PARADAPOS.COM - Perdana Menteri India Narendra Modi, dalam pidatonya di Gedung DPR/RI, Jakarta, pada Selasa, 7 Juli 2026, menegaskan komitmen bersama India dan Indonesia untuk memperjuangkan kepentingan negara-negara berkembang atau Global South. Kesepakatan ini mencakup reformasi Dewan Keamanan PBB yang dinilai sudah tidak bisa ditunda, penguatan suara Global South dalam tata kelola global, serta dukungan terhadap Indo-Pasifik yang bebas dan inklusif dengan tetap menghormati sentralitas ASEAN. Modi juga mendorong Indonesia yang baru bergabung dengan BRICS untuk bersama-sama membuat kelompok tersebut lebih sensitif terhadap kebutuhan negara berkembang.
Suara Global South di Panggung Dunia
Di tengah dinamika global yang kian kompleks, Modi menyampaikan bahwa India dan Indonesia memiliki tanggung jawab besar untuk mewakili aspirasi negara-negara berkembang. Dalam pidatonya yang disambut antusias para anggota dewan, ia menekankan pentingnya kolaborasi untuk menciptakan tatanan dunia yang lebih adil.
“Bersama-sama kita akan memperkuat suara dan aspirasi Global South. Kita akan bekerja untuk dunia di mana pembangunan bersifat inklusif, teknologi bisa diakses, dan tata kelola global menjadi lebih adil dan representatif,” ujar Modi.
Pernyataan itu bukan sekadar retorika diplomatik. Konsistensi kedua negara dalam menempatkan prioritas negara berkembang ke pusat diskusi global sudah terbukti. Indonesia, misalnya, sukses menjalankan Presidensi G20 pada 2022, yang kemudian dilanjutkan oleh India pada 2023. Modi menilai kebijakan luar negeri Indonesia yang bebas aktif menjadi fondasi kokoh bagi kerja sama tersebut.
Reformasi PBB Tak Bisa Ditunda
Salah satu poin krusial yang disinggung Modi adalah reformasi Dewan Keamanan PBB. Menurutnya, tantangan global dan perubahan dunia yang begitu cepat menuntut peran lebih besar dari negara-negara berkembang.
“Secara khusus, PM Modi menegaskan reformasi Dewan Keamanan PBB tidak bisa lagi ditunda,” demikian pernyataan yang ia sampaikan di hadapan para pemimpin parlemen.
Ia menambahkan bahwa suara negara seperti India dan Indonesia harus lebih kuat dalam forum-forum multilateral. Tanpa reformasi, legitimasi dan efektivitas PBB dalam menghadapi krisis global akan terus dipertanyakan.
Indo-Pasifik dan Sentralitas ASEAN
Dalam menyikapi dinamika geopolitik dan geoekonomi di kawasan, Modi menegaskan dukungan India untuk mewujudkan Indo-Pasifik yang bebas, terbuka, dan inklusif. Prinsip ini, kata dia, harus tetap menghormati sentralitas ASEAN.
“Kebijakan Act East India juga berpusat pada ASEAN. Kemitraan strategis komprehensif India-ASEAN terus diperdalam dan semakin maju. Karena itu, penting bagi India dan Indonesia untuk terus bekerja sama erat ke arah ini,” jelasnya.
Pernyataan itu menjadi penegas bahwa meskipun India memiliki kepentingan strategis di kawasan, pendekatan yang digunakan tetap kolaboratif dan tidak mengesampingkan peran ASEAN sebagai poros utama.
BRICS dan Masa Depan Global South
Indonesia yang tahun lalu resmi menjadi anggota BRICS juga mendapat sorotan khusus. Modi mendorong agar keanggotaan Indonesia bisa dimanfaatkan untuk membuat kelompok tersebut lebih berguna, seimbang, dan sensitif terhadap kebutuhan negara-negara Global South.
“India dan Indonesia bersama-sama mewakili seperlima umat manusia. Kemitraan kita bukan sekadar tentang kemitraan dua negara tetapi juga mencerminkan kestabilan Indo-Pasifik, kekuatan Global South, dan komitmen atas masa depan bersama, yang didasarkan pada saling percaya,” tutur Modi.
Suasana di Gedung DPR/RI saat itu terasa khidmat. Para hadirin menyimak setiap kalimat yang diucapkan pemimpin negara dengan populasi terbesar di dunia itu. Di luar ruangan, bendera kedua negara berkibar berdampingan, seolah menjadi simbol dari semangat kerja sama yang tengah dibangun.
Editor: Andri Setiawan
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
9 Polisi Tewas dalam Serangan Teroris di Fasilitas Kepolisian Pakistan, Baku Tembak Berlangsung Berjam-jam
DEN Desak PLN Audit Teknis Seluruh PLTU Usai Rangkaian Pemadaman Listrik
Israel Kembali Serang Lebanon Selatan, Langgar Perjanjian yang Baru Diteken
Peradi Bersatu: Roy Suryo Jangan Bergembira Dulu, Putusan Praperadilan Tak Sentuh Pokok Perkara