Mantan Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto Dikecam Usai Beri Nama Sarkastis pada Kucing yang Dianggap Hina Prabowo

- Sabtu, 13 Juni 2026 | 14:50 WIB
Mantan Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto Dikecam Usai Beri Nama Sarkastis pada Kucing yang Dianggap Hina Prabowo

PARADAPOS.COM - Mantan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada (UGM), Tiyo Ardianto, kembali menjadi sorotan publik. Ia dinilai menghina Presiden Prabowo Subianto setelah menceritakan kisah seekor kucing yang ia selamatkan dan beri nama sarkastis “Prabodoh Subiantolol”. Pernyataan yang disampaikan dalam sebuah video yang beredar luas di media sosial itu memicu reaksi keras dari sejumlah tokoh, termasuk mantan Menteri Pemuda dan Olahraga, Adhyaksa Dault. Hingga berita ini diturunkan, Tiyo belum memberikan tanggapan resmi terkait polemik yang terus bergulir.

Kisah Kucing dan Nama Sarkastis yang Memicu Kontroversi

Dalam video yang ramai diperbincangkan, Tiyo Ardianto bercerita tentang pengalamannya merawat seekor kucing liar yang menderita penyakit scabies atau kudis. Ia menggambarkan kondisi hewan tersebut dengan cukup detail. “Saya lihat ada kucing yang scabies, gemuk sekali badannya, tapi kepalanya itu dihinggapi jamur scabies yang membuat dia jadi nggak bisa melihat,” tuturnya.

Tanpa ragu, ia kemudian memberikan nama yang langsung mengundang perdebatan. “Saya kasih nama kucing itu Prabodoh Subiantolol,” ujarnya dalam pernyataan yang sama. Nama itu jelas merupakan plesetan dari nama Presiden Prabowo Subianto.

Pernyataan tersebut disampaikan Tiyo dalam konteks kritik terhadap pemerintahan Prabowo. Ia menyoroti sejumlah kebijakan, khususnya program Makan Bergizi Gratis (MBG), serta gaya kepemimpinan presiden. Tiyo, yang kini tercatat sebagai mahasiswa Program Studi Ilmu Filsafat UGM, dikenal vokal mengkritik kebijakan pemerintah sejak masa jabatannya sebagai Ketua BEM UGM periode 2025.

Reaksi Keras Adhyaksa Dault: “Ini Bukan Kritik Lagi”

Mantan Menpora Adhyaksa Dault menjadi salah satu tokoh yang paling lantang mengecam pernyataan Tiyo. Ia menilai ucapan tersebut sudah melampaui batas kritik yang wajar dan berubah menjadi penghinaan langsung terhadap kepala negara.

“Astagfirullah… ini bukan kritik lagi, ini penghinaan,” kata Adhyaksa dalam responsnya yang beredar di media sosial dan platform berita. Ia menekankan bahwa sebagai mantan pemimpin organisasi mahasiswa ternama seperti BEM UGM, Tiyo seharusnya menjaga etika dalam menyampaikan aspirasi.

Menurut Adhyaksa, sikap Tiyo tidak lagi mencerminkan suara mahasiswa yang konstruktif. Ia menilai pernyataan itu lebih bersifat provokatif dan hanya mencari popularitas pribadi. Reaksi keras ini mendapat dukungan dari sebagian warganet yang melihat pernyataan Tiyo sebagai bentuk ketidakpantasan terhadap Presiden Prabowo Subianto.

Respons Publik dan Sorotan terhadap Kampus

Polemik ini juga menarik perhatian pengacara kondang Hotman Paris Hutapea. Ia mempertanyakan langkah apa yang akan diambil pihak rektorat UGM terhadap alumnusnya tersebut. Hotman menilai dampak dari pernyataan Tiyo cukup serius, terutama terhadap citra kampus di mata publik.

Sementara itu, situasi di lapangan mulai memanas. Beberapa kelompok massa dilaporkan turun ke kampus UGM untuk mengecam Tiyo. Mereka membawa spanduk yang menyatakan bahwa suara Tiyo tidak mewakili seluruh mahasiswa UGM. Suasana di sekitar kampus pun menjadi ramai, meski tidak ada insiden berarti yang dilaporkan.

Hingga berita ini diturunkan, Tiyo Ardianto belum memberikan respons resmi terhadap kritik yang dialamatkan kepadanya. Polemik ini semakin mempertajam perbedaan pandangan antara kelompok pendukung pemerintah dan kalangan aktivis mahasiswa yang kritis terhadap kebijakan Prabowo. Kasus ini menjadi pengingat bagi publik tentang batas antara kebebasan berpendapat dan penghinaan terhadap institusi kepresidenan di era pemerintahan saat ini.

Editor: Annisa Rachmad

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler