PARADAPOS.COM - Kebakaran di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang, Banten, telah berlangsung hampir sepekan dan belum sepenuhnya padam. Pemerintah daerah dan pusat telah menetapkan status tanggap darurat sejak 1 Juli 2026, dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan bahwa 40 persen area yang terbakar sudah berhasil dipadamkan. Peristiwa ini bermula pada Selasa (30/6) lalu, dan hingga saat ini sebanyak 232 jiwa terpaksa mengungsi akibat asap pekat yang membahayakan kesehatan.
Upaya Pemadaman dari Darat dan Udara
Petugas di lapangan masih terus berjibaku melawan api yang membakar tumpukan sampah di TPA tersebut. Berdasarkan data terbaru, dari total luas area yang terbakar, 60 persen sisanya masih menyisakan titik-titik api yang belum padam, meskipun kondisi tersebut sudah bisa dikendalikan. Proses pemadaman dilakukan melalui dua jalur utama: jalur darat dengan mobil pemadam dan jalur udara menggunakan helikopter.
“Saat ini 40% dari daerah terbakar sudah padam dan dilakukan pendinginan, upaya pemadaman melalui jalur darat maupun jalur udara masih dilakukan untuk 60% daerah terbakar yang masih belum padam meski sudah bisa dikendalikan,” jelas Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, dalam keterangannya pada Minggu (5/7/2026).
Untuk mempercepat proses, BNPB mengerahkan dua helikopter water bombing sejak awal. Jumlah ini akan ditambah pada Senin (6/7) mendatang menjadi empat unit. Penambahan armada udara ini diharapkan mampu menjangkau titik-titik api yang sulit diakses dari darat.
“BNPB akan menambah 2 unit heli water bombing, sehingga total menjadi 4 unit, yang akan direposisi besok untuk mempercepat upaya pemadaman,” ungkapnya.
Kendala Cuaca dan Operasi Modifikasi
Satu tantangan besar yang dihadapi tim penanggulangan bencana adalah minimnya potensi hujan. BNPB sebenarnya telah menyiagakan satu unit pesawat untuk melakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Namun, dalam sepekan ke depan, operasi ini belum bisa dilaksanakan.
“Operasi modifikasi cuaca belum memungkinkan untuk dilakukan hingga 7 hari ke depan dikarenakan tidak adanya awan hujan yang memadai. Meskipun demikian BNPB tetap menyiagakan 1 unit pesawat OMC yang siap untuk beroperasi jika awan hujan tersedia,” tuturnya.
Kondisi ini membuat petugas di lapangan harus mengandalkan metode pemadaman konvensional dan water bombing dari udara, sembari terus memantau pergerakan angin dan cuaca yang bisa sewaktu-waktu berubah.
Dampak pada Warga: 232 Jiwa Mengungsi
Kebakaran yang tak kunjung padam selama enam hari terakhir memberikan dampak langsung bagi masyarakat di sekitar TPA. Asap tebal yang membubung tinggi memaksa warga untuk meninggalkan rumah mereka. Total tercatat 232 jiwa mengungsi ke Balai Desa Tanjakan Mekar untuk menghindari risiko gangguan pernapasan akibat paparan asap.
“232 jiwa mengungsi ke Balai Desa Tanjakan Mekar untuk menghindari dampak buruk asap pekat kebakaran,” kata Abdul Muhari.
Data dari lapangan menunjukkan komposisi pengungsi yang rentan cukup tinggi. Rinciannya meliputi 60 anak-anak, 26 balita, 7 lansia, 1 ibu hamil, 137 dewasa, dan 1 penyandang difabel. Keberadaan kelompok rentan ini menjadi perhatian khusus bagi tim evakuasi dan petugas kesehatan yang berjaga di lokasi pengungsian.
Editor: Annisa Rachmad
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Kebakaran Palmerah Hanguskan Lima Rumah, Diduga Akibat Kompor Ditinggal Menyala
Kebakaran Palmerah Hanguskan Lima Rumah, Damkar Kerahkan 13 Mobil Damkar
Gabriel Mutombo Resmi Berseragam Persib, Pilih Nomor 3 Bukan karena Kurzawa
Mentan Salurkan Bantuan Alsintan Rp1,3 Triliun ke Petani Papua Selatan untuk Dorong Pertanian Modern