PARADAPOS.COM - Presiden Amerika Serikat Donald Trump dijadwalkan menggelar pertemuan bilateral dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky dan Presiden Suriah Ahmad al-Shara di sela-sela KTT NATO yang berlangsung di Ankara, Turki. Pertemuan yang berlangsung pada Rabu sore waktu setempat ini menjadi agenda utama untuk membahas dua konflik besar yang masih berkecamuk, yaitu perang Rusia-Ukraina dan ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Pertemuan dengan Zelensky: Mencari Jalan Keluar dari Perang yang Hampir Buntu
Wakil Sekretaris Pers Anna Kelly mengonfirmasi agenda tersebut dalam sebuah panggilan telepon dengan wartawan, Senin (6/7/2026). Ia menyebutkan bahwa Trump akan bertemu langsung dengan kedua pemimpin tersebut di sela-sela pertemuan puncak NATO.
"Pada Rabu sore, Presiden Trump akan berpartisipasi dalam pertemuan bilateral dengan Presiden Zelensky dari Ukraina dan Presiden al-Sharaa dari Republik Arab Suriah," jelas Kelly.
Pertemuan Trump dengan Zelensky terjadi di tengah upaya internasional yang semakin intensif untuk mengakhiri invasi Rusia yang telah berlangsung hampir empat setengah tahun. Konflik yang nyaris buntu ini menjadi salah satu prioritas utama pemerintahan Trump.
"Presiden jelas akan bertemu dengannya untuk membicarakan bagaimana kita dapat mengakhiri perang. Itu telah menjadi prioritasnya sejak lama," ujar seorang pejabat senior AS yang berbicara dengan syarat anonim.
Pejabat yang sama menambahkan bahwa Trump berencana untuk menindaklanjuti pertemuan ini dengan menghubungi Presiden Rusia Vladimir Putin. "Trump akan menindaklanjuti dengan Presiden Rusia Vladimir Putin setelahnya," lanjut pejabat tersebut.
Pertemuan dengan al-Shara: Isu Militer di Lebanon Menghangat
Sementara itu, pertemuan dengan Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa tidak kalah penting. Trump sebelumnya berulang kali menyuarakan kekhawatiran bahwa Damaskus bisa saja terlibat secara militer di Lebanon, di mana konflik antara Israel dan Hizbullah masih berlangsung.
Namun, al-Sharaa yang pernah menjadi tamu Trump di Gedung Putih tahun lalu, telah membantah adanya niat untuk campur tangan. Pada bulan Juni lalu, ia menegaskan bahwa Suriah tidak berupaya untuk terlibat secara militer di Lebanon.
"Saya mencari saluran ekonomi antara Lebanon dan Suriah, bukan saluran militer," ungkap al-Sharaa saat itu, menekankan pendekatan diplomatik dan ekonomi ketimbang keterlibatan militer.
Suasana di Ankara menjelang pertemuan puncak terasa tegang namun penuh harapan. Para delegasi dari berbagai negara tampak sibuk berdiskusi di koridor hotel tempat KTT berlangsung. Bagi banyak pengamat, pertemuan bilateral ini menjadi ujian nyata bagi kemampuan Trump dalam menjembatani kepentingan global yang saling berbenturan.
Editor: Clara Salsabila
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Penghulu di Jakarta Selatan Pimpin Akad Nikah Tiga Bahasa: Korea, Indonesia, dan Inggris
Trump Apresiasi FIFA Cabut Sanksi Kartu Merah Balogun Jelang AS Vs Belgia di Piala Dunia 2026
KPK Tangkap 9 Kepala Daerah dalam 7 Bulan, Dua Faktor Utama Pemicu Korupsi Terungkap
Anggota DPR: Kampanye LGBT Berpotensi Menggerus Ketahanan Nasional