Ratusan Ribu Warga Iran Iringi Pemakaman Ayatollah Khamenei di Tengah Seruan Perlawanan terhadap AS dan Israel

- Selasa, 07 Juli 2026 | 19:00 WIB
Ratusan Ribu Warga Iran Iringi Pemakaman Ayatollah Khamenei di Tengah Seruan Perlawanan terhadap AS dan Israel
PARADAPOS.COM - Ratusan ribu hingga jutaan rakyat Iran membanjiri ibu kota Teheran pada Senin, 6 Juli 2026, dalam sebuah prosesi penghormatan dan pemakaman bagi Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Suasana duka nasional yang khidmat itu diwarnai isak tangis yang bercampur dengan kemarahan, terutama setelah seruan perlawanan terhadap Amerika Serikat dan Israel menggema di sepanjang rute iring-iringan. Jenazah Khamenei beserta empat anggota keluarganya yang gugur dalam serangan pada 28 Februari 2026 lalu diarak menggunakan truk, dikawal ketat oleh aparat keamanan. Laporan dari lapangan menggambarkan lautan manusia yang membawa bendera Iran dan foto-foto sang pemimpin. Mereka berjejer di sepanjang jalan utama, dari Jalan Damavand di Teheran Timur hingga Alun-alun Azadi di Teheran Barat. Empat anggota keluarga yang turut gugur adalah Bushra Khamenei, Misbah al-Hoda Bagheri, Zahra Hadad-Adel, dan sang cucu perempuan, Zahra Mohammadi Golpayegani.

Tiga Tahap Salat Jenazah di Grand Mosalla

Rangkaian upacara pemakaman tingkat negara ini dijadwalkan berlangsung selama sepekan, sejak 3 hingga 9 Juli 2026. Pusat kegiatan berada di kompleks keagamaan Grand Mosalla, Teheran. Di sana, Panglima Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Ahmad Vahidi, turut hadir dalam prosesi persemayaman dan salat jenazah. Prosesi salat jenazah dilakukan dalam tiga tahap secara berurutan. Tahap pertama dikhususkan untuk penghormatan jenazah Ali Khamenei. Tahap kedua ditujukan untuk Bushra Khamenei, Misbah al-Hoda Bagheri, dan Zahra Hadad-Adel. Sementara tahap ketiga diperuntukkan bagi jenazah cucu beliau, Zahra Mohammadi Golpayegani. Setiap tahap dipimpin oleh ulama senior dan diikuti dengan bacaan doa yang khusyuk.

Tuntutan Perang dari Tengah Duka

Kepergian sang pemimpin tidak hanya menyisakan duka mendalam, tetapi juga memicu eskalasi kemarahan publik yang sulit dibendung. Di tengah isak tangis, teriakan tuntutan perang terdengar jelas dari barisan pelayat. Banyak warga secara terbuka mendesak pemerintah untuk segera melancarkan serangan balasan yang setimpal terhadap Israel dan AS. "Kita tidak bisa berbicara dengan mereka (Israel dan AS). Kita sudah beberapa kali bernegosiasi, namun pada akhirnya mereka justru membunuh pemimpin kami. Satu-satunya dialog yang bisa kita lakukan dengan mereka adalah melalui perang," ujar Sumaya, seorang warga yang ikut dalam prosesi, dengan suara bergetar menahan amarah. Setelah prosesi salat selesai, iring-iringan jenazah bergerak menyusuri rute panjang yang telah ditentukan. Dari Jalan Damavand di Teheran Timur, rombongan melewati Alun-alun Imam Hossein, Alun-alun Revolusi, hingga akhirnya tiba di Alun-alun Azadi di Teheran Barat, dan berakhir di Jalan Tol Syahid Laskari. Kontributor di lapangan melaporkan bahwa masyarakat masih terus bertahan di jalanan hingga menjelang malam, membacakan syair duka dan orasi perlawanan. Selanjutnya, seluruh jenazah diberangkatkan menuju Kota Qom untuk prosesi penghormatan dan pemakaman lebih lanjut.

Editor: Wahyu Pradana

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar