BPBD Catat 8 Kebakaran Hutan dan Lahan di Bangka Belitung Sepanjang Juni, Hanguskan 16 Hektare

- Senin, 06 Juli 2026 | 09:50 WIB
BPBD Catat 8 Kebakaran Hutan dan Lahan di Bangka Belitung Sepanjang Juni, Hanguskan 16 Hektare
PARADAPOS.COM - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mencatat delapan kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sepanjang Juni 2026. Peristiwa ini menghanguskan sekitar 16 hektare lahan, dengan wilayah terdampak terkonsentrasi di Kabupaten Belitung dan Belitung Timur. Musim kemarau ekstrem disebut menjadi faktor utama yang memperparah kondisi di lapangan.

Konsentrasi Kebakaran di Belitung dan Belitung Timur

Berdasarkan data dari Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops) BPBD setempat, seluruh kejadian karhutla selama bulan lalu terjadi di dua kabupaten tersebut. Luas lahan yang terbakar mencapai 16 hektare, tersebar di beberapa titik. Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Provinsi Kepulauan Babel, Sandy Aji, mengonfirmasi hal ini. “Selama Juni tahun ini, kejadian karhutla paling banyak terjadi di Belitung dan Belitung Timur,” jelasnya dalam keterangan yang dikutip pada Senin, 6 Juli 2026. Menariknya, selama periode yang sama, BPBD tidak mencatat adanya bencana alam lain seperti banjir, tanah longsor, kekeringan, atau kecelakaan kapal akibat cuaca buruk. Fokus penanganan pun sepenuhnya diarahkan pada upaya pemadaman dan pencegahan karhutla.

Praktik Pembukaan Lahan Jadi Pemicu Utama

Di lapangan, kebakaran bukan semata-mata akibat faktor alam. Sandy Aji mengungkapkan bahwa kebiasaan masyarakat setempat menjadi penyebab dominan. “Kebakaran hutan dan lahan di Pulau Belitung masih tinggi, karena adanya kebiasaan masyarakat membuka lahan pertanian dan perkebunan dengan membakar, sehingga api sulit dikendalikan selama musim kemarau ini,” ungkapnya. Selain itu, aktivitas pembakaran sampah dan kelalaian saat gotong royong membersihkan kawasan hutan kota turut memicu munculnya api. Dalam kondisi kering, api dengan cepat merambat ke area yang lebih luas. “Penyebab karhutla ini banyak disebabkan oleh warga yang membakar sampah dan membersihkan lahan pertanian, yang kemudian api merambat ke kawasan hutan sekitarnya,” ujarnya menambahkan.

Edukasi dan Imbauan Terus Digencarkan

Menghadapi situasi ini, BPBD tidak hanya bertindak reaktif. Upaya preventif terus dilakukan dengan mengintensifkan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat, baik di tingkat provinsi, kabupaten, maupun kota. Pesan utamanya sederhana: jangan membuka lahan dengan cara dibakar. Di tengah musim kemarau, risiko api menjalar sangat tinggi. “Kami mengimbau masyarakat tidak membakar lahan, karena api akan sangat mudah menjalar ke semak-semak belukar yang mengering selama musim kemarau ini,” imbaunya. Dengan pendekatan yang lebih dekat ke komunitas, BPBD berharap kesadaran warga meningkat. Sebab, di lapangan, satu percikan api bisa berubah menjadi bencana yang lebih luas jika tidak segera diantisipasi.

Editor: Clara Salsabila

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar