PARADAPOS.COM - Gelombang kritik terhadap manuver politik Presiden Joko Widodo (Jokowi) terkait revisi Undang-Undang KPK semakin meluas. Tidak hanya datang dari kalangan masyarakat sipil, tetapi juga mulai disuarakan oleh partai-partai politik, termasuk yang selama ini menjadi pendukung pemerintah. Analis menilai langkah politik Jokowi mulai kehilangan daya pikat dan mudah diprediksi, menandai pergeseran dinamika di akhir masa jabatannya.
Respons Kritis dari Partai Koalisi
Suara ketidakpuasan mulai terdengar dari dalam internal koalisi pemerintah. Sekretaris Jenderal Partai Golkar, Sarmuji, secara terbuka menyoroti sikap Jokowi yang dinilai berusaha melepas tangan dari perubahan UU KPK. Kritik serupa dilontarkan oleh politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Abdullah, yang menyatakan ketidaksetujuannya dengan sikap Presiden tersebut.
“Enak saja Jokowi mau lepas tangan terhadap perubahan UU KPK,” ujar Abdullah, menyampaikan pandangannya.
Analisis: Daya Pikat Politik yang Memudar
Direktur ABC Riset & Consulting, Erizal, memberikan analisis yang lebih mendalam mengenai situasi ini. Menurutnya, fenomena ini menunjukkan bahwa Jokowi mulai kehilangan pengaruh, tidak hanya di mata Presiden terpilih Prabowo Subianto, tetapi juga di kalangan partai politik dan masyarakat sipil secara lebih luas.
“Jokowi rajanya, kok bisa-bisanya berakting layaknya punggawa,” tutur Erizal, menggambarkan penurunan citra tersebut.
Ia melanjutkan bahwa pola langkah politik Jokowi kini terlihat lebih transparan dan mudah ditebak, berbeda dengan strategi yang seringkali penuh kejutan di masa lalu. Erizal menduga, hal ini terjadi karena banyak pihak yang memilih untuk diam dan mengamati, sementara Jokowi terlihat sangat aktif melakukan berbagai manuver.
“Langkah politik Jokowi mulai mudah dibaca. Tidak seperti dulu lagi,” jelasnya.
Menunggu Momen yang Tepat
Erizal memprediksi bahwa respons terhadap berbagai manuver terakhir Jokowi mungkin belum sepenuhnya terlihat. Para pengamat dan aktor politik lain, menurutnya, mungkin sedang menunggu waktu yang tepat untuk bergerak.
“Besar kemungkinan orang baru akan mulai di saat Jokowi sudah selesai dan kehabisan segalanya,” ungkap Erizal, menyiratkan bahwa puncak reaksi politik baru akan muncul ketika kekuasaan Jokowi benar-benar berakhir.
Analisis ini menggarisbawahi suasana transisi kekuasaan yang dinamis, di mana posisi dan pengaruh seorang pemimpin yang akan lengser mulai diuji oleh sekutu maupun oposisi. Perkembangan ini patut dicermati untuk memahami arah politik nasional dalam beberapa bulan mendatang.
Artikel Terkait
Pengamat: Prabowo Santai Hadapi Manuver Politik Jokowi karena Paham Polanya
Rocky Gerung Kritik Alokasi Anggaran Pendidikan dan Fenomena Pelembagaan di Forum Yogyakarta
Pengamat Soroti Lima Indikator Keretakan Hubungan Politik Jokowi-Prabowo
Rocky Gerung Serukan Jaga Tradisi Intelektual Kritis Yogyakarta dari Intervensi Politik