Black Sherpa Jual 4.000 Tenda, Pendiri Lepas 15% Saham demi Bangun Pabrik Tenda Lokal

- Minggu, 05 Juli 2026 | 11:50 WIB
Black Sherpa Jual 4.000 Tenda, Pendiri Lepas 15% Saham demi Bangun Pabrik Tenda Lokal
PARADAPOS.COM - Sebuah merek perlengkapan outdoor lokal, Black Sherpa, berhasil mencuri perhatian di ajang Juragan Jaman Now (JJN) Season 5 setelah berhasil menjual lebih dari 4.000 unit tenda sejak berdiri pada 2019. Pendiri perusahaan, Musa Arridho, menawarkan 15 persen saham senilai Rp1,5 miliar untuk mewujudkan ambisinya membangun industri manufaktur tenda dalam negeri. Langkah ini diambil di tengah potensi pasar tenda outdoor di Indonesia yang diperkirakan mencapai Rp600 miliar, namun masih didominasi produk impor.

Berawal dari Kebutuhan Pribadi

Ide bisnis ini lahir dari pengalaman pribadi Musa yang kesulitan mencari tenda ultralight di pasar Indonesia. Ketiadaan produk lokal yang memadai mendorongnya untuk memulai usaha sendiri. Kini, Black Sherpa hadir tidak sekadar sebagai merek, melainkan sebagai inisiatif untuk membangun ekosistem produksi lokal. "Ini bukan soal mendanai sebuah brand tenda biasa. Ini adalah kesempatan untuk ikut serta membangun industri manufacturing tenda pertama di Indonesia," ujar Musa dalam tayangan JJN Season 5, Minggu, 5 Juni 2026. Menurutnya, celah pasar (gap) antara besarnya permintaan dan minimnya produsen lokal masih sangat lebar. "Black Sherpa hadir untuk menyelesaikan gap tersebut. Kami membangun manufacturing tenda sendiri di dalam negeri," lanjutnya.

Penjualan Seratus Persen Daring dan Basis Pelanggan Setia

Dalam sesi tanya jawab, panelis Reino Barack menyoroti pencapaian penjualan yang telah menembus angka empat ribu unit. Musa menjelaskan bahwa seluruh transaksi dilakukan secara online. Yang menarik, sekitar 20 hingga 30 persen dari total konsumen merupakan pelanggan yang melakukan pembelian ulang. "Sebagian ada yang repeat order, dan dari repeat order ini ada komunitasnya tersendiri yang terus berkembang," tambah Musa. Ia juga memastikan bahwa setiap proses produksi dikerjakan secara handmade dengan bantuan mesin industri. Kombinasi ini dipilih untuk menjaga konsistensi kualitas produk di tengah keterbatasan kapasitas.

Sistem Pre-Order: Antara Permintaan dan Kapasitas

Meski permintaan terus mengalir, Black Sherpa masih bergantung pada sistem pre-order. Alasannya klasik: kapasitas produksi yang belum mampu mengejar lonjakan pesanan. Dampaknya, pelanggan harus bersabar menunggu dalam waktu yang tidak sebentar. "PO-nya bisa sampai tiga bulan bahkan satu tahun. Justru rating kami agak rendah bukan karena produknya, tetapi karena lamanya waktu tunggu. Black Sherpa memang terkenal dengan lamanya," ungkap Musa. Mentor Peter Shearer melihat situasi ini sebagai peluang. Menurutnya, suntikan modal segar dapat menjadi solusi untuk memutus rantai ketergantungan pada sistem pre-order. "Dengan adanya modal ini mereka bisa produksi lebih banyak, punya inventaris, sehingga kapan pun orang mau beli tinggal beli. Opportunity-nya tidak hilang," kata Peter.

Keunggulan Produk Lokal dan Layanan Purnajual

Saat ditanya mengenai keunggulan kompetitif, Musa menekankan tiga hal: tenda yang ringan, aman, dan diproduksi di Indonesia. Ia juga menyoroti layanan perbaikan produk (repair gear) yang jarang ditemukan pada merek impor. Layanan ini, menurutnya, menjadi nilai tambah yang signifikan. Lebih dari itu, Black Sherpa mengklaim sebagai merek tenda lokal pertama yang menerapkan sejumlah teknologi penguatan material. Inovasi ini dirancang untuk meningkatkan faktor keamanan saat digunakan di alam terbuka, sebuah aspek krusial yang kerap menjadi kekhawatiran utama para penggiat outdoor.

Membangun Ikatan Emosional dengan Konsumen

Panelis Rex Marindo memberikan catatan penting. Ia menilai produk Black Sherpa sudah fungsional, namun perlu diperkuat dengan narasi yang menyentuh sisi emosional konsumen. "Kalau ini diperkuat dengan cerita sebagai karya anak bangsa, itu bisa menjadi emotional approach. Karena kalau hanya bicara produk fungsional, kompetitor besar juga bisa menawarkan kualitas dan harga yang kompetitif," ujar Rex. Senada dengan Rex, Peter Shearer menambahkan bahwa bisnis ini memiliki fondasi yang kokoh. Ia melihatnya lahir dari passion, berada di industri outdoor yang sedang naik daun, dan memiliki potensi besar jika ditopang manajemen serta kapasitas produksi yang lebih baik. "Ini local pride. Bisnis ini lahir dari passion, tren outdoor juga terus naik, dan yang paling menarik adalah potensinya untuk berkembang jauh lebih besar dengan dukungan investor dan manajemen yang tepat," ujar Peter.

Dinobatkan sebagai Terjuragan

Penampilan Black Sherpa di JJN Season 5 berbuah manis. Selain mendapat perhatian dari para panelis, merek ini dinobatkan sebagai Terjuragan pada episode tersebut dan berhak atas dana bantuan sebesar Rp10 juta. Mewakili panelis, Irwan Mussry menjelaskan alasan di balik keputusan tersebut. "Seorang juragan atau entrepreneur harus mempunyai drive dan passion, itu sangat penting sekali. Selain itu, kami juga melihat Black Sherpa sudah mempersiapkan dan mempelajari struktur bisnisnya dengan baik. Dengan dua hal itu saja kami bisa dengan cepat memutuskan bahwa Black Sherpa menjadi Terjuragan pada hari ini," ujar Irwan. Ia menambahkan bahwa kesiapan struktur bisnis sering kali diabaikan oleh pelaku usaha. Padahal, hal itu merupakan fondasi penting sebelum sebuah bisnis bisa melangkah ke tahap berikutnya. Irwan berharap pencapaian Black Sherpa bisa menjadi inspirasi bagi peserta lain untuk tidak hanya fokus pada produk, tetapi juga membangun sistem dan struktur bisnis yang matang.

Editor: Bagus Kurnia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar