Rosan Roeslani Hadiri Resepsi HUT Singapura ke-61, Tekankan Komitmen Perkuat Kerja Sama Bilateral Menuju 60 Tahun Diplomasi

- Kamis, 20 Agustus 2026 | 11:25 WIB
Rosan Roeslani Hadiri Resepsi HUT Singapura ke-61, Tekankan Komitmen Perkuat Kerja Sama Bilateral Menuju 60 Tahun Diplomasi

PARADAPOS.COM - Kedutaan Besar Singapura di Jakarta menggelar resepsi diplomatik di Shangri-La Jakarta, Rabu, 19 Agustus 2026, dalam rangka memperingati Hari Nasional Singapura yang ke-61. Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus CEO Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, hadir sebagai tamu kehormatan dalam acara yang dijamu langsung oleh Duta Besar Singapura untuk Indonesia, Kwok Fook Seng. Malam itu, sorotan utama tertuju pada pemutaran video berisi cuplikan Pertemuan Pemimpin (Leaders' Retreat) Singapura-Indonesia yang digelar pada 6 Juli 2026, menegaskan komitmen bersama Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Lawrence Wong dalam mempererat hubungan bilateral kedua negara. Resepsi ini bukan sekadar perayaan seremonial. Lewat sambutan dan tayangan yang disuguhkan, tersirat pesan kuat tentang arah masa depan kerja sama kedua negara yang kian meluas, dari sektor tradisional menuju bidang-bidang strategis baru. Tahun 2027 pun sudah disiapkan sebagai tonggak bersejarah, saat Indonesia dan Singapura akan bersama-sama memperingati enam dekade hubungan diplomatik. Momen Refleksi dan Arah Baru Hubungan Bilateral Dalam keterangan resmi yang diterima awak media, Kamis, 20 Agustus 2026, pihak Kedutaan Besar Singapura menyebutkan bahwa peringatan 60 tahun hubungan diplomatik pada 2027 mendatang akan menjadi momentum penting. “Tonggak sejarah ini akan menjadi kesempatan untuk merayakan persahabatan jangka panjang antara kedua negara dan menentukan arah bagi fase hubungan bilateral selanjutnya,” sebut pernyataan Kedutaan Besar Singapura. Pernyataan itu diamini oleh Rosan Roeslani dalam pidatonya. Ia menegaskan bahwa bagi Indonesia, Singapura bukanlah sekadar tetangga geografis. Keduanya terikat erat oleh sejarah, budaya, dan kemasyarakatan yang saling memengaruhi. Keterikatan itulah yang menurutnya terus memupuk persahabatan erat yang dinikmati kedua negara hingga hari ini. Lebih dari Sekadar Investasi Di sela-sela acara, terlihat bagaimana hubungan ekonomi menjadi fondasi yang tak tergoyahkan. Rosan menyoroti posisi Singapura yang konsisten sebagai sumber investasi asing langsung terbesar bagi Indonesia. Ia pun memuji perjalanan Singapura selama enam dekade terakhir sebagai sebuah kisah tentang ketangguhan, inovasi, dan pembangunan bangsa yang patut dicontoh. Kini, di tengah dinamika global, Singapura berdiri sebagai pusat global untuk perdagangan, keuangan, teknologi, dan inovasi. Namun, Rosan menekankan bahwa kerja sama bilateral sudah jauh melampaui sekadar arus modal tradisional. “Kini, kerja sama kita telah melampaui investasi tradisional. Kita bekerja sama dalam industri hilirisasi, energi terbarukan, infrastruktur digital, konektivitas, jasa keuangan, dan pengembangan sumber daya manusia. Hasil dari Pertemuan Pemimpin (Leaders’ Retreat) Indonesia-Singapura baru-baru ini semakin menunjukkan komitmen bersama kita untuk mengubah peluang menjadi proyek nyata dan manfaat konkret bagi masyarakat kedua negara,” tutur Rosan. Menghadapi Era Ekonomi Global yang Baru Rosan juga mengingatkan bahwa ekonomi global tengah memasuki babak baru yang penuh tantangan. Fokus dunia saat ini, katanya, tertuju pada ketahanan rantai pasok, ketahanan energi, inovasi teknologi, infrastruktur digital, dan pertumbuhan berkelanjutan. “Pada saat yang sama, ekonomi global sedang memasuki era baru. Dunia semakin berfokus pada ketahanan rantai pasok, ketahanan energi, inovasi teknologi, infrastruktur digital, dan pertumbuhan berkelanjutan. Negara-negara yang mampu menghadirkan stabilitas, kemitraan tepercaya, dan peluang investasi jangka panjang akan berada pada posisi terbaik untuk meraih keberhasilan di tengah lanskap yang terus berubah ini,” imbuhnya. Menurutnya, Indonesia dan Singapura adalah mitra alami yang saling melengkapi. Indonesia menawarkan peluang besar dalam pengembangan industri, hilirisasi, energi terbarukan, infrastruktur digital, dan ekonomi kecerdasan buatan (AI) masa depan. Sementara Singapura membawa keahlian kelas dunia di bidang keuangan, teknologi, inovasi, dan konektivitas internasional. Jika keduanya bersinergi, kemitraan ini tidak hanya akan saling menguntungkan, tetapi juga memperkuat daya saing dan ketahanan jangka panjang ASEAN. Menatap Enam Dekade ke Depan Menutup pidatonya, Rosan kembali menegaskan pentingnya momen bersejarah yang akan datang. Ia mengajak kedua bangsa untuk memandang tahun 2027 sebagai sebuah refleksi sekaligus batu loncatan. “Tahun depan (2027), kedua negara kita akan merayakan tonggak sejarah penting: 60 tahun hubungan diplomatik di bawah naungan RISING 60. Ini adalah kesempatan untuk merefleksikan perjalanan panjang yang telah kita lalui, sekaligus menatap masa depan yang lebih kuat,” ujarnya. Ia pun menutup dengan nada optimistis yang mendalam. Keyakinannya terhadap masa depan kemitraan ini terasa jelas dalam setiap kalimat yang diucapkannya. “Saya sangat yakin bahwa babak terbaik dari kemitraan kita masih terbentang di depan mata. Dengan kepercayaan, rasa saling menghormati, dan visi bersama untuk masa depan, kedua negara kita akan terus tumbuh, berinovasi, dan meraih kemakmuran bersama,” ungkapnya. “Semoga Singapura terus maju dan berkembang. Semoga persahabatan antara Indonesia dan Singapura terus terjalin erat dan semakin berkembang. Dan semoga kemitraan kita terus menghadirkan kemakmuran yang lebih besar bagi rakyat kita,” pungkas Rosan mengakhiri sambutannya, disambut suasana hangat para undangan yang memenuhi ruangan.

Editor: Reza Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar