PARADAPOS.COM - Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat mendorong percepatan penguatan kompetensi guru demi mewujudkan sistem pendidikan inklusif di Indonesia. Ia menekankan perlunya strategi komprehensif dan data akurat untuk mengatasi kesenjangan antara kebutuhan dan ketersediaan guru kompeten, terutama bagi anak berkebutuhan khusus. Data Kemendikdasmen per September 2025 mencatat 363.921 murid disabilitas, namun hanya sekitar 15 persen dari 60.910 satuan pendidikan penyelenggara pendidikan inklusif yang memiliki Guru Pembimbing Khusus.
Kesenjangan Kompetensi Guru di Lapangan
Dalam keterangan tertulisnya pada Jumat, 10 Juli 2026, Rerie—sapaan akrab Lestari Moerdijat—menyoroti bahwa hambatan terbesar saat ini adalah tingginya kesenjangan antara kebutuhan guru kompeten dengan ketersediaan di lapangan. Hal ini menjadi persoalan serius, terutama bagi tenaga pendidik yang menangani anak-anak berkebutuhan khusus.
“Perlu strategi yang komprehensif untuk mempercepat kompetensi guru dalam menjalankan sistem pendidikan yang inklusif,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa jumlah Guru Pembimbing Khusus yang masih minim menjadi titik kritis yang harus segera dibenahi. Dari total satuan pendidikan inklusif yang ada, sebagian besar belum memiliki tenaga pendamping khusus yang memadai.
Data dan Target Pelatihan Nasional
Pemerintah, melalui Kemendikdasmen, telah mencanangkan program pelatihan bagi 1.500 guru di 25 provinsi sepanjang tahun 2026 untuk mencapai tingkat mahir. Rerie yang juga anggota Komisi X DPR RI dari Dapil Jateng II itu menyambut baik langkah ini, namun mengingatkan bahwa angka tersebut masih jauh dari kebutuhan nasional.
“Ini bukan hanya soal kuantitas, tetapi juga kualitas kompetensi yang harus dikejar,” tegasnya.
Berdasarkan data Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan, saat ini tercatat 2.663 guru telah memenuhi syarat sebagai kandidat peserta. Potensi tambahan mencapai 5.129 calon peserta baru melalui skema penyetaraan. Namun, Rerie menilai target tersebut baru sebagian kecil dari total kebutuhan di seluruh Indonesia.
Perlunya Konsistensi dan Pendekatan Holistik
Anggota Majelis Tinggi Partai Nasdem itu meminta pemerintah untuk lebih konsisten dan agresif dalam merealisasikan program peningkatan kompetensi. Menurutnya, program pelatihan yang sudah diluncurkan adalah langkah awal yang baik, tetapi jangan berhenti di situ.
“Program pelatihan yang diluncurkan Kemendikdasmen adalah langkah awal yang baik, tetapi jangan berhenti di situ. Kita perlu melihat rasio ideal,” katanya.
Ia menekankan bahwa peningkatan kompetensi guru tidak boleh bersifat teknis semata. Guru adalah agen perubahan yang harus memiliki kemampuan berpikir kritis dan rasa kemanusiaan yang mendalam.
Guru sebagai Ujung Tombak Pendidikan Inklusif
Rerie mengingatkan bahwa keberhasilan pendidikan inklusif sangat bergantung pada kemampuan guru dalam memahami kebutuhan setiap anak. Metode pembelajaran harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing murid, bukan sebaliknya.
“Mereka harus mendapat dukungan semua pihak agar mampu menerjemahkan filosofi pendidikan nasional ke dalam praktik pembelajaran yang inklusif dan adaptif, terutama di era digital ini,” pungkasnya.
Di tengah tantangan era digital, guru dituntut tidak hanya menguasai materi, tetapi juga mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan individual siswa. Dukungan dari semua pihak, termasuk pemerintah, masyarakat, dan orang tua, menjadi kunci untuk mewujudkan pendidikan yang benar-benar inklusif bagi seluruh anak Indonesia.
Editor: Bagus Kurnia
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Pengemudi Calya Rusak Spion Mini Cooper di Sunter karena Emosi Salip-menyalip, Ditangkap Polisi
BNPT dan Jaga Tunas Indonesia Gelar Kemah Bela Negara di Garut untuk Bentengi Pelajar dari Radikalisme Digital
Harga iPhone Lipat Pertama Apple Bocor: Dibanderol Rp36 Juta, Rilis Bersama iPhone 18 Pro
Jenazah Rachmat Gobel Dimakamkan di TMP Kalibata, JK hingga Jimly Hadir