di situlah saya menyadari, bahkan cara seorang anak merayakan kebahagiaan pun kini bisa berubah menjadi perdebatan dunia. Bukankah itu tanda bahwa ekspektasi terhadap Yamal telah melampaui sepak bola?

Label yang Terlalu Cepat

Beberapa menit setelah pertandingan berakhir, dunia kembali melakukan kebiasaan lamanya: memberi label. The Wonderkid, The Next One, Messi Baru, Calon Ballon d’Or, dan sebutan lainnya. Saat itulah saya berpikir, mengapa setiap kali dunia melihat seorang anak yang luar biasa, yang pertama kali kita cari justru bayang-bayang orang lain? Padahal, Lamine Yamal tidak pernah meminta menjadi penerus siapa pun. Beberapa tahun sebelumnya, dunia kembali mengingat sebuah foto lama. Lionel Messi menggendong seorang bayi dalam sebuah kegiatan amal. Bayi itu adalah Lamine Yamal. Banyak orang menyebutnya pertanda, seolah-olah takdir telah memilih pewaris sejak bayi. Menurut saya, justru kita sedang melihat foto itu dengan cara yang keliru. Foto itu bukan tentang lahirnya seorang penerus. Foto itu mengingatkan kita bahwa bahkan seorang legenda dan seorang anak yang kelak menjadi bintang, sama-sama memulai hidup sebagai manusia biasa. Tidak ada yang tahu siapa bayi itu akan menjadi. Bahkan Messi pun tidak mungkin membayangkan bahwa anak yang pernah berada dalam pelukannya suatu hari akan dibandingkan dengannya. Ironisnya, beban terbesar Yamal bukanlah foto itu. Beban terbesarnya adalah jutaan orang yang ingin menjadikan foto itu sebagai ramalan.

Akar dari Rocafonda

Kisahnya dimulai di Rocafonda, kawasan sederhana di Mataró. Ayahnya berasal dari Maroko. Ibunya berasal dari Guinea Ekuatorial. Di sana tidak ada yang berbicara tentang Ballon d’Or atau rekor. Yang ada hanyalah seorang anak yang pulang dengan lutut penuh debu karena terlalu lama bermain bola. Kemudian datang La Masia. Banyak orang mengira akademi itu memproduksi Messi berikutnya. Menurut saya, mereka keliru. La Masia tidak pernah mengajarkan anak-anak menjadi Messi. La Masia mengajarkan setiap anak menemukan versi terbaik dirinya sendiri. Ironisnya, ketika Yamal keluar dari akademi itu, dunia justru sibuk menjadikannya salinan orang lain. Lihat bagaimana ia bermain. Banyak pemain muda menggiring bola untuk melewati lawan. Yamal justru menggiring bola untuk mengundang lawan mendekat. Begitu dua pemain bergerak menghentikannya, ruang terbuka di tempat lain. Dalam satu sentuhan, ancaman berubah menjadi peluang. Yang membuatnya istimewa bukan hanya teknik atau kecepatannya, melainkan keberaniannya mengambil keputusan ketika tekanan sedang berada di titik tertinggi.

Ekspektasi yang Berubah Cepat

Yang menarik, semakin jauh Spanyol melangkah di Piala Dunia, semakin berubah pula cara dunia memandangnya. Pada awal turnamen orang bertanya, “Apakah anak ini sudah siap?” Kini pertanyaannya berubah menjadi, “Seberapa jauh Yamal bisa membawa Spanyol?” Dalam hitungan beberapa pertandingan, ekspektasi kepada seorang remaja berubah lebih cepat daripada usianya sendiri. Kadangkala seperti itulah pula kenyataan hidup di luar lapangan hijau. Ada anak yang mendapat nilai seratus lalu langsung disebut calon dokter. Ada yang pandai berbicara lalu dipaksa menjadi pemimpin. Ada yang sukses lebih cepat daripada teman-temannya, lalu perlahan kehilangan hak untuk gagal. Kita terlalu cepat memberi label. Terlalu cepat menentukan masa depan. Terlalu lambat memberi ruang. Padahal setiap anak membutuhkan hak yang sama. Hak untuk belajar. Hak untuk gagal. Hak untuk berubah. Hak untuk menemukan dirinya sendiri.

Menunggu yang Asli, Bukan Salinan

Mungkin suatu hari nanti Lamine Yamal akan mengangkat Piala Dunia. Mungkin juga akan memenangkan Ballon d’Or. Dan mungkin akan menjadi legenda. Atau mungkin jalan hidupnya akan berbeda dari semua prediksi hari ini. Tetapi saya berharap, ketika hari itu tiba, kita tidak berkata, “Akhirnya kita menemukan Messi yang baru.” Melainkan, “Akhirnya dunia mengenal Lamine Yamal.” Sebab, Lamine Yamal tidak pernah meminta menjadi penerus Messi. Pula tidak pernah meminta menjadi penerus Cristiano Ronaldo. Dunialah yang terlalu takut kehilangan dua legenda itu, sehingga terburu-buru mencari penggantinya. Padahal, sepak bola mungkin tidak sedang menghadirkan Messi berikutnya. Sepak bola sedang menghadirkan Lamine Yamal yang sesungguhnya. Dan mungkin, itulah hadiah terbesar yang bisa diberikan kepada seorang anak berbakat. Bukan beban untuk menjadi orang lain, melainkan kebebasan untuk menjadi dirinya sendiri. Kisah berikutnya tentang Sang Kapten Kroasia. Benarkah bagi Luka Modrić, nasib hanyalah titik berangkat, bukan garis akhir? Nantikan ceritanya.

Editor: Dian Lestari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar