Gempa NTT Rusak 502 Sekolah, 177 Ribu Murid Terdampak

- Kamis, 20 Agustus 2026 | 10:50 WIB
Gempa NTT Rusak 502 Sekolah, 177 Ribu Murid Terdampak

PARADAPOS.COM - Gempa bumi yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) menimbulkan dampak signifikan pada sektor pendidikan. Berdasarkan data terbaru, tercatat 1.378 satuan pendidikan di tujuh kabupaten terdampak, dengan 502 sekolah di antaranya mengalami kerusakan berat. Peristiwa ini memengaruhi aktivitas belajar mengajar bagi 177.678 murid serta 21.166 guru dan tenaga kependidikan di wilayah tersebut. Angka Kerusakan dan Dampak Langsung Data yang dihimpun dari Sekretariat Nasional Satuan Pendidikan Aman Bencana menunjukkan skala kerusakan yang cukup luas. Tenaga Ahli dan Perwakilan Sekretaris Nasional Satuan Pendidikan Aman Bencana, Jamjam Muzaki, memaparkan temuan di lapangan mengenai kondisi fasilitas pendidikan pascagempa. "Dari 8.664 ruang kelas yang terdata, 5.521 rusak, 2.229 di antaranya rusak berat," kata Jamjam dalam konferensi pers, Kamis, 20 Agustus 2026. Kerusakan tidak hanya terbatas pada ruang kelas. Sejumlah fasilitas pendukung pendidikan seperti laboratorium, perpustakaan, sanitasi, hingga rumah dinas guru juga turut mengalami kerusakan akibat guncangan tanah yang kuat. Gangguan Proses Belajar Mengajar Kondisi ini memaksa pemerintah untuk mengambil langkah darurat demi keselamatan warga sekolah. Saat ini, proses pembelajaran bagi 116.324 murid terganggu akibat kerusakan infrastruktur dan kekhawatiran akan gempa susulan yang masih terus berlangsung. "Pembelajaran mengikuti kebijakan Gubernur NTT untuk dilaksanakan dari rumah dan di tempat pengungsian agar menghindari bangunan yang berpotensi roboh dan melukai karena gempa susulan terus berlangsung," ujarnya. Kebijakan ini diambil sebagai langkah antisipatif mengingat aktivitas seismik yang masih tinggi. Para orang tua dan guru diimbau untuk memprioritaskan keselamatan anak-anak dibandingkan mengejar ketertinggalan materi pelajaran. Skema Pembelajaran Darurat Menghadapi situasi yang tidak menentu ini, berbagai skema pembelajaran darurat pun diterapkan. Jamjam merinci, sebanyak 923 satuan pendidikan menerapkan pembelajaran dari rumah. Kemudian, 171 satuan pendidikan melaksanakan pembelajaran secara daring, 35 sekolah menggunakan sekolah darurat, dan 30 sekolah masih menerapkan pembelajaran tatap muka. Keberagaman metode ini menunjukkan upaya adaptasi cepat dari pihak sekolah di tengah keterbatasan. Sebagian sekolah yang masih melaksanakan tatap muka tentu telah melalui asesmen ketat terkait keamanan bangunannya. Upaya Penanganan dan Pendataan Pemerintah dan pihak terkait terus melakukan pendataan serta penanganan terhadap satuan pendidikan yang terdampak. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan keselamatan warga sekolah di tengah aktivitas gempa susulan yang masih berlangsung. Tim gabungan dari berbagai instansi masih bekerja di lapangan untuk melakukan asesmen menyeluruh. Pendataan yang akurat menjadi kunci utama dalam menentukan langkah rehabilitasi dan rekonstruksi yang tepat sasaran ke depannya.

Editor: Dian Lestari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar