Jakarta Barat Serahkan 7 Kg Ikan Sapu-sapu Hasil Operasi ke-12 untuk Pakan Magot dan Penelitian

- Jumat, 17 Juli 2026 | 16:50 WIB
Jakarta Barat Serahkan 7 Kg Ikan Sapu-sapu Hasil Operasi ke-12 untuk Pakan Magot dan Penelitian
PARADAPOS.COM - Suku Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (KPKP) Jakarta Barat baru saja menyerahkan hasil tangkapan ikan sapu-sapu kepada dinas terkait untuk dimanfaatkan sebagai pakan magot dan bahan penelitian. Langkah ini merupakan bagian dari operasi ke-12 yang digelar di wilayah Jakarta Barat, di mana petugas berhasil mengamankan tujuh kilogram ikan invasif tersebut dari Kali Banjir Kanal Barat, Jatipulo, Palmerah, pada Jumat, 17 Juli 2026. Kegiatan ini menjadi tindak lanjut dari arahan Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, untuk mengendalikan populasi ikan sapu-sapu yang mengancam ekosistem perairan ibu kota.

Penyerahan untuk Pakan Magot dan Riset

“Hasil tangkapan diserahkan kepada Dinas PPKUKM DKI Jakarta untuk dimanfaatkan sebagai bahan pakan maggot dan penelitian,” jelas Kepala Sudin KPKP Jakarta Barat, Betty Rahmawati. Menurutnya, pemanfaatan ikan sapu-sapu sebagai pakan magot menjadi solusi yang cukup efektif. Selain mengurangi limbah organik, langkah ini juga mendukung kebutuhan riset terkait pengendalian spesies invasif di perairan Jakarta.

Operasi di Kali Banjir Kanal Barat

Operasi penangkapan kali ini berlangsung di Kali Banjir Kanal Barat yang melintasi kawasan Jatipulo, Palmerah. Betty menambahkan bahwa kegiatan tersebut merupakan respons langsung terhadap instruksi Gubernur untuk menekan populasi ikan sapu-sapu yang terus meningkat. “Operasi ini melibatkan 18 personel gabungan dengan dukungan perahu karet milik UPS Badan Air Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta,” ungkapnya. Tim gabungan bekerja sejak pagi hari, menyisir aliran sungai yang kerap menjadi habitat utama ikan tersebut. Meskipun hanya tujuh kilogram yang berhasil ditangkap, upaya ini dinilai penting sebagai langkah preventif.

Ancaman Ikan Sapu-sapu bagi Ekosistem

Ikan sapu-sapu dikenal memiliki sifat invasif yang cukup agresif. Spesies ini tidak hanya memangsa telur ikan lain, tetapi juga merusak infrastruktur sungai. Kebiasaannya membuat lubang pada dinding turap menyebabkan struktur tersebut cepat rapuh dan rawan longsor. Selain itu, ikan sapu-sapu kerap diburu oleh oknum tertentu untuk diolah menjadi makanan seperti siomay. Padahal, daging ikan ini berpotensi mengandung bakteri berbahaya seperti E. coli atau Salmonella, serta logam berat seperti timbal yang dapat membahayakan kesehatan manusia. Dengan adanya penyerahan hasil tangkapan ke dinas terkait, diharapkan pemanfaatan ikan sapu-sapu bisa lebih terarah dan tidak menimbulkan risiko baru bagi masyarakat.

Editor: Andri Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar