Prospek Saham ERAA 2025: Analis REKOMENDASI BELI, Target Rp600!

- Rabu, 29 Oktober 2025 | 16:50 WIB
Prospek Saham ERAA 2025: Analis REKOMENDASI BELI, Target Rp600!
Prospek Saham ERAA 2025: Ekspansi ke F&B & Kendaraan Listrik - Analis Rekomendasi BUY

Analis Rekomendasikan BUY Saham ERAA, Target Harga Rp600

PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA) secara agresif memperluas bisnisnya dengan masuk ke sektor makanan dan minuman (F&B) serta kendaraan listrik (electric vehicle/EV). Ekspansi ini menjadi pendorong utama prospek saham ERAA yang dinilai solid untuk paruh kedua 2025.

Erajaya Buka Gerai Baru Chagee dan Paris Baguette

Perusahaan telah mengonkretkan rencananya dengan membuka dua gerai F&B baru pada akhir Oktober 2025, yaitu concept store teh Chagee di Bekasi dan gerai Paris Baguette di Depok, Jawa Barat. Langkah ini menunjukkan komitmen ERAA dalam diversifikasi portofolio di luar bisnis inti perangkat genggam.

UOB Kay Hian Pertahankan Rekomendasi BELI untuk ERAA

Analis UOB Kay Hian, Willinoy Sitorus, menyatakan prospek Erajaya tetap kuat. Dalam risetnya, UOB Kay Hian mempertahankan rekomendasi BUY untuk saham ERAA dengan target harga Rp600 per saham.

Target harga tersebut didasarkan pada rasio Price-to-Earnings (PE) 7,7 kali, yang sejalan dengan rata-rata historis saham ERAA pada periode 2020–2025.

Diversifikasi F&B untuk Raih Margin Lebih Tinggi

Willinoy menilai diversifikasi ERAA ke sektor F&B merupakan langkah strategis untuk memperoleh margin yang lebih tinggi dibandingkan bisnis smartphone. Lini Food and Nourishment, termasuk Chagee dan Paris Baguette, menunjukkan perkembangan yang sesuai jadwal dengan pembukaan gerai-gerai baru.

Eksekusi Ekspansi Berjalan dengan Baik

Eksekusi ERAA dinilai menunjukkan bahwa peta jalan ekspansi berjalan dengan baik. Manajemen perusahaan dianggap konsisten dalam pandangannya untuk mempertahankan pertumbuhan dua digit dari bisnis di luar smartphone.

Rekomendasi beli ini didukung oleh proyeksi pertumbuhan penjualan yang solid dan ekspansi vertikal perseroan sepanjang tahun 2025. Pada penutupan perdagangan Rabu, 29 Oktober 2025, saham ERAA tercatat menguat 2,36 persen ke level Rp434.

