PARADAPOS.COM - Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2026 pada 23 Juli mendatang akan difokuskan pada perlindungan anak di empat ruang utama aktivitas mereka: keluarga, sekolah, publik, dan digital. Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) merancang rangkaian acara yang selaras dengan Gerakan Nasional Ruang Aman dan Nyaman untuk Anak (Gernas RANA). Tahun ini, perayaan tidak lagi terpusat di satu lokasi, melainkan didesentralisasi ke berbagai daerah agar dampaknya lebih merata dan menyentuh anak-anak di seluruh Indonesia.
Empat Ruang Prioritas Perlindungan Anak
Asisten Deputi Penyediaan Layanan Anak yang Memerlukan Perlindungan Khusus (Layanan AMPK) Kemen PPPA, Ciput Purwianti, menjelaskan bahwa tema besar tahun ini adalah memastikan keamanan anak di ruang-ruang yang paling sering mereka masuki.
"Secara tematik ingin memastikan di empat ruang di mana anak banyak beraktivitas itu dan aman bagi anak dalam Gernas RANA," ujarnya kepada awak media, Rabu, 15 Juli 2026.
Empat ruang yang dimaksud meliputi lingkungan keluarga, sekolah, tempat umum, dan dunia digital. Menurut Ciput, pendekatan ini lahir dari kebutuhan untuk menciptakan ekosistem yang benar-benar aman, bukan hanya sekadar seremonial belaka.
Rangkaian Kegiatan dan Nuansa Perayaan
Kemen PPPA menyiapkan sembilan agenda utama dalam perayaan HAN 2026. Mulai dari peluncuran Gernas RANA, Kampanye Bulan Berlian, Jelajah SAPA, Lokakarya FAN, hingga Goes to Istana Negara Jakarta. Ada pula Gerak Bersama Anak Indonesia, Kemudi Anak, Main Raya Anak Nusantara, dan Kunjungan AMPK ke Dufan.
"Ada banyak kegiatan yang sifatnya ceria dan gembira bagi anak karena temanya Sayang anak, Lindungi anak, Bangun Masa Depan," jelasnya.
Suasana perayaan memang dirancang penuh keceriaan. Namun, di balik itu, pemerintah menekankan pentingnya partisipasi aktif anak dalam setiap proses. Bukan sekadar menjadi penonton, anak-anak didorong untuk turut merancang dan menjalankan kegiatan.
Perayaan Terdesentralisasi: Dari Pusat ke Akar Rumput
Salah satu perubahan signifikan tahun ini adalah model perayaan yang terdesentralisasi. Ciput menuturkan, langkah ini diambil agar peringatan Hari Anak Nasional tidak lagi terasa elitis dan jauh dari jangkauan anak-anak di daerah.
"Model peringatan yang terpusat, meskipun memiliki nilai simbolis yang penting, mungkin membatasi keterlibatan langsung dan berdampak nyata bagi anak-anak," katanya.
Ia menambahkan, pendekatan ini memungkinkan setiap daerah menyesuaikan perayaan dengan budaya lokal masing-masing. Dengan begitu, anak-anak dari Sabang sampai Merauke bisa merasakan pengalaman yang relevan dan bermakna.
"Ini mengubah acara dari sebuah tontonan yang bersifat top-down menjadi gerakan yang tumbuh dari akar rumput," tuturnya.
Surat Edaran dan Libatkan Anak dalam Perancangan
Pemerintah telah menerbitkan Surat Edaran ke berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah dan dunia usaha, untuk ikut menyemarakkan HAN 2026. Ciput berpesan agar perayaan tidak didominasi oleh orang dewasa.
"Jadi harapannya tanggal 23 Juli nanti banyak kegiatan-kegiatan peringatan hari anak yang sifatnya gerak aktif buat anak. Jadi anak ada di situ, bukan orang dewasa," ucapnya.
Dengan pendekatan yang lebih inklusif dan partisipatif, HAN 2026 diharapkan mampu meninggalkan jejak nyata dalam kehidupan anak-anak Indonesia, bukan sekadar seremoni tahunan yang berlalu begitu saja.
Editor: Reza Pratama
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Pramono Anung Pastikan LPDP Jakarta Beroperasi 2027, Beasiswa ke Luar Negeri untuk Siswa Kurang Mampu
Delapan Pelabuhan Nasional Raih Penghargaan Green and Smart Port ASRI 2026
Anggota DPRD DKI Desak Evaluasi Total Seluruh JPO di Jakarta Usai Insiden Roboh di Tendean
Menteri PU Dody Hanggodo Tantang Publik Buktikan Hubungan Kekerabatan dengan Komisaris PT PP, Hadiahkan Umrah Gratis