Wakil Ketua MPR Dorong Percepatan Kompetensi Guru demi Pendidikan Inklusif, Soroti Minimnya Guru Pembimbing Khusus

- Jumat, 10 Juli 2026 | 09:50 WIB
Wakil Ketua MPR Dorong Percepatan Kompetensi Guru demi Pendidikan Inklusif, Soroti Minimnya Guru Pembimbing Khusus
PARADAPOS.COM - Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat mendorong percepatan penguatan kompetensi guru demi mewujudkan sistem pendidikan inklusif di Indonesia. Ia menekankan perlunya strategi komprehensif dan data akurat untuk mengatasi kesenjangan antara kebutuhan dan ketersediaan guru kompeten, terutama bagi anak berkebutuhan khusus. Data Kemendikdasmen per September 2025 mencatat 363.921 murid disabilitas, namun hanya sekitar 15 persen dari 60.910 satuan pendidikan penyelenggara pendidikan inklusif yang memiliki Guru Pembimbing Khusus.

Kesenjangan Kompetensi Guru di Lapangan

Dalam keterangan tertulisnya pada Jumat, 10 Juli 2026, Rerie—sapaan akrab Lestari Moerdijat—menyoroti bahwa hambatan terbesar saat ini adalah tingginya kesenjangan antara kebutuhan guru kompeten dengan ketersediaan di lapangan. Hal ini menjadi persoalan serius, terutama bagi tenaga pendidik yang menangani anak-anak berkebutuhan khusus. “Perlu strategi yang komprehensif untuk mempercepat kompetensi guru dalam menjalankan sistem pendidikan yang inklusif,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa jumlah Guru Pembimbing Khusus yang masih minim menjadi titik kritis yang harus segera dibenahi. Dari total satuan pendidikan inklusif yang ada, sebagian besar belum memiliki tenaga pendamping khusus yang memadai.

Data dan Target Pelatihan Nasional

Pemerintah, melalui Kemendikdasmen, telah mencanangkan program pelatihan bagi 1.500 guru di 25 provinsi sepanjang tahun 2026 untuk mencapai tingkat mahir. Rerie yang juga anggota Komisi X DPR RI dari Dapil Jateng II itu menyambut baik langkah ini, namun mengingatkan bahwa angka tersebut masih jauh dari kebutuhan nasional. “Ini bukan hanya soal kuantitas, tetapi juga kualitas kompetensi yang harus dikejar,” tegasnya. Berdasarkan data Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan, saat ini tercatat 2.663 guru telah memenuhi syarat sebagai kandidat peserta. Potensi tambahan mencapai 5.129 calon peserta baru melalui skema penyetaraan. Namun, Rerie menilai target tersebut baru sebagian kecil dari total kebutuhan di seluruh Indonesia.

Perlunya Konsistensi dan Pendekatan Holistik

Anggota Majelis Tinggi Partai Nasdem itu meminta pemerintah untuk lebih konsisten dan agresif dalam merealisasikan program peningkatan kompetensi. Menurutnya, program pelatihan yang sudah diluncurkan adalah langkah awal yang baik, tetapi jangan berhenti di situ. “Program pelatihan yang diluncurkan Kemendikdasmen adalah langkah awal yang baik, tetapi jangan berhenti di situ. Kita perlu melihat rasio ideal,” katanya. Ia menekankan bahwa peningkatan kompetensi guru tidak boleh bersifat teknis semata. Guru adalah agen perubahan yang harus memiliki kemampuan berpikir kritis dan rasa kemanusiaan yang mendalam.

Guru sebagai Ujung Tombak Pendidikan Inklusif

Rerie mengingatkan bahwa keberhasilan pendidikan inklusif sangat bergantung pada kemampuan guru dalam memahami kebutuhan setiap anak. Metode pembelajaran harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing murid, bukan sebaliknya. “Mereka harus mendapat dukungan semua pihak agar mampu menerjemahkan filosofi pendidikan nasional ke dalam praktik pembelajaran yang inklusif dan adaptif, terutama di era digital ini,” pungkasnya. Di tengah tantangan era digital, guru dituntut tidak hanya menguasai materi, tetapi juga mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan individual siswa. Dukungan dari semua pihak, termasuk pemerintah, masyarakat, dan orang tua, menjadi kunci untuk mewujudkan pendidikan yang benar-benar inklusif bagi seluruh anak Indonesia.

Editor: Bagus Kurnia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar