PARADAPOS.COM - Pengamat kebijakan publik, politik, dan hukum, Damai Hari Lubis, memproyeksikan tahun ini sebagai titik panas persaingan politik nasional. Dalam analisisnya, ia menyebut situasi ini sebagai fase “pra-perang antara dua kubu” yang ditandai dengan masuknya tokoh oposisi lama ke lingkar kekuasaan dan potensi pergantian Kapolri. Melalui siaran pers yang diterima redaksi, Lubis menguraikan sejumlah indikator yang menurutnya akan memicu konflik terbuka dalam waktu dekat.
Indikator Awal dari Lingkar Kekuasaan
Lubis menyoroti penunjukan Jumhur sebagai menteri. Ia menyebut figur tersebut sebagai “orang yang merasa pernah teraniaya pada rezim terdahulu”. Tak hanya itu, kedekatan rekan-rekan seperti Nainggolan dengan lingkaran penguasa saat ini juga dinilai sebagai sinyal yang tak bisa diabaikan.
“Tanda-tanda ajang peperangan terbuka tersebut akan serius menjelma ketika Kapolri saat ini diganti,” tulisnya dalam pernyataan resmi.
Menurut Lubis, pergantian pucuk pimpinan Kepolisian RI bisa menjadi pemicu utama yang membuka pertarungan secara lebih gamblang.
Perbandingan dengan Dinamika Politik Masa Lalu
Dalam analisisnya, Lubis menarik paralel dengan sejarah politik Indonesia. Ia mengingatkan bahwa hanya satu presiden yang pernah kalah dalam pertarungan politik terbuka, yaitu Gus Dur. Namun, ia menekankan bahwa konteks saat ini berbeda secara fundamental.
“Saat Gus Dur dengan PKB-nya yang mengalami perpecahan internal melawan PDIP yang solid bersama oposisi lain, kini yang diincar bukan kursi RI-1, melainkan kursi Wakil Presiden, dengan tujuan mengkandaskan kekuatan politik di belakang RI-2 untuk jangka panjang,” ujarnya.
Pergeseran target ini, menurut Lubis, menunjukkan bahwa strategi politik para aktor kini lebih bersifat jangka panjang dan terstruktur.
Proyeksi Peta Kekuatan di Senayan
Lubis juga memproyeksikan adanya pergeseran aliansi di parlemen. Ia melihat kemungkinan Partai Gerindra sebagai partai penguasa utama berkoalisi dengan PDIP. Ia menyebut PDIP saat ini berposisi sebagai oposisi terhadap pribadi Jokowi dan Gibran—dua figur yang memiliki “dendam historis”.
Di sisi lain, Partai Golkar diprediksi akan tetap memainkan peran sebagai safety player, sebagaimana yang kerap dilakukan partai tersebut dalam berbagai periode politik.
Namun, Lubis mengingatkan bahwa Jokowi masih memiliki “senjata andalan”. Ia menyebutnya sebagai “segudang kartu as” yang tidak main-main terhadap hampir semua tokoh politik dan anggota kabinet saat ini.
“Kartu-kartu merah transparansi yang dibuka, dibarengi kerumunan dengan jumlah berlipat ganda dari peristiwa yang melahirkan guncangan besar pada republik, melebihi model aksi Agustus 2025,” paparnya.
Faktor Ekonomi dan Dukungan Modal Besar
Analisis Lubis juga menyentuh dimensi ekonomi. Ia menyoroti dukungan dari “9 naga” yang menguasai perekonomian nasional. Kelompok ini, menurutnya, senang dengan metode politik “anak emas” gaya kepemimpinan Jokowi.
Ironisnya, Lubis menilai hal ini justru akan memperparah kondisi ekonomi yang saat ini mulai menunjukkan tanda-tanda “red flag”. Depresiasi rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dan dampaknya terhadap daya beli masyarakat menjadi salah satu indikator yang ia soroti.
Peringatan bagi Rakyat di Tengah Ketidakpastian
Apapun hasil akhir dari dinamika politik yang tengah berlangsung, Lubis memberikan peringatan tegas. Ia menekankan bahwa pihak yang paling dirugikan dalam skenario apapun adalah rakyat biasa.
“Siapapun yang bakal ‘winner’, korban kelak adalah mayoritas rakyat bangsa ini, utamanya kelas ekonomi menengah dan masyarakat miskin kota,” tegasnya.
Siaran pers ini mencerminkan kekhawatiran yang mendalam akan polarisasi politik yang semakin tajam dan potensi instabilitas ekonomi sebagai dampak sampingannya. Hingga berita ini diturunkan, belum ada respons resmi dari pihak-pihak yang disebutkan dalam analisis Damai Hari Lubis.
Editor: Dian Lestari
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Harga MinyaKita Tembus Rp22 Ribu, Pengamat Nilai Ada Celah Distribusi dan Kegagalan Pengawasan
Menkeu Purbaya Hardik Deputi Kemenko Pangan Soal Regulasi Baru yang Hambat Proyek PLTSa Makassar
Said Didu Sebut Kelompok Pendukung Jokowi, Bukan Oposisi, yang Ingin Jatuhkan Prabowo
Analis Prediksi Pilpres 2029 Diramaikan Wajah Baru dan Bayang-Bayang Penantang