Editor: Yoga Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Artikel Terkait

Rekomendasi

JOKO Widodo alias Jokowi sudah lengser. Tak lagi punya kekuasaan. Presiden bukan, ketua partai juga bukan. Di PDIP, Jokowi pun dipecat. Jokowi dipecat bersama anak dan menantunya, yaitu Gibran Rakabuming Raka dan Bobbby Nasution. Satu paket. Anak bungsu Jokowi punya partai, tapi partainya kecil. Yaitu Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Partai gurem ini tidak punya anggota di DPR RI. Di Pemilu 2024, partai yang dipimpin Kaesang ini memperoleh suara kurang dari empat persen. Pada posisi seperti ini, apakah Jokowi lemah? Jangan buru-buru menilai bahwa Jokowi lemah. Lalu anda yakin bisa penjarakan Jokowi? Sabar! Semua ada penjelasan ilmiahnya. Semua ada hitung-hitungan politiknya. Manusia satu ini unik. Lain dari yang lain. Langkah politiknya selalu misterius. Tak mudah ditebak. Publik selalu terkecoh dengan manuvernya. Anda tak pernah menyangka Gibran jadi walikota, lalu jadi wakil presiden sebelum tugasnya sebagai walikota selesai. Anda tak pernah menyangka Kaesang jadi ketum PSI. Prosesnya begitu cepat. Tak ada yang prediksi Airlangga Hartarto mundur mendadak dari ketum Golkar. Anda juga tak pernah menyangka suara PDIP dan Ganjar Pranowo dibuat seragam yaitu 16 persen di Pemilu 2024. Persis sesuai yang diinginkan Jokowi. Anda nggak pernah sangka UU KPK direvisi. UU Minerba diubah. Desentralisasi izin tambang diganti jadi sentralisasi lagi. Omnibus Law lahir. IKN dibangun. PIK 2 jadi PSN. Bahkan rektor universitas dipilih oleh menteri. Ini out of the box. Nggak pernah ada di pikiran rakyat. Tapi, semua dengan begitu mudah dibuat. Mungkin anda nggak pernah berpikir mobil Esemka itu bodong. Anda juga nggak pernah menyangka ketua FPI dikejar dan akan dieksekusi oleh aparat di jalanan. Juga nggak pernah terlintas di pikiran ada Panglima TNI dicopot di tengah jalan. Ini semua adalah langkah out of the box. Tak pernah terlintas di kepala anda. Di kepala siapa pun. Ketika anda berpikir Jokowi melemah pasca lengser, ternyata orang-orang Jokowi masuk kabinet. Jumlahnya masih cukup banyak dan signifikan. Ketua KPK, Jaksa Agung dan Kapolri sekarang adalah orang-orang yang dipilih di era Jokowi. Ketika anda tulis Adili Jokowi di berbagai tempat, Kaesang, anak Jokowi justru pakai kaos putih bertuliskan Adili Jokowi. Pernahkah Anda menyangka ini akan terjadi? Teriakan Adili Jokowi kalah kuat gaungnya dengan teriakan Hidup Jokowi. Ini tanda apa? Jelas: Jokowi masih kuat dan masih punya kesaktian. Semoga pemimpin zalim seperti Jokowi Allah hancurkan. inilah doa sejumlah ustaz yang seringkali kita dengar. Apakah Jokowi hancur? Tidak! Setidaknya hingga saat ini. Esok? Nggak ada yang tahu. Dan kita bukan juru ramal yang pandai menebak masa depan nasib orang. Kalau cuma 1.000 sampai 2.000 massa yang turun ke jalan untuk adili Jokowi, nggak ngaruh. Ngaruh secara moral, tapi gak ngaruh secara politik. Beda kalau satu-dua juta mahasiswa duduki KPK, itu baru berimbang. Emang, selain 1998, pernah ada satu-dua juta mahasiswa turun ke jalan? Belum pernah! Massa mahasiswa, buruh dan aktivis saat ini belum menemukan isu bersama. Isu Adili Jokowi tidak terlalu kuat untuk mampu menghadirkan satu-dua juta massa. Kecuali ada isu lain yang menjadi triggernya. Contoh? Gibran ngebet jadi presiden dan bermanuver untuk menggantikan Prabowo di tengah jalan, misalnya. Ini bisa memantik kemarahan massa untuk terkonsentrasi kembali pada satu isu. Contoh lain: ditemukan bukti yang secara meyakinkan mengungkap kejahatan dan korupsi Jokowi, misalnya. Ini bisa jadi trigger isu. Ini baru out of the box vs out of the box. Tagar Adili Jokowi bisa leading. Kalau cuma omon-omon, ya cukup dihadapi oleh Kaesang yang pakai kaos Adili Jokowi. Demo Adili Jokowi lawannya cukup Kaesang saja. Jokowi terlalu tinggi untuk ikut turun dan menghadapinya. Sampai detik ini, Jokowi masih terlalu perkasa untuk dihadapi oleh 1.000-2.000 massa yang menuntutnya diadili. rmol.id *Penulis adalah Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa

Terkini