PARADAPOS.COM - Kepolisian China pada Selasa (18/8) mengumumkan langkah tegas terhadap maraknya misinformasi dan konten rekayasa berbasis kecerdasan buatan (AI) yang menyasar kasus kecelakaan kendaraan. Pengumuman ini merupakan bagian dari operasi pemberantasan rumor daring yang bertujuan melindungi hak dan kepentingan sah kalangan bisnis. Dari total 14 kasus yang dirilis divisi keamanan siber Kementerian Keamanan Publik China, AI tercatat hadir dalam beberapa di antaranya, baik sebagai alat untuk memanipulasi konten maupun sebagai subjek dari klaim palsu yang beredar. AI Jadi Alat Baru Penyebar Rumor Fenomena ini menunjukkan pergeseran modus operandi dalam penyebaran informasi palsu. Jika sebelumnya hoaks disebar melalui teks atau foto editan sederhana, kini pelaku memanfaatkan kecanggihan AI untuk menciptakan narasi yang tampak meyakinkan. Kepolisian China menyoroti beberapa contoh konkret yang berhasil diungkap, di mana teknologi ini digunakan untuk menyesatkan publik dan mencemarkan nama baik perusahaan. Kasus di Shangqiu: Video Kecelakaan Palsu Salah satu kasus yang menonjol terjadi di Shangqiu, Provinsi Henan, China tengah. Pihak kepolisian setempat mengungkap bahwa seorang pria bermarga Xue telah menggunakan perangkat AI untuk memproduksi video palsu. Video tersebut sengaja dirancang untuk menggambarkan sebuah kecelakaan mobil yang dramatis, lalu diunggah ke Douyin, platform berbagi video yang sangat populer di China. Langkah ini jelas bertujuan untuk menarik perhatian publik dan menyebarkan kepanikan tanpa dasar. Dua Kasus Serupa di Yangzhou: Menyerang Reputasi Perusahaan Sementara itu, di Yangzhou, Provinsi Jiangsu, China timur, kepolisian menangani dua kasus yang memiliki kemiripan. Dalam kasus pertama, seorang pria menyebarkan klaim palsu bahwa sebuah video resmi perusahaan yang menampilkan manuver drifting adalah hasil rekayasa AI. Ia juga menuduh sebuah kendaraan otonom telah menabrak seorang petugas kebersihan—sebuah informasi yang sama sekali tidak benar. Kasus kedua di kota yang sama hampir identik. Seorang pria lainnya juga merekayasa klaim serupa, menyebut video resmi perusahaan sebagai buatan AI dan mengaitkannya dengan kecelakaan yang melibatkan kendaraan otonom dan petugas kebersihan. Pola yang berulang ini menunjukkan adanya upaya terkoordinasi atau setidaknya tren yang mengkhawatirkan dalam memanfaatkan isu teknologi untuk menyerang kredibilitas korporasi. Dampak dan Sanksi Hukum Pihak kepolisian menuturkan bahwa tindakan-tindakan semacam ini tidak hanya merusak reputasi perusahaan-perusahaan yang menjadi sasaran, tetapi juga produk-produk mereka. Lebih jauh lagi, hal ini menimbulkan kekhawatiran yang tidak perlu di kalangan pengguna dan konsumen. Kepercayaan publik terhadap teknologi baru, seperti kendaraan otonom, bisa tergerus hanya karena ulah segelintir oknum yang tidak bertanggung jawab. Konsekuensi hukum pun telah dijatuhkan. Dalam sebagian besar kasus yang terungkap, para individu yang terlibat dikenai sanksi administratif. Namun, ada satu orang yang harus berhadapan dengan proses hukum lebih lanjut karena menghadapi tuntutan pidana. Ini menjadi sinyal keras bahwa pemerintah China serius dalam menindak pelanggaran di ruang siber, terutama yang memanfaatkan teknologi canggih untuk tujuan destruktif.