PARADAPOS.COM - Ribuan pelayat memadati Kompleks Imam Khomeini Mosalla di Teheran pada Minggu, 5 Juli 2026, untuk mengikuti prosesi pemakaman mantan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Suasana duka berbaur dengan kemarahan ketika sebagian pelayat meneriakkan seruan balas dendam terhadap Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Khamenei tewas bersama sejumlah anggota keluarganya dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari lalu, dan pemakamannya sempat tertunda selama beberapa bulan akibat konflik yang masih berlangsung kala itu.
Seruan Balas Dendam Menggema di Tengah Doa
Dalam upacara doa penghormatan terakhir, penyair Mohammad Rasouli membacakan puisi yang berisi seruan agar Trump dibunuh sebagai bentuk pembalasan atas kematian Khamenei. “Demi darahmu, membunuh Trump adalah tanggung jawab kami,” kata Rasouli di hadapan para pelayat. Pernyataan itu sontak memicu beragam reaksi, meski sebagian besar hadirin menyambutnya dengan sorak-sorai yang menggema di seluruh area kompleks.
Prosesi doa dipimpin oleh ulama senior Ayatollah Ja'far Sobhani. Selain mendoakan Khamenei, doa juga dipanjatkan untuk empat anggota keluarganya yang turut tewas, termasuk menantu perempuan Zahra Haddad Adel dan cucunya yang masih berusia 14 bulan, Zahra Mohammadi Golpaygani. Ribuan pelayat telah memenuhi kompleks masjid sejak sebelum fajar, membawa bendera Iran, foto Khamenei, serta bendera merah yang dalam tradisi Syiah melambangkan tuntutan balas dendam.
Suasana di Lokasi dan Absennya Pemimpin Baru
Di sela-sela doa, seruan “Tidak ada kompromi, tidak ada penyerahan diri, hanya balas dendam” beberapa kali menggema di area kompleks. Suasana terasa berat, namun tetap terkendali. Para pelayat berdesakan di setiap sudut, sebagian terlihat menangis, sebagian lainnya mengepalkan tangan ke udara.
Menariknya, Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, belum kembali tampil di hadapan publik sejak diangkat menggantikan ayahnya. Berbeda dengan tiga saudaranya yang terlihat menghadiri prosesi, Mojtaba tidak tampak dalam upacara tersebut. Kehadiran sejumlah pejabat tinggi Iran, termasuk unsur pemerintahan, militer, dan peradilan, justru dinilai sebagai sinyal bahwa gencatan senjata dengan Amerika Serikat masih tetap berlaku.
Reaksi Trump dan Rangkaian Pemakaman Selanjutnya
Di luar prosesi, Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengaku terkejut melihat banyak warga Iran menangis dalam prosesi pemakaman Khamenei. “Saya kira mereka membencinya. Mungkin itu air mata palsu,” ujar Trump. Komentar tersebut langsung memicu tanggapan keras dari sejumlah pejabat dan media Iran.
Menurut panitia, rangkaian pemakaman akan berlanjut dengan prosesi besar di Teheran sebelum jenazah dibawa ke Qom, kemudian ke Najaf dan Karbala di Irak, dan akhirnya dimakamkan di Kota Mashhad. Di luar prosesi resmi, sejumlah warga Iran yang diwawancarai media internasional menyatakan duka mereka atas kematian Khamenei. Mereka menilai serangan yang menewaskannya justru memperkuat rasa solidaritas nasional, meski mengakui pandangan masyarakat terhadap pemerintah tetap beragam.
Editor: Clara Salsabila
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Mentan Salurkan Bantuan Alsintan Rp1,3 Triliun ke Petani Papua Selatan untuk Dorong Pertanian Modern
Kebakaran Kecil di Jembatan Brooklyn Saat Puncak Perayaan 4 Juli, Tak Ganggu Pertunjukan Kembang Api
KRL Bekasi-Cikarang Alami Keterlambatan Akibat Kereta Bandara Tabrak Sepeda Motor di Tanah Abang
Polres Cianjur Terjunkan 60 Personel Antisipasi Kemacetan di Jalur Puncak Selama Libur Sekolah