BPBD Lumajang Imbau Warga Tingkatkan Kewaspadaan Usai Gunung Semeru Luncurkan Awan Panas

- Minggu, 14 Juni 2026 | 16:50 WIB
BPBD Lumajang Imbau Warga Tingkatkan Kewaspadaan Usai Gunung Semeru Luncurkan Awan Panas
PARADAPOS.COM - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, mengeluarkan imbauan kewaspadaan bagi warga menyusul aktivitas Gunung Semeru yang masih berada di Level III (Siaga). Imbauan ini menyusul luncuran awan panas guguran (APG) yang terekam pada Sabtu malam, 13 Juni 2026, dan menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan masyarakat. Hingga saat ini, belum ada laporan dampak langsung terhadap permukiman atau warga, namun potensi ancaman tetap ada dan perlu diantisipasi secara terukur.

Aktivitas Terkini dan Status Siaga

Berdasarkan laporan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) periode pengamatan 14 Juni 2026 pukul 12.00 hingga 18.00 WIB, aktivitas vulkanik Gunung Semeru masih terekam melalui sejumlah kegempaan. Status gunung berapi tertinggi di Pulau Jawa itu pun belum berubah, tetap pada Level III (Siaga) dengan rekomendasi yang sama. Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Lumajang, Isnugroho, menegaskan bahwa peristiwa APG pada Sabtu malam itu menjadi sinyal nyata bagi semua pihak. "Aktivitas Gunung Semeru sempat disertai awan panas guguran pada Sabtu malam, 13 Juni, menjadi pengingat pentingnya kesiapan masyarakat dalam menghadapi potensi ancaman bencana secara terukur dan tidak berlebihan," jelasnya pada Minggu, 14 Juni 2026.

Koordinasi dan Pemantauan di Lapangan

Setiap informasi terkini mengenai perkembangan Gunung Semeru langsung ditindaklanjuti melalui koordinasi erat dengan Pos Pengamatan Gunung Api Semeru, pemerintah desa, serta relawan kebencanaan. Langkah ini dilakukan untuk memastikan kondisi di lapangan terpantau secara berkelanjutan dan responsif terhadap perubahan aktivitas. Selain pemantauan, BPBD juga gencar memperkuat penyebarluasan informasi kepada masyarakat melalui berbagai saluran komunikasi. Tujuannya agar warga memperoleh data yang cepat, akurat, dan dapat dipertanggungjawabkan, sehingga tidak mudah terpengaruh oleh kabar yang belum terverifikasi. “Kesadaran masyarakat untuk mengikuti rekomendasi yang telah ditetapkan menjadi bagian penting dalam upaya mengurangi risiko bencana. Karena itu kami terus mengajak masyarakat untuk tetap waspada dan mengutamakan informasi resmi,” ujarnya.

Rekomendasi PVMBG dan Imbauan Warga

Isnugroho mengingatkan agar masyarakat mematuhi rekomendasi yang telah ditetapkan PVMBG. Beberapa poin penting yang perlu diperhatikan antara lain larangan aktivitas di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan sesuai radius yang ditentukan, serta larangan beraktivitas dalam radius lima kilometer dari puncak kawah. "Masyarakat diimbau untuk tetap mematuhi rekomendasi PVMBG, antara lain tidak melakukan aktivitas di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan sesuai radius yang telah ditetapkan, tidak beraktivitas dalam radius lima kilometer dari puncak kawah, serta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi awan panas, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di Gunung Semeru," paparnya. Ia menambahkan, kewaspadaan juga perlu ditingkatkan terhadap potensi awan panas, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu dari Gunung Semeru.

Membangun Budaya Tangguh Bencana

Lebih jauh, Isnugroho menekankan pentingnya literasi kebencanaan sebagai modal utama dalam membangun ketangguhan masyarakat. Pemahaman yang baik mengenai potensi risiko, jalur evakuasi, dan langkah mitigasi akan membantu warga mengambil keputusan yang tepat saat terjadi peningkatan aktivitas vulkanik. Ia mengimbau masyarakat untuk tidak panik, namun tetap waspada dengan mengikuti arahan petugas di lapangan. "Melalui penguatan kesiapsiagaan, kepatuhan terhadap rekomendasi kebencanaan, serta pemanfaatan informasi resmi sebagai rujukan utama, diharapkan masyarakat semakin siap menghadapi berbagai potensi risiko sekaligus memperkuat budaya tangguh bencana di Kabupaten Lumajang," tuturnya. Dengan langkah-langkah ini, diharapkan keselamatan diri, keluarga, dan lingkungan sekitar dapat terlindungi secara optimal.

Editor: Yuli Astuti

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini