Integrasi BUMN Karya Ditarget Rampung 2026, Waskita Karya Buka Opsi Go Private

- Selasa, 04 November 2025 | 21:50 WIB
Integrasi BUMN Karya Ditarget Rampung 2026, Waskita Karya Buka Opsi Go Private

Integrasi BUMN Karya: Target Rampung 2026 dan Opsi Go Private Waskita

Pemerintah telah memulai persiapan integrasi BUMN Karya, dengan proses kajian yang ditargetkan selesai paling lambat pada tahun 2026. Rencana konsolidasi ini bertujuan untuk menciptakan struktur holding yang lebih kuat di sektor konstruksi.

Rencana Pembentukan Tiga Holding BUMN Karya

Kementerian BUMN merencanakan pembentukan tiga holding BUMN Karya. Rencana tersebut meliputi penggabungan PT Wijaya Karya (WIKA) dengan PT PP (PTPP). Selanjutnya, PT Adhi Karya (ADHI) akan menjadi induk bagi PT Brantas Abipraya dan PT Nindya Karya. Sementara itu, PT Waskita Karya (WSKT) direncanakan akan dilebur dengan PT Hutama Karya.

Kajian Ulang dan Timeline Integrasi Hingga 2026

Direktur Utama Waskita Karya, Muhammad Hanugroho, mengungkapkan bahwa konsolidasi akan dikaji ulang bersama Danareksa melalui konsultan independen. Dalam Public Expose 2025, Hanugroho menegaskan bahwa proses integrasi BUMN Karya ini ditargetkan tereksekusi paling lambat pada tahun 2026.

Tujuan Strategis Integrasi BUMN Konstruksi

Konsolidasi ini dinilai penting untuk memperkuat peran BUMN Karya dalam mempercepat pembangunan infrastruktur nasional. Dengan integrasi, sumber daya akan lebih terpusat dan efektif, meningkatkan efisiensi dan kapabilitas dalam menangani proyek-proyek strategis negara.

Bentuk Korporasi dan Opsi Go Private Waskita

Bentuk spesifik aksi korporasi masih menunggu instruksi pemegang saham. Beberapa opsi yang sedang dipertimbangkan adalah struktur holding-subholding, penggabungan (merger), atau perubahan status menjadi anak usaha. Hanugroho juga membuka kemungkinan perubahan status perusahaan terbuka Waskita Karya, termasuk opsi go private, yang semuanya bergantung pada hasil final kajian konsolidasi.

Pendekatan Nilai Wajar dalam Integrasi

Dalam proses integrasi, Hanugroho menegaskan akan menggunakan pendekatan nilai wajar (fair value) untuk memastikan nilai aset setiap entitas mencerminkan kondisi pasar yang sebenarnya, meski mengakui adanya potensi penurunan nilai aset akibat konsolidasi.

Editor: Laras Wulandari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar