PARADAPOS.COM - Jaksa penuntut Jerman secara resmi mendakwa seorang perwira militer Ukraina atas keterlibatannya dalam sabotase pipa gas Nord Stream pada tahun 2022. Dalam dakwaan yang diajukan terhadap tersangka bernama Serhii Kuznietsov, jaksa menyebut aksi peledakan itu dilakukan atas perintah otoritas negara Ukraina. Peristiwa yang mengguncang kawasan Laut Baltik itu menghancurkan tiga dari empat jalur pipa utama yang menghubungkan Rusia dengan Jerman, sekaligus melepaskan metana dalam jumlah besar ke atmosfer. Kasus ini kini menjadi ujian diplomatik yang rumit antara Ukraina dan sekutu militernya, Jerman.
Kronologi Sabotase dan Penangkapan Tersangka
Serangan terhadap pipa Nord Stream terjadi pada September 2022. Ledakan bawah laut itu merusak infrastruktur energi vital Eropa yang membentang dari Rusia ke Jerman. Dalam pernyataan yang dirilis Kamis (2/7/2026), jaksa Jerman mengungkapkan bahwa tersangka, Kuznietsov, adalah seorang perwira aktif di tentara Ukraina.
“Ia dan anggota militer lainnya… mengembangkan rencana untuk menghancurkan” pipa gas tersebut, demikian bunyi pernyataan resmi jaksa penuntut. Motifnya, menurut mereka, adalah untuk merampas pendapatan gas Rusia.
Kuznietsov sendiri ditangkap pada musim panas 2025 di Italia. Ia kemudian diekstradisi ke Jerman pada November tahun yang sama. Proses hukum terhadapnya berjalan hampir setahun sebelum dakwaan resmi diumumkan.
Peran Tersangka dalam Operasi Bawah Laut
Jaksa menguraikan secara rinci bagaimana operasi sabotase itu direncanakan. Kuznietsov disebut memimpin sebuah tim yang terdiri dari beberapa penyelam profesional, seorang kapten kapal, dan seorang ahli bahan peledak.
Mereka menyewa sebuah kapal pesiar di pelabuhan Rostock, Jerman, yang terletak di pesisir Laut Baltik. Untuk menyembunyikan identitas, seluruh anggota tim menggunakan dokumen palsu. Dari sana, mereka bergerak menuju lokasi pipa dan memasang bahan peledak di dasar laut.
Dampak Diplomatik dan Lingkungan
Dakwaan ini langsung mempersulit hubungan bilateral antara Ukraina dan Jerman. Berlin selama ini menjadi salah satu pendukung militer terbesar Kyiv sejak invasi Rusia pada Februari 2022. Tuduhan bahwa otoritas negara Ukraina terlibat langsung dalam sabotase infrastruktur energi Eropa menjadi ironi yang pahit.
Selain goncangan politik, ledakan tersebut juga menimbulkan kerusakan lingkungan yang serius. Ratusan ribu ton metana terlepas ke atmosfer, menjadikannya salah satu kebocoran gas rumah kaca terbesar yang pernah tercatat akibat ulah manusia.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari pemerintah Ukraina mengenai isi dakwaan tersebut. Proses hukum terhadap Kuznietsov di Jerman diperkirakan akan berlangsung dalam beberapa bulan ke depan.
Editor: Yoga Santoso
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
MK Putuskan Penarikan Kendaraan Kredit Macet Wajib Lewat Pengadilan Jika Debitur Keberatan
BPJS Kesehatan Catat 282,7 Juta Peserta JKN per Akhir 2025, Capai 98,62 Persen Penduduk
Ditjen Imigrasi Gandeng KPK Perkuat Integritas dan Cegah Gratifikasi di Lingkungan Internal
Polisi Gugur, Dua Anggota Hilang saat Penggerebekan Narkoba di Katingan