Aqua Terbongkar! Ini Fakta di Balik Dugaan Skandal Pembohongan Publik

- Jumat, 24 Oktober 2025 | 03:50 WIB
Aqua Terbongkar! Ini Fakta di Balik Dugaan Skandal Pembohongan Publik

Skandal Aqua Terbongkar: Sumber Air Ternyata dari Sumur Bor, Bukan Pegunungan

Danone Indonesia, produsen air minum dalam kemasan Aqua, didesak untuk bertanggung jawab atas dugaan pembohongan publik terkait sumber air produknya. Tuntutan ini muncul setelah Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke salah satu pabrik Aqua di Subang.

Dalam sidak tersebut, terungkap fakta mengejutkan bahwa sumber air mineral Aqua ternyata berasal dari sumur bor, bukan dari pegunungan murni seperti yang selama ini diklaim dalam iklan dan jargon perusahaan.

Aqua Dinilai Harus Bertanggung Jawab Secara Hukum dan Moral

Direktur Pusat Riset Politik, Hukum dan Kebijakan Indonesia (PRPHKI), Saiful Anam, menegaskan bahwa Aqua harus mempertanggungjawabkan tindakan ini. "Saya kira harus dipertanggungjawabkan secara hukum dan moral oleh Aqua, terlebih Aqua adalah merk yang sangat dikenal oleh publik," tegas Anam.

Anam menyoroti kontradiksi antara temuan di lapangan dengan klaim pemasaran Aqua. Menurutnya, jika terbukti menggunakan air sumur bor, maka Aqua telah memberikan contoh buruk sebagai merek ternama, karena hal ini sangat berbeda dengan jargon Aqua yang mengklaim sumber air berasal dari pegunungan murni 100 persen.

Desakan untuk Usut Tuntas Skandal Pembohongan Publik

Sebagai dosen Pascasarjana Universitas Sahid Jakarta, Anam mendorong pemerintah untuk segera mengusut tuntas dugaan skandal ini. Tidak hanya untuk Aqua, tetapi juga sebagai peringatan bagi merek-merek lain yang berpotensi melakukan pembohongan publik serupa.

Insiden ini memunculkan pertanyaan besar mengenai keaslian sumber air minum kemasan yang dikonsumsi masyarakat sehari-hari dan transparansi dari para pelaku industri.

Sumber: RMOL

Editor: Yoga Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar