Israel Kembali Serang Lebanon Selatan, Langgar Perjanjian yang Baru Diteken

- Selasa, 07 Juli 2026 | 13:50 WIB
Israel Kembali Serang Lebanon Selatan, Langgar Perjanjian yang Baru Diteken
PARADAPOS.COM - Pasukan Israel kembali melancarkan serangan ke wilayah Lebanon Selatan, hanya beberapa hari setelah kedua pihak menandatangani kesepakatan di Amerika Serikat pada 26 Juni lalu. Perjanjian itu sejatinya mengatur proses bertahap bagi tentara Lebanon untuk mengambil alih kembali kendali atas sebagian wilayah di selatan negeri tersebut. Namun, pada Senin, 6 Juli 2026, kendaraan militer Israel terlihat bergerak di jalanan Desa Hadatha, disertai laporan bahwa pasukan penjajah telah mengambil alih kendali operasional daerah itu.

Bendera Israel Berkibar di Atas Rumah Warga

Suasana di Hadatha pagi itu tidak biasa. Beberapa kendaraan lapis baja melintas di antara bangunan-bangunan desa yang tampak sepi. Dari salah satu rumah, terlihat jelas bendera Israel berkibar—sebuah pemandangan yang langsung memantik ketegangan di kalangan warga setempat. Suara tembakan sesekali terdengar menggema di lembah-lembah sekitar. Pihak Israel menuding wilayah Hadatha sebagai pusat aktivitas teror Hizbullah. Tuduhan ini menjadi justifikasi utama atas operasi militer yang berlangsung di tengah pelanggaran terhadap perjanjian yang baru saja diteken.

Kesepakatan yang Mulai Dipertanyakan

Perjanjian yang ditandatangani di Washington itu sebenarnya disambut sebagai secercah harapan bagi stabilitas kawasan. Dalam dokumen tersebut, kedua belah pihak sepakat untuk menarik pasukan secara bertahap dan memberi ruang bagi tentara Lebanon untuk memulihkan kedaulatan di selatan. Namun, serangan terbaru ini membuat banyak pengamat mempertanyakan komitmen Israel terhadap isi perjanjian. Belum ada pernyataan resmi dari pihak Lebanon atau mediator internasional terkait insiden ini. Yang jelas, langkah militer Israel di Hadatha menjadi sinyal bahwa proses perdamaian masih sangat rapuh.

Dampak di Lapangan dan Respons Masyarakat

Di tingkat lapangan, warga Hadatha hidup dalam ketidakpastian. Beberapa di antaranya memilih mengungsi ke desa-desa tetangga, sementara yang lain bertahan di rumah masing-masing dengan rasa cemas. "Kami tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Yang kami tahu, perjanjian itu sepertinya tidak berarti apa-apa," ujar seorang warga setempat yang enggan disebut namanya. Sementara itu, militer Israel belum memberikan pernyataan resmi mengenai durasi operasi di Hadatha. Yang terlihat, patroli kendaraan dan personel masih terus berlangsung hingga sore hari.

Editor: Yuli Astuti

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar