Pakar IPDN Nilai 10 Tahun Pemerintahan Jokowi sebagai yang Terburuk dalam Sejarah

- Minggu, 12 April 2026 | 23:50 WIB
Pakar IPDN Nilai 10 Tahun Pemerintahan Jokowi sebagai yang Terburuk dalam Sejarah

PARADAPOS.COM - Sebuah penilaian keras dilontarkan oleh seorang pakar pemerintahan terhadap sepuluh tahun kepemimpinan Presiden Joko Widodo. Dalam sebuah podcast yang tayang Senin, 13 April 2026, Guru Besar Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) Prof. Ryaas Rasyid menyatakan periode tersebut sebagai yang terburuk dalam sejarah Republik Indonesia. Pernyataan ini disampaikan dengan menyoroti sejumlah isu, mulai dari tata kelola pemerintahan hingga dugaan praktik korupsi.

Pernyataan Kritis dari Pakar Pemerintahan

Kritik tajam itu disampaikan Prof. Ryaas Rasyid, yang juga pernah menjabat sebagai Menteri Negara Otonomi Daerah, dalam acara podcast Madilog yang diunggah di kanal YouTube Forum Keadilan TV. Dengan latar belakang keilmuannya di bidang pemerintahan, Rasyid memberikan analisis yang berangkat dari pengamatan panjang terhadap dinamika politik dan birokrasi di Indonesia.

“Jadi memang kesimpulan saya dari dulu tetap saya anggap (masih) berlaku bahwa pemerintahan Jokowi itu adalah pemerintahan paling buruk yang pernah kita miliki sepanjang sejarah,” tegas Rasyid.

Dasar Tudingan dan Beberapa Contoh Kasus

Dalam paparannya, Ryaas Rasyid merinci beberapa alasan di balik penilaiannya yang keras tersebut. Ia menyoroti kondisi kepemimpinan, manajemen negara, serta maraknya korupsi sebagai titik masalah utama selama satu dekade terakhir.

“Jadi sepuluh tahun terakhir itu hancur-hancuran, BUMN hancur, utang berlipat ganda yang sampai sekarang masih anda rasakan semua. Nah itu tidak ada pertanggungjawaban,” bebernya.

Lebih lanjut, ia menyinggung soal dugaan markup dalam sejumlah proyek strategis. Salah satu contoh yang ia angkat adalah proyek kereta cepat Whoosh, yang menurutnya sarat dengan masalah hingga menimbulkan polemik berkepanjangan.

“Jadi ini (Whoosh) luar biasa korupsinya. Itu pun dilindungi oleh Pak Prabowo. Ketika Purbaya berusaha mengangkat itu dan mau melempar itu yang bukan sebagai tanggung jawab pemerintah, Pak Prabowo malam muncul, berusaha mengambil alih. Bagaimana bisa mengambil alih sesuatu yang bermasalah?” tandasnya.

Pernyataan Prof. Ryaas Rasyid ini tentu menjadi bahan perdebatan publik, mengingat sifatnya yang sangat kontroversial dan menyentuh periode kepemimpinan yang baru saja berakhir. Analisis dari figur dengan kredensial akademis dan praktis seperti dirinya memberikan dimensi tersendiri dalam evaluasi terhadap kinerja pemerintahan suatu periode.

Editor: Wahyu Pradana

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar