PARADAPOS.COM - Inspektorat DKI Jakarta meminta pengurus RT, RW, PKK, Dharma Wanita, dan Karang Taruna menjadi garda terdepan dalam mencegah judi online. Kepala Inspektorat DKI Jakarta, Dhanny Sukma, menilai kelompok ini paling dekat dengan warga sehingga strategis untuk melakukan intervensi. Langkah ini diambil menyusul tren peningkatan kasus judi online yang mencapai 150 ribu pada tahun terakhir berdasarkan data PPATK.
Pendekatan Komunitas Jadi Andalan
Dhanny Sukma menekankan bahwa efektivitas pencegahan akan lebih maksimal jika dilakukan melalui pendekatan komunitas. Setiap lembaga kemasyarakatan memiliki target sasaran spesifik untuk mempersempit ruang gerak aktivitas judi digital ini.
“Langkah selanjutnya adalah mengajak seluruh stakeholders (pemangku kepentingan), bukan hanya ASN (Aparatur Sipil Negara), tetapi juga ada RT, RW, PKK, Karang Taruna dan Dharma Wanita untuk sama-sama kita melakukan upaya intervensi,” ujar Dhanny di Jakarta Barat, Rabu, 15 Juli 2026.
Ia merinci pembagian peran tersebut. “Seperti RT, RW, kelompok sasarannya adalah warga di lingkungan. PKK, kelompok sasarannya adalah keluarga. Dharma Wanita adalah lebih banyak kepada istri-istri ASN yang juga memiliki peran penting untuk melakukan upaya pencegahan,” jelasnya.
Membangun Interaksi Sosial untuk Menekan Judi Online
Dhanny menambahkan bahwa intervensi pencegahan dapat dimulai dengan membangun interaksi aktif terhadap warga yang terindikasi bermain judi online. Pengurus lingkungan didorong untuk memperbanyak kegiatan kolektif agar warga tidak terisolasi secara individual di dalam rumah.
“Mengajak warga masyarakatnya, tidak membiarkan mereka melakukan aktivitas individual di dalam rumah, tetapi melakukan aktivitas sosial untuk sama-sama berinteraksi. Nah, kalau sudah interaksi, sudah saling mengenal, kalau sudah saling mengenal, nanti harapannya ada trust (rasa percaya),” tuturnya.
Rasa saling percaya di tingkat akar rumput ini dinilai krusial agar para pelaku judi online dapat dirangkul dan dibantu lepas dari kecanduan. Terlebih sebelum mereka terjerat masalah keuangan yang lebih pelik.
“Ketika ada trust, akan muncul kesadaran tinggi bahwa ini adalah persoalan kita bersama, khususnya terkait dengan pinjaman online, karena dampaknya judi online akan semakin meluas,” ungkapnya.
Lonjakan Kasus yang Mengkhawatirkan
Berdasarkan data Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), lonjakan kasus judi online di wilayah DKI Jakarta menunjukkan tren yang mengkhawatirkan dari tahun ke tahun.
“Trennya itu selalu meningkat dari tahun ke tahun, seperti tahun 2023, kita dapatkan data dari PPATK, sebanyak 80 ribu. Di tahun berikutnya, dua kali lipat, sampai di angka mencapai 150-an. Begitu pula dengan tahun berikutnya,” papar Dhanny.
Sinergi dari unit sosial terkecil pun dinilai menjadi kunci utama untuk meredam dampak buruk judi online. Saat ini, dampak tersebut sudah mulai merusak ketahanan ekonomi keluarga.
“Termasuk juga berdampak ke konflik keluarga, konflik ekonomi di keluarga, juga maupun secara lebih luas lagi,” kata Dhanny.
Editor: Clara Salsabila
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Koperasi Merah Putih Mulai Beroperasi di Jakarta Timur, Raup Untung Tipis Lewat Efisiensi Pasokan
Kualitas Udara di Jabodetabek Memburuk, Kadar PM2,5 Tiga Kali Lipat dari Ambang Aman WHO
Lima Titik Ketidakpastian Hukum dalam Penanganan Kasus Mantan Jampidsus Febrie Adriansyah
Harga Minyak Dunia Melonjak Akibat Eskalasi Konflik AS-Iran di Selat Hormuz